DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 120 MENUAI HASIL


__ADS_3

Ningsih menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan itu mengajak Damar, suami Mira berkeliling menuju ke beberapa restoran milik Galang.


Perempuan itu sungguh terkejut saat mendapati beberapa restoran yang biasa dikunjunginya ternyata sudah tutup. Tidak ada satu pun restoran yang masih buka.


"Kan aku sudah bilang sama Mama, kalau restoran Galang sekarang sudah banyak yang tutup." Mira menatap sang ibu dengan kesal.


"Mama tidak yakin kalau Galang benar-benar menutup semua restorannya. Jumlah restoran dia itu sangat banyak, tidak mungkin Galang langsung bangkrut hanya karena Mama mengambil uang restoran beberapa milyar saja."


"Beberapa milyar saja Mama bilang?" pekik Mira, menatap tak percaya pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Tidak usah berteriak, Mira. Kau sangat tahu, kalau uang itu juga Mama pakai untuk menghidupi kalian. Kamu pikir, dari mana kemewahan yang kalian dapatkan selama ini?" Ningsih tak kalah kesal.


"Tapi Mama sudah keterlaluan, Ma! Mama bukan hanya menghabiskan uang itu untuk kami, tapi Mama juga memakai uang itu untuk berfoya-foya!"


"Diam, Mira!"


"Selama ini aku diam saja, tapi setelah apa yang terjadi pada kita sekarang, aku tidak bisa diam saja."


"Mama seharusnya berterima kasih pada Galang karena selama ini dialah yang sudah membiayai kehidupan kita."


"Seharusnya, sebagai seorang ibu, Mama senang dan mendukung Galang karena dia sudah sangat berbakti dan selalu berusaha membahagiakan Mama selama ini. Bukannya malah menghancurkan Galang dengan terus-terusan mencuri uangnya!" teriak Mira dengan marah.


"Mama bilang, diam Mira! Kau tidak tahu apa pun!"


"Tidak tahu apa pun?"


"Mama pikir aku bodoh karena selama ini aku diam saja melihat kelakuan Mama?"


"Mira, kamu jangan kurang ajar sama Mama!" peringat Ningsih, tersulut emosi.


"Menghabiskan uang milyaran rupiah demi bersenang-senang dengan pria muda?"


"Mira!"

__ADS_1


"Mempercayakan uang yang dicuri dari Galang pada orang lain dengan dalih investasi? Kemudian menggadaikan rumah milik Galang demi mendapatkan berlian palsu?" lanjut Mira.


"Selama ini, Mama menghabiskan uang milyaran itu bersama teman-teman sosialita Mama yang jelas-jelas hanya memanfaatkan uang Mama saja!" Mira menatap ibunya dengan tatapan marah sekaligus kecewa.


"Aku diam, karena aku tidak ingin membuat Mama bersedih karena melarang Mama berteman dengan orang-orang itu. Namun, aku salah. Seharusnya dari dulu aku melarang Mama agar Mama tidak terjebak seperti ini!" Mira meneteskan air matanya.


"Mama sudah menghancurkan hidup Galang berkali-kali. Sekarang, Mama masih tidak punya urat malu ingin meminta pertolongan pada Galang?"


NIngsih terdiam. Semua ucapan Mira memang benar. Selama ini, dia terlalu terlena dengan gemerlap dunia yang menyesatkannya.


Setiap malam dia pergi mencari hiburan di luar sana. Bersama dengan teman-teman sosialitanya yang sama-sama kesepian seperti dirinya.


Seolah tidak mengingat umur yang sudah paruh baya, Ningsih bergelut dengan dunia malam dengan menghabiskan uang untuk membayar orang-orang yang bisa memuaskannya.


"Kelakuan Mama benar-benar menjijikkan!"


"Mira ...."


"Jalankan mobilnya, Mas. Kita pulang kampung!"


"Galang tidak akan menolong kita, Ma. Apalagi, setelah dia mengetahui kalau Mama bukanlah ibu kandungnya!" ucap Mira penuh penekanan.


"Bukan itu saja, Galang jelas tidak akan mau menolong Mama lagi setelah semua yang Mama lakukan padanya, termasuk apa yang sudah Mama lakukan terhadap ibu kandungnya Galang." Mira menghentikan ucapannya. Perempuan itu akhirnya mengungkapkan kekesalannya selama ini terhadap Ningsih.


Damar melajukan mobilnya menuruti kemauan sang istri. Lelaki itu hanya terdiam tanpa berani berkomentar.


Semua yang diucapkan oleh Mira adalah kebenaran tentang mertuanya selama ini. Sebagai menantu, dia sungguh sangat malu mempunyai mertua seperti Ningsih.


Kedua anak Mira terdiam. Beruntung, mereka sudah diberikan pengertian terlebih dahulu oleh ibunya tentang keadaan mereka saat ini.


Meski mereka sangat kecewa, tetapi akhirnya mereka menurut juga.


Ningsih terdiam. Perempuan itu tidak bisa mengelak lagi. Semua rahasia yang dia sembunyikan selma ini ternyata diketahui oleh putrinya.

__ADS_1


Meskipun merasa penasaran, dari mana Mira mengetahui semuanya, tetapi Ningsih lebih memilih diam daripada kembali berdebat dengan Mira.


Galang, apa kau benar-benar tidak memedulikan Mama kali ini?


"Mira, apa kita benar-benar akan pulang kampung?"


"Hmm ...."


"Daripada jadi gembel, mending kita pulang kampung."


"Apa kita tidak punya pilihan lain lagi?"


"Kalaupun ada, aku tetap memilih pulang kampung."


"Kalau kita pulang kampung, Laras dan ibunya pasti akan tertawa melihat Mama karena sekarang mereka sudah enak hidup di kota ini."


"Sudah lama mereka hidup menderita, Ma. Sekarang waktunya mereka untuk bahagia."


"Kenapa kau membela mereka?"


Mira menatap sang ibu yang seolah belum menyadari kesalahannya setelah semua yang terjadi.


"Apa Mama lupa? Mama sudah membuat mereka menderita selama bertahun-tahun. Jika saat ini mereka bahagia, mereka memang berhak bahagia!"


"Tuhan itu Maha Adil, Ma. Akan ada di mana saat kita dalam posisi menuai hasil perbuatan kita sendiri."


Mira menatap perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Jadi, menurutmu, sekarang adalah waktunya Mama menuai hasil yang telah Mama tanam selama ini?"


.


By: Nazwatalita

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya 🙏🙏


__ADS_2