DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 134 DI TENGAH KELUARGA LARAS


__ADS_3

Nyonya Aline menatap tak percaya pada Ibu Marni. Perempuan itu sangat kaget mendengar ucapan ibunya Laras itu.


Kalau sampai Laras menjauhi Nalendra, entah apa yang akan terjadi. Sekarang saja Nalendra rela meninggalkan perusahaan demi perempuan itu.


Nyonya Aline meremas kedua tangannya. Rasa gelisah tiba-tiba menyerangnya.


"Nyonya tidak usah khawatir, saya tidak akan mengatakan apapun pada Nalendra kalau Nyonya datang kemari," ucap Ibu Marni, saat dia melihat perempuan di depannya itu terlihat gelisah.


"Bu-bukan maksud saya-"


"Saya mengerti, Nyonya. Saya sangat sadar posisi Laras dan putra Nyonya. Mereka berdua bagaikan langit dan bumi," tukas Ibu Marni.


"Kami sadar, kami hanya orang biasa, sementara Nyonya dan Nalendra adalah orang-"


"Maksud saya bukan begitu, Bu, dengarkan saya dulu-"


"Assalamualaikum ...." Suara salam dari luar menghentikan ucapan Nyonya Aline.


"Waalaikumsalam ...." Ibu Marni dan Nyonya Aline menjawab bersamaan.


"Nenek." Suara khas Ruby terdengar. Gadis itu berlari mendekati Ibu Marni.


"Pelan-pelan, Ruby, nanti jatuh," peringat Annisa.


"Nenek, Ruby pulang!"


Gadis kecil itu menyalami Ibu Marni kemudian mencium punggung tangannya.


Sementara Ibu Marni mencium kedua pipi gadis itu.


"Ruby nakal tidak di sekolah?"


"Nggak dong, Nek, Ruby, kan pintar."


"Oh, iya, cucu Nenek memang paling pintar." Ibu Marni mengusap kepala Ruby sambil tersenyum.


Sementara Nyonya Aline terpaku.

__ADS_1


Perempuan itu menatap tak berkedip pada gadis kecil yang saat ini sedang bermanja di depan ibunya Laras.


Gadis kecil itu mirip sekali dengan Galang.


Annisa menatap perempuan paruh baya yang terlihat cantik itu dengan penuh tanda tanya. Pandangan matanya mengarah pada sang ibu.


"Nyonya Aline, perkenalkan. Ini Annisa, adiknya Laras." Ucapan Ibu Marni membuyarkan lamunan Nyonya Aline.


Annisa tersenyum. Tangannya meraih tangan Nyonya Aline dan menciumnya.


"Ini Nyonya Aline, ibu dari Tuan Nalendra."


Annisa mengangguk paham. Gadis cantik itu tersenyum sopan ke arah Nyonya Aline, membuat perempuan itu pun ikut tersenyum.


"Kamu cantik sekali," ucap Nyonya Aline sambil membelai wajah Annisa yang terlihat sangat cantik alami.


Laras dan Annisa memang sama-sama cantik. Akan tetapi, Annisa terlihat lebih cantik dari Laras.


"Terima kasih, Nyonya." Annisa tersenyum.


"Iya, Nyonya. Saya kuliah sore. Soalnya paginya saya harus mengantar Ruby sekolah."


"Oh ...."


"Nenek, kenapa Ruby nggak dikenalin juga sama Nyonya itu?" Suara khas Ruby terdengar lucu. Membuat semua orang tertawa mendengarnya.


"Oma, Sayang, panggil aku Oma." Nyonya Aline tersenyum. Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa senang berada di tengah-tengah keluarga Laras.


"Oma?" Ruby menatap Nyonya Aline sambil mengerjapkan kedua matanya membuat Nyonya Aline merasa gemas.


Bayangan tentang Galang yang tak lain adalah ayah dari Ruby, langsung menghilang. Tingkah anak kecil itu seolah menghipnotis Nyonya Aline.


"Apa Oma temennya nenek? Perasaan, nenek nggak punya temen, kenapa tiba-tiba ada Oma di sini?" Ruby menatap heran pada perempuan di depannya itu.


"Oma ini ibunya Om Nalendra," ucap Annisa.


"Benarkah?" Nyonya Aline mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi Oma ibunya Daddy?"


"Daddy?" Nyonya Aline mengernyitkan dahi. Kedua matanya menatap Ibu Marni dan Annisa.


"Maafkan saya, Nyonya, Ruby sudah terbiasa memanggil Nalendra dengan sebutan Daddy." Ibu Marni menunduk, merasa tidak enak.


"Tuan Nalendra sendiri yang meminta Ruby memanggilnya Daddy."


"Ruby menuruti keinginan Tuan Nalendra. Dia sangat senang karena dengan begitu, dia juga punya ayah seperti anak-anak lain."


"Selama ini, Ruby seringkali ditertawakan oleh teman-temannya karena dia tidak punya ayah." Annisa mencoba membela sang ibu juga Ruby di depan mantan majikan Laras itu.


Sementara Nyonya Aline sangat terkejut mendengar ucapan Annisa.


Tangannya terulur membelai rambut Ruby.


Nyonya Aline menatap Ibu Marni dan Annisa bergantian.


"Apa laki-laki itu tidak pernah sekali pun menemui Ruby?"


Perempuan baya itu menggeleng dengan wajah sedih, begitupun dengan Annisa. Gadis cantik itu pun menggeleng pelan dengan raut wajah berubah sendu.


"Oma, kok ke sini sendirian. Kenapa nggak ajak daddy sekalian? Ruby kangen sama daddy." Nyonya Aline menatap gadis kecil itu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.


Ingatannya tertuju pada Nadine dan anak yang baru beberapa hari dilahirkannya.


Akankah nasib cucuku juga akan seperti ini? Tumbuh besar tanpa kehadiran seorang ayah?


.


Maaf, baru sempat update.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏


Baca juga karya temen aku yang keren ini yuk! Dijamin bikin penasaran


__ADS_1


__ADS_2