
Perempuan itu berdecak sebal. Dia menghentakkan kakinya ke lantai, menimbulkan sedikit bunyi ketukan saat sepatu berhak tinggi itu menyentuh lantai keramik yang dingin.
"Dasar asisten pribadi kurang ajar! Kamu berani mengusirku? Kamu belum tahu siapa aku ya?" geram Clara.
"Tentu saja saya tidak tahu siapa Nona Clara. Karena Nona baru kali ini muncul di hadapan saya, di ruangan ini."
"Kamu ...!" Sepasang mata perempuan itu berkilat. Emosinya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Clara maju beberapa langkah perempuan itu bermaksud akan mendorong Laras seperti sebelumnya, tetapi kali ini tangan Nalendra bergerak lebih cepat, membawa tubuh Laras ke dalam pelukannya.
"Jangan coba-coba menyakiti wanitaku, Clara, jika kamu tidak ingin berurusan denganku!" desis Nalendra. Tangan kokohnya begitu posesif memeluk pinggang Laras.
"Kamu pergi secara baik-baik atau aku yang menyuruh security untuk menyeretmu dari sini, Clara?" tegas Nalendra.
"Jadi kamu mengusirku, Ale? Tega sekali kamu!" Clara bersuara terbata-bata. Dia tidak percaya lelaki itu bisa mengucapkan kata-kata kasar.
"Kalau iya, kenapa?" Suara Nalendra berubah dingin.
Tak mau mengambil resiko, akhirnya Clara segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal. Langkah-langkahnya tampak begitu anggun menyusuri lorong-lorong di kantor pusat CNI group. Orang yang tidak tahu tak akan pernah ada yang menyangka jika pemilik wajah dan tubuh yang indah itu memiliki sifat yang buruk.
***
Laras menghela napas lega. Perempuan muda itu akhirnya menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.
__ADS_1
Masih dengan wajah cemberut, dia menatap Nalendra yang tengah merentangkan tangannya sembari duduk di sofa. Lelaki itu tampak santai setelah Clara berhasil keluar dari ruangan mereka.
Kekasih?
Ah, tiba-tiba Laras teringat kembali dengan kata-kata Nalendra. Barusan perempuan itu menggelengkan kepala. Di dalam hati dia berkata, tidak mungkin Nalendra benar-benar menganggapnya kekasih. Mungkin cuma modus saja, agar Clara tidak lagi mengganggunya.
"Ehm ... kamu kenapa? Dari tadi hanya melamun saja," usik Nalendra. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berada di depan mejanya. Jarak di antara mereka sekarang kurang dari satu meter."
"Tidak apa-apa. Saya hanya merasa lega, karena perempuan itu akhirnya bisa keluar dari ruangan ini," sahut Laras.
"Iya, terima kasih ya kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik." Lelaki itu melangkah semakin mendekat. Kini dia berdiri di samping kursi yang tengah Laras duduki.
"Aku serius dengan ucapanku tadi, Laras," cetusnya tiba-tiba.
"Jangan panggil aku Tuan. Aku adalah kekasihmu!" peringati Nalendra.
"Tetapi kita ...." Ucapan Laras langsung menggantung.
"Kamu pikir semua perhatian yang kuberikan kepadamu selama ini cuma-cuma, hah?" Ujung jemarinya menyentuh dagu perempuan itu. "Tidak, Laras. Aku menginginkanmu sebagai seorang kekasih."
Laras membeku. Dia tak sadar kalau tubuhnya ditarik oleh Nalendra, membuat perempuan itu berdiri. Posisi mereka kini sejajar. Kedua tangannya memegang bahu Laras, menatap wajah cantik alami itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku sangat serius, Laras. Jangan pernah kamu berpikir kalau apa yang aku katakan kepada Clara tadi hanya sekedar modus untuk mengusir perempuan itu. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
"Tapi, Tuan ...."
"Aku bukan Tuan! Panggil aku, Ale!"
"Tapi ini kantor," lirih Laras.
"Tapi kita hanya berdua di ruangan ini. Tak ada yang mendengar percakapan kita," sergah Nalendra.
Laras menundukkan kepala. Namun Nalendra segera meraih wajah itu dan membuatnya kembali tegak.
"Tatap mataku, Laras. Lihatlah, cahaya mataku membiaskan cinta untukmu."
"Aku tahu," lirih Laras takut-takut.
.
.
By: Jannah Zein
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏