DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 113 AKU INGIN MENIKAH DENGANMU


__ADS_3

Nalendra menarik tangan Laras keluar dari ruangannya tanpa memedulikan teriakan Nyonya Aline. Dia benar-benar merasa kecewa dengan perempuan yang telah melahirkannya itu.


Dari dulu, hingga sekarang, perempuan yang sudah melahirkannya itu pasti mementingkan kebahagiaan adiknya. Dari kecil bahkan hingga dewasa, Nalendra selalu saja mengalah pada kembarannya itu.


Memang benar, kebahagiaan Nadine adalah yang terpenting. Tak jauh berbeda dengan sang ibu, Nalendra pun selalu menginginkan yang terbaik demi kebahagiaan adil kembarnya itu. Bagi Nalendra, adik polosnya itu pantas mendapatkan yang terbaik karena dia adalah perempuan yang sangat baik juga penurut.


Namun, salahkah dia seandainya dia juga menginginkan kebahagiaannya sendiri kali ini?


Nalendra terus melangkah sambil menggenggam erat tangan Laras. Nalendra tidak memedulikan tatapan semua pegawai yang menatap mereka berdua dengan pandangan iri.


Iri melihat sang asisten pribadi digandeng oleh bos tampan mereka.


Setelah sampai di dalam mobil, pria itu mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju apartemen. Laras terdiam, tanpa berkata sepatah katapun. Dia tahu, laki-laki itu saat ini sedang dikuasai oleh amarah.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan apartemen. Nalendra kembali menggenggam tangan Laras, menggandeng tangan perempuan itu masuk ke dalam apartemen.


Laras masih terdiam mengikuti langkah panjang pria itu, hingga mereka sampai ke dalam unit apartemen milik bos tampannya itu.


Nalendra langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Membiarkan Laras yang akhirnya hanya mendesah pasrah dengan kelakuan Nalendra. Perempuan itu duduk di sofa sambil menengadahkan kepalanya.


Bayangan kemarahan Nyonya Aline saat di kantor tadi kembali melintas.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" Suara Nalendra mengagetkan Laras.


"Bukannya Tuan tadi-"


"Cepat bangun!"


Laras segera bangkit.


"Pegang tanganku!" Tangan Laras terulur.


Sepertinya, Nalendra sudah kembali pada sifat aslinya. Sosok pria menyebalkan yang sok kegantengan.


"Tidak usah mengumpat! Aku tahu apa yang kau katakan!"


"Memang apa yang aku katakan?" Laras menatap pria itu dengan sebal.

__ADS_1


"Tu-Tuan, kenapa kau membawaku ke kamar?" Laras terlihat gugup.


"Sekali lagi kau menyebutku Tuan, aku benar-benar akan menghukummu!" ancam Nalendra semakin kesal.


Sementara Laras langsung terdiam, tetapi ekor matanya melirik ke arah pria tampan itu.


"Duduk di sana!"


Nalendra menunjuk ke arah ranjang. Laras menggelengkan kepalanya.


"Laras, jangan membantah!"


"Aku tidak mau, Tuan pasti akan berbuat macam-macam, kan?"


"Laras! Kalau kau menolak, aku benar-benar akan melakukan apa yang sekarang sedang kau pikirkan saat ini!"


"Tu-Tuan ...."


"Kau benar-benar ingin di hukum ya?" Nalendra mendekati perempuan yang sangat dicintainya itu.


Kepalanya saat ini sedang berdenyut sakit. Pikirannya sangat kacau, bahkan emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Dia hanya ingin menenangkan diri dan hatinya saat ini.


Nalendra mengehembuskan napas panjang.


"Sayang ...." Kali ini wajah Nalendra terlihat memelas.


"Baiklah! Tapi janji, kau tidak akan macam-macam."


"Hmm ...."


Kalau nggak khilaf.


Laras mengikuti langkah Nalendra menuju ranjang. Nalendra menepuk ranjang di sebelahnya agar perempuan itu berbaring di sebelahnya.


"Jangan macam-macam!" Laras masih menatap waspada pada Nalendra, membuat pria itu tersenyum tipis.


Inilah yang dia suka dari Laras. Perempuan itu sangat menjaga dirinya. Tidak seperti perempuan-perempuan lain yang dulu sering ditemuinya.

__ADS_1


Laras menatap ke arah dirinya. Perempuan itu sedikit bernapas lega saat melihat pakaian yang melekat pada tubuhnya. Beruntung, saat ini dia memakai baju atasan panjang dan juga celana panjang yang menutupi tubuh indahnya.


Laras membaringkan tubuhnya di samping pria itu. Nalendra tersenyum kemudian langsung menarik tubuh perempuan itu ke arahnya.


Namun, sebelum laki-laki itu memeluk tubuh Laras kedua tangannya bergerak melepaskan ikatan rambut Laras.


Harum shampo menguar dari rambut Laras. Nalendra menarik tubuh perempuan itu kemudian mendekapnya. Lelaki itu menempelkan wajahnya pada bahu Laras. Kedua matanya terpejam, merasakan nyaman berada dekat dengan perempuan yang dicintainya.


"Aku mencintaimu."


Tubuh Laras meremang, detak jantungnya berlomba seiring hembusan napas Nalendra yang menyapu lehernya.


"Sayang ...."


"Hmm ...."


"Aku ingin menikah denganmu."


"Itu tidak mungkin. Kau lihat sendiri bagaimana sikap ibumu, bukan?"


"Aku tetap akan menikah denganmu."


Laras membalikkan tubuhnya menatap pria itu. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa centi saja dengan wajah pria itu.


"Apa yang dikatakan oleh Nyonya Aline memang benar. Kehadiranku nantinya hanya akan membuat Nadine kembali terluka karena mengingat masa lalu."


"Kenapa semua orang harus memikirkan Nadine? Kenapa kau tidak memikirkan kebahagiaanmu saja? Apa aku benar-benar tidak penting bagimu?" Nalendra menatap perempuan itu dengan sendu.


Laras membalas tatapan Nalendra.


"Aku-"


Belum sempat Laras mengucapkan sesuatu, bibirnya sudah terlebih dahulu dibungkam oleh bibir pria itu.


.


By: Nazwatalita

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


__ADS_2