DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 32 RENCANA DINNER


__ADS_3

"Iya, aku tahu," sahut Galang. "Ini aku mau berangkat."


Galang buru-buru menghidupkan mesin mobil, sesaat setelah percakapan itu usai. Dia mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi sembari sesekali melirik arloji mahal di pergelangan tangannya.


Sebenarnya dia malas ke kantor. Bukan sekedar perusahaan Nadine dan keluarganya yang memang bukan passionnya, tetapi perilaku sepasang manusia, Laras dan Nalendra yang di matanya sungguh menyebalkan.


Apalagi hari ini. Pasti dia harus melihat kembali interaksi antara Laras dengan Nalendra. Benar-benar pemandangan yang menyebalkan!


Nalendra seperti ingin memanas-manasi dirinya. Dia bersikap begitu manis pada Laras, bahkan di luar batas antara atasan dengan bawahan. Sikap Nalendra terhadap Laras malah lebih mirip sikap seorang laki-laki yang memuja kekasihnya.


Mengingat itu, membuat Galang memegang setir kuat-kuat. Rahangnya mengeras.


"Kurang ajar! Awas ya kamu, Nalendra!" umpat Galang dalam hati.


'Aku tidak akan pernah membiarkan kamu memiliki Laras!'


'Sebelum aku mengetahui ada keganjilan yang terjadi dalam keluargaku, aku memang pernah berniat untuk menceraikan Laras, tetapi setelah ini, kurasa aku harus memikirkan ulang tentang keputusan itu.'


'Jadi jangan harap Laras bisa jatuh ke tanganmu, Nalendra!' Laki-laki itu tersenyum miring.


Mendadak dia teringat percintaan panasnya bersama Laras beberapa malam yang telah lewat.


Percintaan yang lebih tepatnya adalah pemaksaan untuk bercinta. Galang tahu, dia telah memaksa Laras untuk melayaninya malam itu.


'Ah ... Kenapa terasa begitu nikmat?' Laki-laki itu mengerang. Dia berusaha mengibaskan pikiran kotornya sesaat menyadari mobil yang dikemudikannya memasuki halaman gedung CNI Grup.

__ADS_1


Sekeluarnya dari mobil, Galang bergegas melangkah menuju lobby, kemudian masuk lift dan tiba di ruang kerjanya di lantai lima, tidak berapa jauh dari ruangan kerja Nalendra dan Laras.


Kedatangannya disambut oleh Vina yang sudah stand by di ruangan kerjanya.


"Pak Galang, ada beberapa dokumen yang harus Anda tanda tangani," ujar Vina.


"Oh, iya." Laki-laki itu langsung duduk di kursi kebesarannya, kemudian memeriksa sekilas beberapa dokumen dihadapannya. Dia membubuhkan tanda tangan dengan cepat.


Selama bekerja di perusahaan ini, dia sangat mengandalkan Vina, asistennya. Boleh dibilang, Vina lah sebenarnya yang menjadi wakil direktur operasional, bukan dirinya. Tugasnya ya, hanya tanda tangan. Untung saja wanita berusia tiga puluh lima tahun itu sangat bisa dipercaya sehingga dia bisa bernapas lega.


Sejauh ini belum ada masalah apapun dengan pekerjaannya, meskipun dia tidak turun langsung, kecuali menghadiri beberapa rapat penting. Vina memang bisa diandalkan.


"Tepat jam sepuluh pagi, kita mengadakan pertemuan dengan para pemegang saham, Pak," beritahu Vina.


"Ya, aku sudah tahu. Kamu siapkan saja berkas-berkas yang sekiranya diperlukan seperti biasanya. Oke?" Laki-laki itu melemparkan sebuah senyuman.


"Oke, Pak." Dia turut mengangguk.


Sesaat kemudian Vina sudah keluar di ruangan itu, meninggalkan Galang yang mulai membuka laptopnya.


Menit demi menit berlalu. Galang masih asyik berkutat dengan pekerjaannya. Dia terus meneliti data-data semua restoran yang dikirim oleh orang-orang kepercayaannya melalui email.


*****


Galang benar-benar menikmati waktunya hari ini, meskipun paginya ia harus menerima kedatangan ibunya yang bermasalah, kemudian di kantor harus pula bertemu dengan sepasang insan, Laras dan Nalendra.

__ADS_1


Namun secara umum, harinya berjalan dengan lancar. Pertemuan dengan para pemegang saham sudah dia ikuti, kemudian pekerjaan yang lain pun telah beres. Dia merasa lebih lega.


Lelaki muda itu mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesaat dia menatap arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan ia rasa, sekarang Nadine sudah berada di rumah.


Membayangkan istri cantik yang akan menyambut kedatangannya hari ini, membuat Galang merasa bergairah.


"Sebaiknya aku mengajak dinner Nadine malam ini," gumam Galang. "Sudah lama aku tidak dinner dengan dia."


Galang baru saja sampai di depan rumah. Saat dia ingin membuka pintu mobil, ponselnya berdering.


Galang buru-buru mengangkat panggilannya setelah mengetahui siapa yang menelepon.


"Halo, Bos, aku sudah sampai di kampung. Sekarang, aku sedang berada di depan rumah Nona Laras."


.


.


By: Jannah Zein


Ikutin terus kelanjutannya, yuk teman-teman, jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya, biar authornya makin semangat.


Sambil nunggu up, mampir di karya temen aku dulu yuk!


__ADS_1


__ADS_2