
Galang menemui Nadine yang saat ini masih terbaring lemah di atas ranjang pasca operasi Caesar.
Nadine terlihat terkejut saat pria yang selama ini dirindukan sekaligus dibencinya itu kini berada di hadapannya.
"Sayang ...." Galang mendekati perempuan itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, karena aku baru bisa datang sekarang." Galang menatap perempuan yang dicintainya itu sambil mengusap kepalanya.
"Maafkan aku, karena aku tidak berada di sampingmu saat kamu melahirkan anak kita." Kali ini Galang benar-benar menangis. Sementara Nadine masih terdiam menatap pria itu.
"Maafkan aku ...."
Galang meraih tangan perempuan itu kemudian menciumnya.
"Maafkan aku karena aku telah melukaimu begitu dalam. Aku memang tidak pantas dimaafkan."
"Seandainya kamu memang tidak ingin bersamaku lagi, aku tidak akan pernah memaksamu, karena aku memang pantas mendapatkannya." Lagi, air mata Galang kembali mengalir, seiring rasa sakit yang mencengkeram hatinya.
Semua ini memang kesalahannya. Seandainya dia jujur dari awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Mencintai dua orang wanita yang sama-sama penting di hatinya. Dia memang egois. Kini, keegoisannya telah membuat Galang kehilangan dua perempuan itu.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf, Nadine. Aku tidak pernah bermaksud melukaimu, tetapi karena keegoisanku, aku justru telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hatimu." Galang terisak di depan Nadine. Begitupun perempuan itu.
Galang adalah cinta pertamanya. Lelaki pertama yang sangat dicintainya. Jelas tidak mudah untuk melupakan apalagi melepaskan pria itu begitu saja.
Namun, luka di hatinya yang terlalu dalam membuat perempuan itu tidak bisa menerima kembali, meskipun Galang menyesalinya.
"Semua sudah terlambat, Galang. Seandainya saja dari awal kamu jujur, semuanya pasti tidak akan seperti ini."
"Gara-gara keegoisanmu, kamu menyakiti hatiku juga Laras."
"Maafkan aku, aku tahu aku salah.Aku bersalah pada kalian berdua." Galang kembali menangis.
Begitupun Nadine yang akhirnya tidak bisa membendung air matanya. Cintanya pada Galang masih sangat besar.
Namun, dia tidak mungkin terus berada di samping pria itu karena setiap kali melihat wajahnya, semua bayangan kebohongan pria itu akan terus terlintas,dan itu sangat menyakitkan baginya.
"Setelah ini, aku ingin kita menjalani hidup kita masing-masing."
__ADS_1
"Aku ingin bercerai denganmu."
Kedua kaki Galang langsung lemas mendengar ucapan perempuan itu.
Pria itu berlutut di samping ranjang, meletakkan kepala di bahu perempuan yang baru beberapa jam lalu melahirkan buah hatinya itu sambil menangis.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku bersalah padamu. Bersalah pada kalian berdua."
"Maafkan aku, Sayang ... maaf!"
Mereka berdua menangis. Galang masih menggenggam erat tangan Nadine.
Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam kesedihan. Terpaksa berpisah dengan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.
Namun, dari pada bersama tetapi membuat tersiksa, lebih baik mereka mengakhiri semuanya.
"Aku akan tetap ingin bercerai denganmu, Galang. Aku akan merawat anak itu dengan baik, jadi aku harap, kamu tidak mempersulitku dengan masalah hak asuh," ucap Nadine datar.
"Apa pun itu, seandainya itu bisa membuatmu bahagia dan bisa menebus kesalahanku padamu, aku rela, Sayang."
"Aku akan mengabulkan semua permintaanmu meskipun berat." Galang menatap wajah Nadine yang berurai air mata.
Melepaskan Laras membuat sebagian hatinya mati rasa. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah dia melepaskan Nadine. Perempuan yang sama-sama dia cintai.
"Maafkan aku-"
"Jangan menemuiku lagi setelah hari ini, karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."
Kata-kata Nadine bagai belati yang langsung menikam hatinya.
"Kau boleh menemui anakku, tetapi hanya untuk saat ini saja. Setelah itu, jangan menemuinya lagi, kecuali aku yang ingin mempertemukannya denganmu."
Galang menangis mendengar ucapan Nadine. Begitupun Nadine yang tidak kuasa menahan sakitnya.
Galang mendekatkan wajahnya untuk mencium perempuan itu. Sementara Nadine memejamkan matanya, merasakan rasa sakit yang menjalar ke ruang hatinya.
"Aku mencintaimu, Nadine, sangat mencintaimu."
"Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti tidak akan membohongiku."
__ADS_1
"Maafkan aku, karena aku terlalu egois padamu."
"Terima kasih karena selama ini kamu sudah mencintaiku, terima kasih karena selama ini sudah menjadi seseorang yang selalu ada untukku."
Mereka berdua kembali menangis. Berat untuk berpisah tetapi harus saling melepaskan karena luka yang terlalu dalam.
Jika Nadine boleh memilih, dia pasti lebih memilih untuk tidak dipertemukan dengan Galang. Lelaki yang membuatnya bahagia sekaligus memberikannya luka.
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya teman-teman 🙏
Baca juga karya punya temen Author yuk! Dijamin bikin penasaran.
MASA LALU SANG PRESDIR
(21+)
By : Enis Sudrajat
"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.
"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.
Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.
"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.
"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.
"Coba lihat buka sendiri!"
Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.
"Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan.
"Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard.
__ADS_1