DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 118 APARTEMEN


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Mira pun tak kalah kalut. Dia juga tak sanggup meninggalkan kehidupan mewahnya selama ini.


Perempuan itu memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya. Apalagi, kedua anaknya juga sudah terbiasa dengan kemewahan yang diberikan Galang selama ini.


Mereka sampai di depan gedung apartemen di mana Galang tinggal. Ningsih bergegas masuk lobi diiringi Mira dan suaminya juga kedua anak perempuan mereka.


Mereka berlima melangkah menuju lift. Sesampainya di lantai sepuluh, Ningsih dan yang lainnya kembali bergegas menuju unit apartemen Galang.


Kini, mereka sudah berada di depan pintu apartemen Galang.


"Bagaimana caranya kita masuk sekarang, Ma? Apa Mama tahu sandi apartemen Galang?"


Ningsih menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana kita masuk ke sana?" Mira terlihat kesal.


"Kita telepon Galang dulu."


Ningsih mengambil ponselnya, kemudian menelepon Galang.


Namun, detik berikutnya perempuan itu terlihat kesal karena Galang belum juga mengangkat panggilan teleponnya.


Saat mereka sedang gelisah di depan pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Muncul sepasang pria muda dan perempuan cantik yang juga masih terlihat sangat muda.


Mereka berdua sangat terkejut melihat lima orang yang saat ini sedang berdiri di depan pintu apartemen mereka.


"Siapa kalian? Mau apa kalian berada di depan pintu apartemenku?" Pria tampan itu melepaskan rangkulannya pada sang gadis.


"Aku yang seharusnya bertanya, siapa kalian? Kenapa kalian berada di apartemen anak saya?"


"Apartemen anak Anda?" Pria tampan itu menatap Ningsih dan lainnya.


"Iya. Ini adalah apartemen Galang, anak saya," ucap Ningsih dengan nada arogan.


"Galang? Galang Pratama?"


Ningsih mengangguk.


"Galang adalah temanku. Dia menjual apartemen ini padaku."


"Apa maksudmu?" Suara Ningsih meninggi.


"Apartemen ini milikku karena Galang sudah menjualnya padaku!" Pria tampan itu menatap Ningsih dengan wajah kesal.


"Apa?"

__ADS_1


"Tidak mungkin. Galang tidak mungkin menjual apartemen ini padamu, aku sangat tahu kalau ini adalah apartemen yang akan diberikan pada istrinya!" lanjut Ningsih.


"Lagipula kenapa dia menjual apartemen ini?" Ningsih merasa tidak terima dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Kalau Anda tidak percaya, Anda boleh telepon Galang sekarang juga." Pria itu kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Galang.


"Halo, Bro!"


"Depan apartemen Ada nyokap lo, nyariin!" lanjut pria itu tanpa menunggu jawaban dari Galang di seberang sana. Sementara Galang sangat terkejut.


"Lo nggak bilang sama nyokap lo, kalau lo udah jual apartemen sama gue?"


"Belom sempat."


Belum selesai Galang memberikan jawaban, pria itu memberikan ponselnya pada Ningsih.


"Galang, apa benar kamu menjual apartemen kamu?"


"Iya, Ma."


"Kenapa kau menjualnya?" teriak Ningsih tidak terima.


"Aku menjualnya karena aku butuh modal, kalau bukan karena mama, aku tidak akan pernah menjual apartemen impian aku bersama Nadine!"


"Tapi kenapa kau harus menjualnya, Galang?"


"Kalau bukan karena Mama menggelapkan uang restoran miliaran rupiah, Aku tidak akan menjual apartemen itu!" teriak Galang kesal.


"Gara-gara Mama, bisnis yang aku bangun dari nol hancur seketika!" lanjut Galang berapi-api.


Pria itu merebut ponselnya dari Ningsih, di saat Galang masih berbicara dengan Ningsih.


"Sekarang kalian sudah percaya kan, kalau apartemen ini sekarang adalah milikku, bukan milik Galang?" Pria bernama Riko, salah satu teman galang kembali merangkul wanitanya, kemudian melangkah pergi meninggalkan lima orang yang saat ini masih berdiri di depan pintu apartemennya.


Pria itu bahkan tidak mengucapkan satu patah kata pun dari bibirnya.


"Nenek malu-maluin aja deh! Ngapain sih, kita ke sini?" Intan, salah satu anak perempuan Mira menggerutu karena merasa malu. Gadis berusia tujuh belas tahun itu terlihat sangat kesal.


Mira dan suaminya saling berpandangan. Sementara Ningsih terlihat sangat marah.


"Benar-benar kurang ajar si Galang!"


"Bukan salah Galang, Ma, semuanya kesalahan Mama karena terlalu rakus mencuri uang Galang. Akhirnya begini kan jadinya?"


"Kalau Galang memang benar-benar bangkrut, tamat sudah riwayat kita, Ma, karena selama ini kita semua bergantung padanya," lanjut Mira menatap sang ibu.

__ADS_1


Ningsih menatap tajam ke arah putrinya, "Kamu menyalahkan Mama? Kamu pikir untuk apa selama ini Mama mengambil uang Galang? Untuk kita! Demi keluarga kita!"


"Iya, itu memang benar. Tapi mana buktinya sekarang, Ma? Uang yang Mama curi bahkan dibawa kabur oleh teman Mama!"


"Rumah pemberian Galang juga hilang untuk membayar hutang. Sekarang kita mau tinggal di mana, Ma? Apa Mama masih bersikeras ingin tinggal di kota ini dengan kondisi kita yang seperti ini?" Mira menatap sang ibu yang terlihat tidak terima dengan semua ucapannya.


Sementara, suaminya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Selama ini dia pun hanya diam di rumah, tanpa melakukan hal apapun.


Pria itu juga tidak bekerja sama sekali. Selama ini mereka mengandalkan uang dari Galang. Semua kebutuhan mereka, Galang yang memenuhi semuanya.


Kini orang yang selama ini menjadi andalannya dan menjadi tulang punggung mereka sudah tidak bisa lagi membantu mereka.


"Sebaiknya kita pulang kampung. Kita mulai merintis kehidupan kita dari nol lagi." Suami Mira yang sedari tadi terdiam, angkat bicara.


"Kita bisa bekerja di sawah seperti dulu. Kita sudah pernah merasakan menjadi orang yang pas-pasan, jadi tidak akan apa-apa kalau sekarang kita kembali miskin seperti dulu.


"Damar, apa-apaan kau? Apa yang kau bicarakan? Mama tidak mau pulang kampung. Pokoknya Mama mau tinggal di Jakarta!" teriak Ningsih.


"Mama mau ke restoran Galang, sekarang!"


"Ma! Apa Mama tidak tahu, kalau hampir semua restoran milik Galang gulung tikar?"


.


By: Nazwatalita


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


Jangan lupa, baca juga karya temen Author yang keren banget ini ya ....


Judul: PURA-PURA MISKIN


Author: Momoy Dandelion


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.


__ADS_1


Penasaran kan? Cuz langsung cari judulnya ya, teman-teman ....


__ADS_2