
Rusdi menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Di sana, terlihat dua orang yang sedang duduk santai di atas sofa yang hampir lapuk di makan usia.
'Kenapa mereka sudah sampai di sini lebih dulu?'
Laras tersenyum manis, sementara Nalendra menatap tajam ke arah Rusdi. Sementara di samping Laras, seorang gadis kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Galang tersenyum kepadanya.
Sejenak Rusdi tertegun saat melihat senyum gadis kecil itu.
'Ruby ....'
"Ada apa Paman kemari? Apa ada sesuatu yang penting?" Pandangan Laras tak berpindah pada laki-laki yang baru ia ketahui, ternyata adalah dalang dari penderitaan yang dialaminya selama ini.
Rusdi sedikit terkejut saat melihat tatapan Laras yang seolah mengintimidasinya. Perempuan itu terlihat sangat berbeda dari saat terakhir Rusdi melihatnya beberapa tahun yang lalu.
Laras terlihat lebih cantik dan lebih tegas dibandingkan dengan Laras yang dulu.
Dulu, perempuan itu akan menundukkan kepalanya saat dia bertemu dengan Rusdi juga Ningsih. Laras bahkan tidak berani menatap laki-laki itu. Namun, kini perempuan itu dengan berani menatapnya tajam. Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu, Laras yang sekarang terlihat begitu percaya diri dan elegan.
Hidup di kota besar ternyata membuat Laras banyak berubah. Penampilan Laras yang sekarang bahkan terlihat begitu mirip dengan Nadine, istri keduanya Galang.
'Pantas saja kakak ipar si Galang begitu tergila-gila pada Laras. Begitupun Galang yang dengan begitu egois tidak mau melepaskan Laras.'
Rusdi menatap perempuan cantik di depannya itu dengan seksama.
"Apa begini caramu menyambut Paman dari suamimu?" Rusdi membalas tatapan tajam Laras.
__ADS_1
Sementara Laras tersenyum mengejek.
"Paman dari suamiku? Apa sekarang Paman ingat kalau aku adalah istri dari keponakanmu?" Laras mencibir. Sementara bibir Rusdi langsung terkatup. Pria paruh baya itu langsung terdiam mendengar perkataan Laras.
"Kenapa? Benar bukan, apa yang aku katakan? Setelah bertahun-tahun, tiba-tiba Anda datang ke sini dan mengatakan kalau Anda adalah Paman dari suamiku?" sarkas Laras.
"Laras!" Melihat Laras yang seolah mengejeknya membuat Rusdi langsung naik darah.
"Memangnya kenapa kalau aku menyebut kalau aku adalah Paman dari suamimu? Bukankah itu memang benar?" Rusdi melirik ke arah Nalendra. Pria itu terlihat datar tanpa ekspresi. Namun, tatapan matanya menyorot tajam ke arahnya.
"Memang benar. Aku tidak menyangkal kalau Paman adalah Paman dari suamiku, tapi apa Paman sendiri tahu apa yang dimaksud dengan kata 'suami'?"
"Suami itu adalah orang yang senantiasa mencintai istri dan juga anak-anaknya. Orang yang selalu melindungi istrinya. Seseorang yang memberikan nafkah buat istrinya, baik lahir maupun batin. Sementara Mas Galang ... apa menurut Paman, Mas Galang itu masih pantas disebut suami?" ucap Laras panjang lebar.
"Orang yang sudah menelantarkan istri dan anaknya, tidak pernah memberikan nafkah selama bertahun-tahun dan juga menikahi perempuan lain tanpa izin dari istri pertamanya, apa pria semacam itu masih layak disebut sebagai seorang suami, Paman?" Laras menatap Rusdi dengan penuh amarah.
"Orang seperti Galang tidak pantas disebut sebagai seorang suami!" ucapan lantang itu keluar dari mulut ibunya Laras yang masih berdiri, tak jauh dari Rusdi.
"Laki-laki tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi seperti Galang tidak pantas disebut sebagai seorang suami, juga seorang ayah!" Mata perempuan tua itu berkilat penuh amarah. Laras yang melihat amarah sang ibu, langsung mendekati perempuan yang melahirkannya itu. Begitupun dengan Annisa yang langsung keluar dari kamar saat mendengar teriakan ibunya.
"Sabar, Bu. Jangan sampai penyakit jantung ibu kambuh karena emosi." Annisa dan Laras berusaha menenangkan perempuan yang melahirkannya itu.
"Ibu tidak bisa sabar seperti kamu, Laras! Kamu sudah disakiti oleh Galang dan keluarganya selama bertahun-tahun, tapi kamu tetap diam, tidak melawan!" Suara perempuan tua itu terdengar bergetar, seiring air mata yang mengalir pada wajah tuanya.
Wajah yang kini terlihat sedih dan kecewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama ibu, Nak? Kenapa kamu menyimpan luka itu sendirian?"
Laras memeluk sang ibu. Namun, perempuan itu melepaskan pelukannya. Pandangannya beralih pada Rusdi.
"Kamu dan Ningsih benar-benar orang yang sangat kejam!" Marni menatap Rusdi penuh amarah.
"Kalian berdua tega menghancurkan pernikahan Laras dan Galang! Bukan hanya itu saja, kau dan Ningsih bahkan mengambil semua hak yang diberikan Galang untuk Laras! Kalian benar-benar bukan manusia!"
"Ibu." Annisa, memeluk sang ibu yang mulai menangis. Sementara wajah Rusdi memerah karena marah. Rusdi tidak terima dengan perkataan Ibu Marni, meskipun yang dikatakannya itu adalah benar.
"Galang meninggalkan Laras atas keputusan dia sendiri, bukan karena aku juga Mbak Ningsih!" elak Rusdi.
"Kamu masih berani menyangkal? Kamu memfitnah Laras berselingkuh, kamu juga mengambil semua uang yang diberikan oleh Galang dengan memberikan rekening palsu atas nama Laras dan sekarang kau bilang, Galang meninggalkan Laras karena keinginan dia sendiri?"
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa Ikutin terus ceritanya ya, teman-teman ....
Like, komen, hadiah dan votenya juga jangan lupa. Biar Author makin semangat update.
Sambil nunggu update, kepoin karya keren temen Author yang satu ini yuk!
__ADS_1