
Sesuai keinginan Ruby, mereka bertiga makan siang bersama di sebuah restoran yang ditunjuk oleh Ruby. Gadis kecil itu sangat senang. Senyumnya terkembang menatap kedua orang dewasa di depannya.
"Mama, Ruby sangat senang karena Ruby sekarang punya Daddy. Sekarang teman-teman pasti tidak akan mengejek Ruby lagi. Mereka selalu bilang kalau Ruby tidak punya ayah. Besok Ruby akan tunjukkan pada mereka kalau Ruby punya ayah yang sangat tampan." Gadis kecil itu berbicara dengan kedua mata berbinar. Sepertinya dia sangat senang dan bahagia.
Sementara Laras dan Nalendra saling berpandangan. Ada kesedihan yang terpancar di wajah Laras, membuat Nalendra langsung meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya erat.
Nalendra sungguh tidak tega melihat perempuan itu bersedih.
"Semua akan baik-baik saja, tenanglah!"
"Kamu sudah memberikan harapan besar padanya, apa kamu tidak kasihan melihatnya sangat berharap padamu?"
"Selama ini Ruby sangat menderita karena keegoisan Mas Galang. Bertahun-tahun aku mencoba menghiburnya. Setiap kali melihat dia menangis karena melihat anak-anak lain bisa pergi bersama ayah dan ibunya." Laras menatap Nalendra dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu menyuruh dia menganggapmu sebagai ayahnya? Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah memberikan dia harapan besar?"
"Aku tahu Laras, tapi asal kamu tahu, aku benar-benar ingin menjadi ayah Ruby. Setelah kamu bercerai dengan Galang, aku ingin-" Nalendra menghentikan ucapannya ketika rasa gugup tiba-tiba menyerangnya.
Sial! Kenapa sangat susah sekali mengungkapkan perasaanku padanya?
"Ingin apa?"
"Ingin menjadi Ayah Ruby." Nalendra memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Pandangannya beralih pada Ruby. Gadis kecil itu tampak tersenyum, membuat Nalendra gemas, kemudian mengacak-acak rambut Ruby.
pesanan mereka datang. Mereka bertiga makan dengan tenang, sesekali mereka tertawa melihat tingkah laku Ruby yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
Setelah makan siang, Nalendra mengajak dua perempuan itu jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Ruby sangat senang. Ini adalah pertama kalinya dia pergi jalan-jalan ke Mall.
Nalendra dan Laras mengiringi langkah gadis kecil itu. Nalendra membelikan apa saja yang Ruby minta, meskipun Laras melarangnya. Lelaki itu tidak peduli, dia hanya ingin membahagiakan Ruby. Gadis kecil yang selama bertahun-tahun kehilangan kasih sayang dari ayahnya.
Nadine ....
Tiba-tiba wajah Nadine terlintas. Haruskah aku menyalahkan dia karena dia sudah merebut Galang dari Laras? Kalau bukan karena Nadine, Galang pasti tidak akan meninggalkan Laras dan Ruby. Gadis kecil ini pasti tidak akan menderita karena kehilangan sang ayah.
Akan tetapi, tidak sepenuhnya semua itu kesalahan Nadine bukan? Seandainya dari awal Galang jujur tentang pernikahannya dengan Laras, Nalendra sangat yakin, adik kembarnya itu tidak akan mau menikah dengan Galang.
Kalau bukan karena kelicikan pria itu dan keluarganya, Nadine juga tidak akan terjebak dengan Galang hingga akhirnya mereka berdua menikah.
Semua ini adalah salah Galang. Penderitaan Ruby dan Laras, semua karena kesalahan Galang, bukan Nadine.
***
Mereka bertiga pulang dengan hati senang. Ruby tertidur di pangkuan Laras karena kelelahan. Begitupun Laras yang terlihat mengantuk. Perempuan itu memejamkan matanya.
Nalendra tersenyum melihat kedua perempuan itu. Dalam hati, dia membayangkan seandainya mereka bertiga adalah satu keluarga.
Tangan kiri Nalendra mengusap kepala Laras.
"Aku berjanji, aku pasti akan membahagiakan kalian berdua. aku akan mengganti semua luka dan penderitaan yang pernah kalian rasakan selama ini dengan rasa cinta yang kumiliki buat kalian," ucap Nalendra dalam hati.
__ADS_1
Nalendra mengemudikan mobilnya dengan santai, seolah dia tidak ingin hari ini cepat berakhir. Pria tampan itu mengulas senyumnya. Merasakan kebahagiaan yang menyelinap ke dalam hatinya.
Sementara di tempat lain, Galang sedang meratapi nasibnya. Laki-laki itu tampak sedang menangis. Menyesali semua kebodohannya karena selama ini dia begitu mempercayai keluarganya dibandingkan dengan Laras.
Kata-kata Nadine saat dia berkunjung ke rumahnya kemarin mengingatkan Galang pada sosok Ruby, sang buah hati yang belum pernah dilihatnya sama sekali.
"Kalau aku menemui Ruby, apa gadis kecil itu akan memaafkan aku dan memanggilku dengan sebutan ayah?" ucap Galang lirih.
Pria itu mengambil ponselnya, dia mulai membuka galeri kemudian melihat satu persatu foto Ruby yang dikirimkan oleh orang suruhannya beberapa waktu yang lalu.
"Maafkan Papa Ruby, Papa tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, hanya saja, keadaan yang memaksa kita berpisah. Maukah kamu Maafkan Papa, Sayang?" lirih Galang sambil mengusap foto Ruby pada layar ponselnya.
"Papa janji, setelah urusan Papa selesai, Papa akan menemuimu dan menjemput kamu untuk tinggal bersama Papa."
"Kamu mau, kan, Sayang?" Air mata Galang menetes di pipinya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Rasa cintanya yang begitu besar pada Laras, membuatnya cemburu buta, hingga dia tidak bisa berpikir jernih.
Seandainya saja dulu dia menyempatkan waktu untuk pulang dan menyelidiki kebenaran tentang gosip yang disebarkan oleh keluarganya, mungkin saat ini, dia dan Laras, juga Ruby sudah hidup bahagia.
Galang tidak perlu Nadine atau pun perempuan lain hadir dalam kehidupannya, karena bersama Laras, Galang sudah cukup merasa bahagia.
Namun, sepertinya takdir tidak berpihak padanya. Gara-gara kebodohannya, dia kehilangan semuanya.
.
__ADS_1
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya, teman-teman readers 🙏🙏