DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 62 RENCANA PULANG KAMPUNG


__ADS_3

"Semua itu tidak akan pernah terjadi, Laras. Sebelum kamu menggugat cerai diriku, aku pastikan kamu sudah berada dalam genggamanku!" ancam Galang. Tangan lelaki itu terkepal menuding ke wajah Laras.


"Coba saja kalau kamu bisa!" ejek Laras. Dia malah menantang laki-laki itu karena hatinya sudah benar-benar tertutup. Apapun alasannya, pernikahan Galang dengan Nadine adalah sebuah pengkhianatan besar buat Laras.


"Sekarang kamu sudah berani menantangku, ya? Kalau kau sampai berani meneruskan niatmu, kau tanggung sendiri akibatnya nanti, Laras!"


Galang menatap tajam ke arah Laras, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Laras menghela napas dan kembali duduk di bangku panjang, di bawah penerangan lampu taman yang redup.


"Ini sudah berada di batas hubungan kita, sudah berada di batas kesabaranku. Rasa sakit ini sudah mengikis habis cinta yang masih tersisa," ucap Laras dalam hati.


Dia bersandar di bangku itu, merentangkan tangan dan memejamkan mata. Udara dingin kian menusuk. Malam semakin larut, tetapi Laras masih saja di sana. Perempuan itu asyik dalam lamunan, hingga tak sadar ketika sepasang tangan kokoh melingkar di lehernya.


Laras tersentak kaget. Tubuh yang seakan tersangat aliran listrik memaksanya untuk membuka mata.


"Ale," ucapnya lirih. Spontan Laras menyingkirkan tangan kokoh yang melingkar di lehernya itu.


"Maaf." Laki-laki itu duduk di sampingnya. Matanya menatap Laras dengan lembut. "Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Galang barusan."


"Kamu selalu tahu apapun tentangku tanpa harus kuceritakan," sahut Laras.


"Kalau kamu memang ingin mengurus perceraianmu dengan Galang, aku beri izin berapa hari pun yang kau mau," ujar Nalendra. Dia merubah letak duduknya dengan posisi kaki menyilang.


"Benarkah?" Laras menatap wajah Nalendra dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Terima kasih. Kamu selalu tahu apa yang aku perlukan," ucap Laras saat pria itu menganggukkan kepalanya.


"Aku yang berterima kasih karena kamu mau berteman denganku." Nalendra meraih tangan mulus itu, kemudian menggenggamnya erat.


"Mulai sekarang, jangan menyembunyikan apapun dariku. Apapun itu, berceritalah. Aku akan membantumu!"


"Aku tidak ingin merepotkanmu, Ale. Aku ini adalah asistenmu. Tugas asisten adalah membantu atasan, bukannya bos yang membantu asisten," ujar Laras.


"Kalau di luar jam kerja, kita ini adalah teman," sambung Nalendra.


"Aku tidak pernah merasa direpotkan. Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu pulang ke kampung. Atau gini aja, bagaimana kalau aku suruh orang-orangku untuk mengantarmu pulang?" tawar Nalendra.


"Boleh juga." Laras menanggapi dengan senyum manisnya. Senyum manis yang terasa menggetarkan hati lelaki yang duduk di sampingnya itu.


Laras membawa kakinya kembali masuk ke dalam kamar setelah Nalendra pergi beberapa saat yang lalu.


Dibukanya pintu kamar dengan hati-hati, kemudian bergegas masuk ke dalam. Dia merebahkan tubuhnya di pembaringan.


Menghadapi dua orang lelaki yang berbeda karakter membuatnya merasa lelah.


Sebagai seorang wanita, dia mengerti arti perhatian Nalendra. Pernyataan Nadine barusan itu benar. Nalendra memang menyukainya. Namun, ia tidak mau memikirkan hal itu. Fokusnya hanya pada proses perceraiannya dengan Galang.


Dia butuh bantuan Nalendra saat ini agar bisa pulang ke kampung dengan selamat, tanpa gangguan dari Galang atau siapa pun yang tidak menginginkan perceraian ini.

__ADS_1


"Aku harus bergerak cepat sebelum Mas Galang memerintahkan orang-orangnya untuk menghalangiku," gumam Laras.


Perempuan itu segera meraih ponselnya, lantas mengklik aplikasi pesan instan.


"Semoga saja Ale belum tidur dan membaca chatku, karena aku ingin pulang besok pagi," ucap Laras dalam hati.


Beberapa puluh detik kemudian centang berubah menjadi warna biru. Laras menghela napas lega.


Perempuan itu bangkit dari tempat tidur, dia mengambil tas selempang, mengisinya dengan beberapa barang berharga. Laras sengaja tidak membawa pakaian. Dia tidak mau kepergiannya menimbulkan kecurigaan terutama untuk Galang. Seisi rumah ini pun tak perlu tahu kemana ia akan pergi, kecuali tentu saja Nalendra.


Ponselnya kembali bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Laras kembali membuka ponselnya.


[Besok pagi kita berangkat kerja seperti biasanya. Nanti di tengah jalan, kamu ganti mobil dan orang-orangku akan mengantarmu pulang ke kampung. Tidak perlu membawa barang. Sembunyikan tas kecilmu itu di dalam tas kerjamu seperti biasa. Paham?]


.


By: Jannah Zein


Makin penasaran kan kalian? Aku pun sama.


Ikutin terus kelanjutannya ya, jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏


Sambil nunggu update, baca juga karya temen aku ini yuk

__ADS_1



__ADS_2