
"Apa maksud kamu, Mas?" desis Laras sambil membalas tatapan kesal suaminya.
Laras tidak terima, tudingan yang dilontarkan Galang terlalu menyakitkan bagi indera pendengarannya.
Tahukah Galang seperti apa dia menjaga kesetiaannya selama ini? Tahukah Galang bagaimana dia berjuang untuk membesar anak mereka seorang diri? Tanpa pernah Galang mengirimkan nafkah untuk dia dan anaknya.
Bahkan Laras harus mengadu nasib di Ibukota hanya demi bertahan hidup, juga demi anaknya agar bisa mendapatkan pendidikan.
Seperih inikah balasan dari perjuangannya selama ini? Laras tidak habis pikir.
Tangan Galang tiba-tiba terulur dan mencengkeram dagu Laras. "Perempuan kotor! Apa kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak melihat apa yang kamu lakukan barusan?"
"Kamu melihat apa yang terjadi barusan, Mas?" tanya Laras sarkas, sambil tersenyum hambar.
"Tentu saja aku melihatnya, kau pikir mataku sudah minus?!" geram Galang.
"Jika matamu masih berfungsi dengan baik, sudah pasti kau bisa melihat seperti apa kejadian yang sebenarnya, bukan?" Laras menatap suaminya dengan kedua mata berkaca-kaca. Semua tuduhan yang dilontarkan suaminya, semakin menambah rasa sakit di hatinya.
Dia mengambil ember yang sudah kosong, karena ulah ceroboh Nalendra. Lantas berlalu meninggalkan Galang untuk mengambil air yang baru.
Laras lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya, daripada meneruskan perdebatannya dengan sang suami. Selain menghindari kata-kata yang lebih menyakitkan dari bibir Galang, Laras juga tidak ingin orang lain tiba-tiba melihat mereka berdua.
Meski menyakitkan, rahasia ini akan dia simpan. Demi keselamatan Ruby, Laras harus tetap menyimpan rahasia, kalau Galang adalah suaminya.
Perempuan itu segera melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin segera beristirahat. ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya, lelah jiwa dan raga, juga sangat menguras emosi.
Sepeninggal Laras, Galang mengeluarkan sumpah-serapah dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.
Dia tahu kejadian yang sebenarnya, Laras tidak bersalah dalam insiden dengan Nalendra tadi.
Sebenarnya Galang hanya sedang terbakar cemburu, dia tidak terima istrinya di bawah kungkungan pria lain. Akan tetapi, karena tidak mungkin meluapkan kecemburuannya kepada Nalendra, Galang memilih melampiaskannya kepada Laras.
Galang kembali ke kamar pengantin dengan wajah kesal. Dia belum puas menumpahkan kekesalan pada Laras, tetapi istrinya itu sudah keburu pergi. Seandainya dia tidak ingat kalau hari ini adalah hari pernikahannya, ia pasti akan membuat perhitungan dengan Laras.
*****
__ADS_1
Nadine duduk di atas ranjang pengantin untuk menunggu kedatangan suaminya. Dia terlihat begitu cantik dan fresh, gaun pengantin yang tadi melekat pada tubuhnya, kini sudah berganti lingerie berwarna merah pemberian kakak kembarnya.
Melihat kedatangan Galang, Nadine segera turun dari tempat tidur untuk menyambut suaminya.
Galang meneguk saliva melihat penampilan Nadine yang begitu menggoda, dalam sekejap dia sudah meraih tangan Nadine, dan mengunci istri keduanya itu dalam kungkungannya.
Galang meraup bibir istrinya dengan kasar, tidak ada kelembutan dan romantisme yang ia berikan sebagai pengantin baru. Yang ada hanya ciuman penuh nafsu, yang membuat Nadine kesulitan mengimbangi permainannya.
Nadine mendorong tubuh suaminya, ciuman kasar Galang hampir saja membuatnya kehabisan napas.
"Kamu kok kasar gitu sih, Mas?" Deru napas Nadine masih terengah-engah, dia memandangi suaminya dengan sorot mata kecewa.
"Maaf, Sayang. Kamu terlalu cantik, jadi Mas tidak sabar." Dia berucap lembut dengan kebohongan, sebenarnya saat ini dia masih kacau karena memikirkan Laras.
"Kamu mandi dulu sana, baru setelah itu ...." Nadine tidak meneruskan ucapannya, dia hanya menunduk malu dengan wajah bersemu merah.
Meski ada rasa kecewa karena ciuman kasar yang dilakukan suaminya, tapi pujian Galang berhasil membuat Nadine menjadi berbunga-bunga.
"Baiklah, Mas mandi dulu ya, Sayang." Galang memberikan kecupan di kening istrinya sebelum melangkah menuju bathroom.
Selang beberapa saat kemudian Galang keluar dari kamar mandi, dia naik ke atas ranjang dan bersiap melakukan ritual pengantin baru.
Tiba-tiba Galang menghentikan permainannya, setiap sentuhan yang dia berikan kepada Nadine, membawanya kepada Laras. Galang tidak bisa melanjutkannya, pikirannya benar-benar kacau.
Sebuah erangan kesal lolos dari bibir sensual Nadine, kecewa karena suaminya itu tiba-tiba menghentikan permainan, di saat dia mulai menikmatinya.
"Kamu kenapa lagi sih, Mas?" tanya Nadine heran.
Galang mengacak rambutnya dengan kasar, dia kehilangan fokus saat akan melakukannya dengan Nadine.
"Maaf, Sayang. Mas tidak fokus, mungkin akibat terlalu lelah karena resepsi tadi. Kita lanjutkan besok malam saja, ya!" Galang memberi alasan.
Nadine mendengkus kecewa, dia turun dari ranjang untuk mengganti lingerienya dengan pakaian tidur biasa, lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang, dengan posisi membelakangi Galang.
Kecewa? Siapa pun orangnya pasti akan kecewa! Ritual pengantin baru pada malam pertama, adalah hal yang sangat dinantikan oleh setiap pasangan.
__ADS_1
Akan tetapi, sekarang apa? Suaminya itu malah bertingkah aneh di saat dia sudah siap menjadi istri seutuhnya.
***
Pagi-pagi sekali Nyonya Aline sudah datang ke dapur, ditangannya ada beberapa amplop yang akan diberikan kepada pelayan. Amplop itu berisi uang bonus yang sudah ia janjikan sebelumnya.
Laras tersenyum senang, ini adalah upah pertamanya. Ya! Laras baru bekerja di sini selama dua minggu dan rencananya, semua uang ini akan dia kirimkan ke kampung.
Bonus yang diberikan Nyonya Aline cukup banyak, nilainya adalah satu bulan gaji pelayan di rumah ini.
Dengan bonus ini, Laras bisa mendaftarkan anaknya yang sudah berumur empat tahun untuk masuk PAUD, dan rasanya uang ini tidak akan habis untuk biaya hidup sebulan bagi ibu dan anaknya yang masih kecil.
Setelah selesai membuat menu sarapan pagi, Laras dan pelayan lainnya menata hidangan di meja makan.
Laras memalingkan pandangan saat tatapannya bertemu Galang, dia berusaha tidak menganggap keberadaan pria tersebut.
"Ale, untuk sementara ini kamu jangan dulu kembali ke N.Y, kamu di sini dulu untuk mengajari Galang mengurus perusahaan!" perintah Tuan Naufal setelah mereka selesai sarapan.
"Baik, Dad." Nalendra tidak menolak permintaan daddynya, dengan senang hati dia akan membantu saudara iparnya itu.
Di samping Nadine, Galang mengulum senyumnya. Inilah yang dia harapkan dengan menikahi Nadine, dia akan menjadi orang kaya dalam sekejap dan menjadi seorang bos perusahaan.
Laras kembali ke ruang makan untuk membawakan susu yang biasa dikonsumsi nyonya Aline.
Wanita paruh baya itu memiliki pola hidup sehat yang sangat teratur, dia selalu mengkonsumsi susu tinggi kalsium secara rutin untuk menjaga kesehatannya.
"Kau, pergi ganti pakaian! Lalu ikut aku ke kantor untuk menjadi asistenku!" perintah Nalendra menunjuk Laras.
Bersambung.
By: Poel Story27
Tinggalkan jejak dengan memberikan like, komen, dan jangan lupa hadiahnya juga, ya!
Terimakasih.
__ADS_1