DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Ancaman Mertua


__ADS_3

"Aku tidak ingin bercerai denganmu Mas"ucap Azura dengan mata yang berkaca-kaca memandang Devan yang duduk dikursi kerjanya.


Hati begitu sakit mendengar kata perceraian itu.


Dia selalu bermimpi memiliki pernikahan yang bahagia dengan lelaki yang dicintainya.


"Lalu kau mau apa?"tanya Devan pada Azura. Devan terlihat santai mengatakan kata-kata itu meskipun hatinya terluka melihat Azura bersedih.


"Aku hanya ingin jadi istrimu seutuhnya hik....hik..., ku mohon Mas sekali saja. Biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri"ucap Azura sambil memegang dadanya, menandakan hatinya begitu sakit harus memohon sesuatu yang seharusnya dia dapatkan itu.


"Aku tidak bisa dan akan selalu seperti itu selamanya"ucap Devan sambil menundukkan kepala karena tidak tega mengeluarkan kata-kata itu pada Azura.


Azura menatap dengan tatapan belas kasih, harapannya seakan hancur, dia seorang istri tapi hanya perhiasan yang dipajang agar semu orang yang melihat seakan Devan sudah memiliki perhiasan itu tapi dia tak pernah memakainya.


"Hik.....hik.....hik......aku tidak tahu kenapa Mas Devan seperti ini padaku hik ..hik...."ucap Azura sambil menangis tak hentinya.


Azura menangis meluapkan semua isi hatinya yang selama ini dipendam olehnya. Rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan sekarang semuanya dia luapkan dalam bentuk air mata yang menetes tak ada hentinya. Hatinya teriris, tercabik, dan tertusuk oleh kata-kata yang dilontarkan suaminya. Dia tak menyangka senyuman di pelaminan saat itu hanya awal dari kesedihannya selama bersama Devan.


Devan berdiri lalu berjalan menghampiri Azura. Dia memeluk Azura dalam dekapannya. Seandainya bisa dia tak mungkin menyakiti Azura. Tangisan Azura semakin pecah saat dipeluk Devan. Dia menangis bersandar di bahu Devan. Laki-laki yang dia kenal baik hati itu tak mau menyentuhnya sebagai seorang istri seutuhnya.


"Maafkan aku Azura"ucap Devan.


Hanya kata maaf yang terlontar dari mulut Devan, dia tidak bisa mengabulkan keinginan Azura meskipun dia memohon sekalipun.


Setelah bicara dengan Devan, Azura keluar dari ruangan itu. Ternyata Ibu mertuanya sudah berdiri di depan ruangan kerja Devan. Ibu mertuanya menatap Azura dengan tatapan yang tajam seakan Azura seorang tersangka.


"Kanjeng Ibu belum tidur?"sapa Azura dengan ramah.


"Kenapa matamu bengkak?"tanya Ibu Dewi sambil melihat ke mata Azura yang bengkak setelah menangis tadi.


"Gatal terkena debu Kanjeng Ibu"ucap Azura terpaksa berbohong pada Ibu Dewi. Dia tak mungkin menceritakan masalah yang sesungguhnya padanya.


"Gatal atau kau baru saja menangis?"tanya Ibu Dewi.


"Gatal Kanjeng Ibu"ucap Azura sambil menunduk.


"Apa artis memang diciptakan untuk berakhing sepandai ini"ucap Ibu Dewi dengan senyuman sinis mengakhiri ucapannya.


"..................."Azura hanya terdiam menundukkan kepalanya. Dia tidak mampu melawan Ibu Dewi. Mertuanya itu paling berkuasa di keluarga Barata. Apalah arti dirinya di keluarga Barata. Dia hanya anak pungut yang diambil dari panti asuhan. Masih beruntung dia disekolahkan oleh keluarga Barata.


Ibu Dewi meraih tangan kanan Azura lalu mencengkramnya dengan kencang.

__ADS_1


"Aw.........."Azura kesakitan dengan cengkraman itu.


"Beraninya kau meminta cerai dari Devan, kau tanggung akibatnya jika terjadi sesuatu pada Devan karena ulahmu"ucap Ibu Dewi melotot pada Azura.


Ibu Dewi begitu marah pada Azura, dia bahkan berani mencengkram tangan kanan Azura dengan kencang sampai Azura kesakitan.


"Ampun Kanjeng Ibu"ucap Azura.


"Aku memungutmu dari panti asuhan supaya kau berguna untuk keluarga ini"ucap Ibu Dewi.


"Iya Kanjeng Ibu"ucap Azura.


"Lihat, apa yang akan ku lakukan padamu jika kau berani minta cerai lagi dari Devan"ucap Ibu Dewi semakin kuat mengcengkram tangan kanan Azura.


"Aw........."Azura kesakitan saat Ibu Dewi semakin kencang mencengkram tangannya.


Ibu Dewi melepas cengkramannya dari tangan Azura.


"Cepat, kembali ke kamarmu!"perintah Ibu Dewi dengan suara yang kencang.


"Iya Ibu Dewi"ucap Azura.


Azura meninggalkan Ibu Dewi dari tempat itu, dia masuk ke dalam kamarnya. Azura langsung melompat ke ranjangnya. Dia tengkurap diranjang itu sambil menangis.


Azura bangun dan berjalan mengambil album fotonya bersama Devan dan Nico saat masih kecil dulu. Dia melihat foto mereka bertiga di foto itu.


"Mas Devan, Nico, kalian semua sudah berubah sekarang. Aku seperti tidak mengenal kalian lagi. Padahal dulu kita selalu bermain bersama"ucap Azura.


Flash Back On


Azura membereskan semua perlengkapan ke dalam ransel miliknya. Devan dan Nico masuk ke kamar Azura untuk mengajaknya berangkat sekolah. Mereka berdua selalu rajin mengajak Azura berangkat bersama.


"Azura ayo berangkat"ucap Devan menghampiri Azura yang berdiri didepan meja belajarnya


"Naik bus pasti menyenangkan atau naik andong" usul Nico pada Devan dan Azura.


"Boleh, tapi Kanjeng Ibu pasti marah nanti"ucap Azura mengingatkan mereka berdua pada peraturan yang harus mereka taati.


"Tenang, kita berangkat naik mobil dulu setelah keluar baru turun deh"ucap Devan memberikan solusi untuk mereka semua.


"Ide bagus Kak Devan"ucap Nico setuju dengan solusi yang ditawarkan Devan.

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa? gimana kalau nanti ketahuan sama Kanjeng Ibu?"tanya Azura ragu untuk melakukan hal yang diusulkan Devan dan Nico.


"Kita akan dihukum sama-sama"ucap Devan memberi mereka solusi yang terakhir.


"Setuju Kak Devan"ucap Nico yang menyetujui solusi terakhir yang ditawarkan Devan.


"Oke"ucap Azura menyetujui rencana mereka berdua.


Mereka bertiga berangkat sekolah dengan naik mobil pribadi kemudian mereka turun di halte bus. Mereka bertiga menunggu bus datang.


"Azura mau roti gak?"tanya Devan.


"Mau Mas Devan"ucap Azura.


Devan berjalan membelikan Azura roti di tukang jualan camilan.


"Azura mau minum gak?"tanya Nico.


"Boleh Nico"ucap Azura.


Nico membelikan Azura air minum di tukang jualan camilan. Setelah itu Devan dan Nico menghampiri Azura.


"Nih Azura"ucap Devan dan Nico bersamaan.


Devan memberikan roti pada Azura begitupun Nico memberikan air minum pada Azura.


"Makasih Kak Devan, Nico"ucap Azura.


Tak lama bus datang, mereka bertiga naik ke bus itu. Devan mencarikan kursi untuk Azura sedangkan Nico menjaga Azura yang masih berdiri ditengah jalan didalam bus itu.


"Azura duduk disini"ucap Devan.


"Iya Kak Devan"ucap Azura.


Azura duduk ditengah sementara Devan dan Nico mengapitnya. Tak lama Azura tidur, Devan meletakkan kepala Azura di bahunya tapi Nico mengambil kepala Azura di bahu Devan dipindahkan dibahunya. Devan kembali mengambil kepala Azura di bahu Nico dan meletakkannya dibahunya. Mereka berebut satu sama lain.


"Kak Devan ngalah dong sama aku"ucap Nico.


"Aku gak akan ngalah kalau itu menyangkut Azura" ucap Devan.


"Oh...kalau gitu ayo kita bersaing, siapa yang akan mendapatkan Azura"ucap Nico.

__ADS_1


"Ayo siapa takut? aku akan mendapatkan Azura" ucap Devan.


"Oke, lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan Azura"ucap Nico.


__ADS_2