
"Gista" ucap Rafka dan Azura.
"Apa kabar?" tanya Gista basa basi.
"Alhamdulillah, baik" ucap Rafka dan Azura.
Gista melihat Rafka terlihat mesra dengan Azura.
Mereka saling bergandengan tangan. Gista berpikir mungkin Rafka sudah kembali dengan Azura.
"Bagaimana kabarmu juga Gista?" tanya Rafka.
"Baik Mas" ucap Gista.
"Alhamdulillah kalau kabarmu baik" ucap Rafka.
"Gista, sudah lama kita tidak bertemu" ucap Azura.
"Iya" ucap Gista singkat.
"Bagaimana kalau kita mengobrol dikafe dekat toko mainan ini?" tanya Rafka.
"Oke" ucap Gista menyutujui usulan Rafka.
Rafka, Azura dan Gista duduk bersama satu meja di kafe itu. Mereka terlihat canggung. Biar bagaimanapun dulu mereka satu keluarga. Pernah ada ikatan diantara mereka bertiga.
"Mas dan Azura sudah bersama lagi, selamat ya" ucap Gista.
"Iya, terimakasih" ucap Rafka.
"Gimana kabar anak kalian?" tanya Gista.
"Alhamdulillah baik, kapan-kapan mainlah ke rumah, Biru dan Jingga pasti senang bertemu denganmu" ucap Azura.
"Anak kalian kembar ya?" tanya Gista.
"Iya, kembar" ucap Rafka dan Azura bersamaan.
Gista ikut senang mendengar anak Rafka dan Azura kembar, walaupun dilubuk hatinya yang terdalam dia terluka.
"Pasti menyenangkan memiliki anak kembar yang lucu-lucu ya" ucap Gista.
"Mereka memang sedang lucu-lucunya. Sudah mulai pintar bicara, komentar dan memberi saran. Mereka juga sudah mulai sekolah" ucap Rafka.
"Wah, asyik sekali kedengarannya" ucap Gista.
"Gista aku dengar kau akan menikah?" tanya Azura.
"Iya, akhir bulan ini" ucap Gista.
"Berarti sebentar lagi, semoga kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang terbaik untukmu" ucap Azura.
"Iya, terimakasih" ucap Gista sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Tak lama pelayan mengantar tiga buah jus untuk mereka yang diletakkan dimeja. Mereka bertiga meminum jus itu lalu kembali berbincang.
"Bagaimana kabar Nathan?" tanya Rafka.
"Baik" ucap Gista memasang wajah bahagia.
Gista tidak memberitahukan keadaan Nathan yang sebenarnya. Dia tak ingin terlihat bersedih didepan Rafka dan Azura.
"Aku dan Azura Insya Allah akan datang ke pernikahanmu" ucap Rafka.
"Terimakasih Mas" ucap Gista.
"Mas Rafka terlihat sangat bahagia. Mungkin karena dia sudah bersama Azura kembali. Seandainya aku yang ada diposisi Azura. Tapi semua sudah berlalu, kini aku dan Mas Nathan akan menikah. Semoga aku bisa bahagia seperti mereka" batin Gista.
Setelah berbincang-bincang cukup lama. Mereka sholat dhuhur berjamaah di mushola kafe itu. Gista berkaca-kaca dengan pemandangan ini. Dia teringat masa lalunya bersama Rafka dan Azura. Mereka bertiga sering sholat berjamaah bersama. Dia melihat Azura mencium tangan Rafka. Pemandangan yang juga pernah dilakukannya.
"Kenapa aku rindu masa laluku, mungkin aku masih bersama Mas Rafka dan mencium tangannya, tidak, aku sudah memilih bercerai darinya dan melanjutkan hidup baruku" batin Gista.
"Gista apa kau bawa mobil?" tanya Rafka.
"Tadi naik taksi Mas, mobilku sedang diservis" ucap Gista.
"Kalau begitu biarkan kami mengantarmu pulang" ucap Rafka menawarkan tumpangan.
"Iya Gista" ucap Azura.
"Oke" ucap Gista setuju dengan tawaran Rafka.
Rafka dan Azura mengantar Gista sampai ke rumahnya. Lalu mereka meninggalkan rumah Gista. Di dalam mobil Rafka dan Azura berbincang.
"Iya sayang, aku juga sudah lama tidak bertemu Gista setelah terapi terakhirnya" ucap Rafka.
"Semoga Gista menemukan kebahagiaannya ya Mas" ucap Azura.
Rafka mengangguk sambil mengendarai mobilnya.
"Mas kita mau kemana?" tanya Azura.
"Honeymoon sayang" ucap Rafka.
"Loh kok Mas gak bilang, kita belum bilang anak-anak, nanti mereka nyariin kita" ucap Azura.
Rafka menghentikan mobilnya ke tepi jalan lalu mendekati wajah Azura dan menciumnya dengan penuh kelembutan.
"Ada Opa, Oma, tante, dan baby sister yang akan menjaga mereka selama kita honeymoon" ucap Rafka.
"Mas kau sengaja merencanakan semua inikan" ucap Azura.
"Iya, biar kita bisa berduaan setelah sekian lama berpisah" ucap Rafka.
Azura langsung memeluk Rafka.
"Aku bahagia banget bisa bersamamu lagi Mas" ucap Azura.
__ADS_1
Rafka mencium kening Azura. Dia memeluknya erat dalam dekapannya.
************
Ibu Dewi kembali ke rumah keluarga Barata. Dia masuk ke dalam rumah tapi securiti menghalanginya masuk ke dalam rumah. Mobil Nico memasuki pintu gerbang rumah besar itu. Nico turun dari mobil menghampiri Ibu Dewi yang sedang berdebat dengan sekuriti.
"Kanjeng ibu untuk apa kau kesini lagi?" tanya Nico menyindir.
"Ini rumahku, tentu aku mau kembali kesini" ucap Ibu Dewi.
"Semenjak Mas Devan meninggal, rumah, perusahaan dan semua harta keluarga Barata menjadi milikku" ucap Nico.
"Kau tidak bisa memiliki semua ini" ucap Ibu Dewi.
"Kanjeng Ibu kau itu peselingkuh, anak Papa hanya aku, Mas Devan dan Mas Danu. Tapi Mas Devan meninggal, Mas Danu dipenjara jadi ya harta Papa jatuh ke tanganku" ucap Nico.
"Tidak bisa, kau hanya akan membuat perusahaan Papamu bangkrut" ucap Ibu Dewi.
"Ha...ha...ha...itu bukan urusanmu lagi Ibu tua" ucap Nico.
"Nico beraninya kau memanggilku seperti itu" ucap Ibu Dewi.
"Pak Sarif, Pak Mamat, seret ibu tua ini keluar" ucap Nico.
"Baik Tuan" ucap Pak Sarif dan Pak Mamat.
Ibu Dewi diseret keluar dari pintu gerbang oleh kedua sekuriti itu. Dia sampai terjatuh ditepi jalan.
Bluuuug.......
"Lain kali jangan kesini lagi" ucap Pak Sarif.
Ibu Dewi bangun dan berjalan ditepi jalan. Dia sangat kecewa dengan Nico. Selama lima tahun, dia tidak pernah berubah, tetap saja serakah dan gila harta. Ibu Dewi kembali lagi pulang ke luar kota. Dia tidak ingin Azura tahu apa yang sudah dilakukan Nico padanya.
**************
Gista kembali ke rumah sakit. Dia masuk ke ruang rawat inap. Tapi dia tak menemukan Nathan ada diruangan itu. Dia mencari kesana kemari keberadaan Nathan tapi tak menemukannya. Hingga dia mencari keseluruh tempat yang ada dirumah sakit. Dia juga bertanya pada siapapun termasuk petugas kesehatan, OB, sekuriti dan orang yang lulu lalang. Sampai Gista melihat Nathan berdiri dipembatas atap gedung rumah sakit. Gista yang berada diparkiran langsung berlari ke dalam rumah sakit. Dia naik lift menuju ke lantai teratas rumah sakit. Gista menaiki tangga menuju ke atap gedung. Dia melihat Nathan berdiri dipembatas atap gedung itu.
"Mas Nathan..." ucap Gista berteriak.
Nathan hanya diam saja dan melihat ke arah depan. Gista secepatnya menghampiri Nathan.
Dia berdiri dibawah Nathan.
"Mas ku mohon turunlah, Mas...." ucap Gista.
"Penyakitku sudah parah, hiduppun tak ada artinya. Aku hanya akan menjadi beban untukmu. Lebih baik aku pergi menyusul Hira istriku" ucap Nathan.
"Tidak Mas, ku mohon hik hik hik" ucap Gista sambil menangis.
"Maafkan aku Gista, terimakasih untuk semuanya" ucap Nathan.
Nathan melompat dari gedung lantai tiga itu.
__ADS_1
"Maaas Naaathaan......" ucap Gista berteriak kencang.