
Freya keluar dari kamarnya, Fina sudah menunggunya didepan kamar itu. Freya menatap Fina dengan tajam. Dia melihat Fina begitu menginginkan Freya bahagia. Freya tersenyum melihat adiknya lalu memeluknya.
"Lupakan masa lalu Kak Freya sambut masa depan, biarlah yang tidak berjodoh pergi begitu saja. Dia bukan yang terbaik untuk kakak"ucap Fina.
"Aku ingin bahagia sepertimu Fina, memiliki suami yang baik hati dan seorang buah hati"ucap Freya.
"Iya Kak, Allah pasti akan memberikan kakak jodoh yang baik hati dan setia. Kakak juga akan memiliki seorang anak yang lucu"ucap Fina.
"Amin"ucap Freya meneteskan air matanya.
Fina melepas pelukan Freya dan mengusap air matanya. Dia tahu betapa terluka hati kakaknya saat disakiti Andika. Padahal Freya sudah memberikan semuanya untuk Andika. Tapi lelaki itu malah membalasnya dengan luka yang membuat Freya trauma.
"Kak cobalah untuk ta'aruf dengan Dokter Haris. Kakak tahu dia punya panti asuhan. Jadi dia bukan orang sembarangan, dia orang yang benar-benar baik kak"ucap Fina.
"Baiklah aku akan coba ta'aruf dengan Dokter Haris"ucap Freya.
Freya memutuskan ta'aruf dengan Dokter Haris. Dia berpikir mungkin dengan ta'aruf dia bisa mengenal Dokter Haris lebih dalam.
Freya keluar bersama Fina. Dia duduk bertiga bersama Dokter Haris ditaman dekat kebun.Sementara itu Alif asyik menanam tanaman.
"Freya aku dengar kau pernah sekolah di SMA Bintang?"tanya Dokter Haris.
"Iya Dok"ucap Freya.
"Panggil saya Mas Haris saja"ucap Dokter Haris.
"Iya Mas Haris"ucap Freya mengulang ucapannya.
"Dulu saya juga sekolah di SMA Bintang, hanya saya lima tahun lebih duluan dari kamu"ucap Dokter Haris.
Freya hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.
"Saya dengan Mas Haris selalu jadi juara umum disekolah itu ya"ucap Fina.
"Fina terlalu memuji, hanya juara umum bukanlah apa-apa"ucap Dokter Haris.
"Kak Freya juga juara umum Mas Haris"ucap Fina.
__ADS_1
"Benarkah?"tanya Dokter Haris.
"Fina....."ucap Freya.
"Jangan malu Kak, itu kenyataan kok"ucap Fina.
"Apa itu benar Freya?"tanya Dokter Haris.
"Iya"ucap Freya singkat.
"Wah....aku berasa kecil duduk diantara para juara" ucap Fina.
"Fina"ucap Freya.
"Nah gitu dong Kak, relax"ucap Fina.
"Jadi kangen bangku sekolah dulu"ucap Dokter Haris mengalihkan pembicaraan.
"Iya saya juga rindu bangku sekolah dulu"ucap Freya.
"Kalau gak salah namanya....."ucap Freya masih berpikir.
"Ketoprak Mang Jali"ucap Freya dan Dokter Haris bersamaan.
Fina tersenyum dengan kekompakkan Freya dan Dokter Haris. Dia berharap ini awal yang baik.
"Setuju, besok kita ke SMA Bintang"ucap Fina.
"Iya boleh, besok saya akan menjemput kalian ya"ucap Dokter Haris.
"Naik bus saja"ucap Freya.
"Naik bus?"ucap Dokter Haris kaget dengan ucapan yang terlontar dari Freya.
"Begini Mas Haris, Kak Freya hobi naik bus. Kalau kemana-mana dia selalu naik bus"ucap Fina.
"Saya hanya ingin berbagi sedikit rejeki saya dengan mereka, ya walaupun tidak secara langsung"ucap Freya.
__ADS_1
"Masya Allah, aku benar-benar kagum padamu"ucap Dokter Haris pada Freya.
"Kak Freya memang begitu Mas Haris, dia selalu memikirkan orang lain yang membutuhkan"ucap Fina.
"Fina...."ucap Freya malu dengan Dokter Haris karena ucapan Fina.
Dokter Haris yakin untuk menikahi Freya meskipun ini baru ta'aruf dihari pertama. Baginya Freya sosok wanita yang baik dan penyayang. Dia saja saat menemuinya sedang melihatnya menaman tanaman bersama keponakannya dikebun. Itu menandakan Freya orang yang penyayang dan peduli pada orang lain.
***********
Saat Arian asyik tidur dia bermimpi indah dalam tidurnya. Dia melihat Freya begitu cantik. Freya duduk disebuah ayunan. Rambutnya panjang lurus mengenakan mahkota bunga dikepalanya. Mimpi itu terasa nyata. Arian menghampiti Freya yang asyik duduk diayunan dibawah pohon itu.
"Freya"ucap Arian.
"Arian"ucap Freya.
"Kau cantik sekali"ucap Arian.
Freya hanya tersenyum malu-malu.
"Aku dorong ya ayunannya?"tanya Arian.
Freya mengangguk, tiba-tiba ada sesosok lelaki tampan yang mengambil alih posisi Arian. Dia mendorong ayunan yang dinaiki Freya. Terlihat Freya begitu bahagia saat lelaki itu mendorong ayunannya. Arian hanya bisa melihatnya dari kejauhan bahkan semakin jauh dan jauh lalu menghilang. Arian berteriak sekencang mungkin memanggil Freya.
"Freya......aa.....aaa......."teriak Arian terbangun dari tidurnya.
Dia langsung duduk dan mengusap keringatnya yang bercucuran.
"Ternyata mimpi tapi rasanya seperti nyata. Bagaimana jika itu benar?"ucap Arian.
Arian bangun dan berjalan ke toilet untuk mandi lalu dia melihat televisi. Acara ditelevisi itu menayangkan tentang siaran keagamaan.
"Mungkin karena aku sering bolong sholat, jodoh, rejeki dan nikmat jarang aku rasakan"ucap Arian.
"Harta dan kekuasaan sudah membuatku terlena dan sering melupakan Allah, astagfirullah"ucap Arian.
Arian menyesali semua kesalahannya yang sering meninggalkan Allah dan asyik dengan kehidupan duniawi.
__ADS_1