
"Iya, tapi aku meminta sesuatu darimu" ucap Pasha.
"Meminta apa?" tanya Gista.
"Bercerailah dari Nathan setelah melahirkan anakmu, menikahlah denganku" ucap Pasha.
"Tidak, aku tidak mungkin bercerai dari Mas Nathan" ucap Gista.
"Keputusan ada ditanganmu, kau ingin suamimu selamat atau mati" ucap Pasha.
Gista langsung meneteskan air matanya saat mengingat Nathan yang semakin memburuk. Dia tak punya banyak waktu.
"Gimana?" tanya Pasha.
"Kenapa kau ingin sekali menikah denganku?" tanya Gista.
"Kau mungkin lupa siapa aku, tapi aku ingat betul siapa kamu bagiku" ucap Pasha.
Pasha mulai menceritakan siapa dirinya pada Gista.
Flas Back On
Saat itu Gista masih berusia 10 tahun. Dia pulang dari sekolah. Gista berjalan melewati taman yang selalu dia lewatinya. Tak sengaja Gista melihat anak seusianya dikeroyok teman sekelasnya. Mereka tiga orang anak lelaki. Gista langsung menghampiri mereka.
"Berhenti, gak boleh menyakiti orang lain" ucap Gista.
"Kita sedang bermain"
"Dia cuma anak gelandangan"
"Bau dan kotor"
"Tapi kita gak boleh menyakitinya, dia juga manusia seperti kita" ucap Gista.
Tiga orang teman sekelas Gista melepas tangan mereka dari tubuh Pasha. Mereka menghampiri Gista dan mengepungnya.
"Berani sekali kau padaku"
"Anak cewek aja sok"
"Ganggu aja"
"Aku tidak takut kalian ya" ucap Gista.
Tiga orang anak lelaki itu nengeroyok Gista tapi Gista langsung mengeluarkan ulat bulu peliharaannya yang ada ditoples miliknya.
"Nih untuk kalian" ucap Gista melempar ulat bulu satu-satu ke tubuh tiga orang lelaki itu.
"Iiih...." Tiga orang anak lelaki itu ketakutan dengan ulat bulu yang merayap ditubuhnya. Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah anak-anak itu pergi, Gista menghampiri Pasha. Dia membantu membersihkan pakaian Rafka dari kotoran yang menempel dibajunya. Lalu memberinya sebuah kotak bekalnya yang tidak dimakannya.
"Makasih" ucap Pasha.
"Siapa namamu?" tanya Gista.
"Pasha" ucap Pasha.
"Aku Gista" ucap Gista.
Pasha langsung memakan makanan dari kotak bekal itu dengan lahap. Sudah dua hari dia tak makan. Gista senang melihat Pasha menghabiskan semua makanan yang diberikan padanya.
"Besok aku akan kesini lagi, aku akan membawa bekal lagi untukmu" ucap Gista.
"Aku merepotkanmu" ucap Pasha.
"Tidak, mari berteman" ucap Gista.
"Iya, teman" ucap Pasha.
Gista dan Pasha memutuskan berteman. Kebetulan Pasha sebagai anak gelandangan tak memiliki teman. Dia hidup sendirian dan kelaparan.
__ADS_1
"Dimana orangtuamu?" tanya Gista.
"Orangtuaku sudah meninggal" ucap Pasha.
"Lalu kau tinggal dengan siapa?" tanya Gista.
"Aku gelandangan, tak punya rumah dan keluarga" ucap Pasha.
Gista mengusap kepala Pasha dengan tangan kanannya.
"Mulai sekarang kau tak sendirian, ada aku. Setiap pulang sekolah aku akan kesini membawa bekal dan bermain denganmu" ucap Gista
"Terimakasih Gista" ucap Pasha.
"Iya, jangan bersedih" ucap Gista.
Sejak saat itu Gista berteman dengan Pasha. Dia selalu membawa bekal untuk Pasha, bukan hanya bekal dia juga membawa pakaian, buku untuk belajar dan beberapa selimut dan mainan untuk Pasha. Setiap hari sepulang sekolah mereka bermain bersama dan belajar bersama, hingga Gista SMP. Tapi setelah lulus SMP, Gista dan keluarganya harus pindah keluar kota karena ayahnya Gista mendapatkan pekerjaan diluar kota. Gista terpaksa berpisah dengan Pasha. Dari saat itu Pasha selalu berusaha menunggu Gista dan mengejar mimpinya, dia bersekolah agar bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa bertemu Gista lagi.
Flash Back Off
"Kau ingat siapa aku?" tanya Pasha.
"Kau teman masa kecilku dulu" ucap Gista.
Pasha langsung memegang kedua tangan Gista.
"Aku mencarimu selama bertahun-tahun, menunggumu, dan berharap bisa bertemu denganmu lagi. Gista menikahlah denganku, ku mohon" ucap Pasha.
Gista seketika melepas tangannya yang digengam Pasha. Tapi Pasha tidak ingin melepas tangan Gista, dia malah memeluk Gista.
"Lepas Pasha....lepas...aku ini istri orang" ucap Gista berusaha melepas pelukan Pasha.
"Aku tidak akan melepasmu lagi, aku rindu, aku ingin bersamamu selamanya Gista" ucap Pasha.
"Tidak, aku ini istri orang. Aku mencintai Mas Nathan jadi lepaskan aku" ucap Gista.
Gista terus berusaha melepas pelukan Pasha tapi tidak bisa, Pasha memeluknya erat.
"Lepaskan Gista" ucap Rafka yang baru datang bersama Azura.
Pasha dan Gista melihat ke arah Rafka yang baru datang.
"Aku tidak akan melepas orang yang ku cintai" ucap Pasha.
"Aku akan menelpon polisi jika kau tak mau melepaskan pelukanmu" ucap Rafka mengancam.
Mendengar ancaman dari Rafka, Pasha melepas pelukannya.
"Ingat kata-kataku tadi, aku menunggu jawabanmu" ucap Pasha pada Gista lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Azura langsung menghampiri Gista dan memeluknya.
"Kau tidak apa-apa Gista?" tanya Azura.
"Tidak Azura" ucap Gista.
"Siapa dia Gista?" tanya Rafka.
Rafka penasaran dengan lelaki yang memeluk Gista dengan paksa.
"Dia hanya karyawanku dimini market" ucap Gista.
Gista tidak menceritakan siapa Pasha yang sebenarnya pada Rafka. Dia tidak ingin masalah yang dibicarakannya dengan Pasha diketahu Rafka.
"Kalau dia macam-macam, bilang padaku. Biar ku laporkan dia ke polisi" ucap Rafka.
"Iya, makasih Mas Rafka" ucap Gista.
Rafka mengangguk. Dia duduk disamping Azura.
Mereka mulai berbincang mengenai Nathan.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Nathan, Gista?" tanya Rafka.
"Kondisinya semakin memburuk Mas" ucap Gista.
"Semoga Nathan cepat sembuh, kau juga harus tetap semangat. Ada bayi kecil diperutmu. Jaga kesehatanmu, jangan stress" ucap Rafka.
"Iya Mas, terimakasih atas doa dan supportnya" ucap Gista.
Setelah menjenguk Nathan, Rafka dan Azura meninggalkan rumah sakit itu. Mereka berbincang didalam mobil.
"Mas kasihan Gista, sedang hamil tapi suaminya sedang sakit" ucap Azura.
"Iya, aku juga berpikir sama sepertimu" ucap Rafka.
"Apa kita ikut tes pemeriksaan, siapa tahu ginjal salah satu dari kita ada yang cocok untuk suami Gista" ucap Azura.
"Kau benar, sepertinya kita juga harus membantu Gista" ucap Rafka.
"Aku yakin tidak mudah untuk Gista melewati semua ini" ucap Azura.
"Iya sayang" ucap Rafka.
"Mas kita mampir sholat dulu, ada masjid tuh" ucap Azura.
"Oke sayang" ucap Rafka.
Rafka dan Azura berhenti disebuah masjid. Mereka turun dari mobilnya lalu masuk ke tempat wudhu. Tempat wudhunya kotor dan licin, mereka juga melihat masjidnya kotor dan terlihat berantakan.
"Mas, masjidnya kotor ya" ucap Azura.
"Iya sayang, seperti tidak terurus" ucap Rafka.
"Ayo kita bersihkan, rumah Allah menjadi tanggungjawab kita untuk menjaga dan merawatnya" ucap Azura.
"Oke" ucap Rafka sambil mengelus kepala Azura.
Rafka dan Azura menyapu, mengepel, merapikan semua barang dimaajid itu dan menggosok serta membersihkan toilet dan tempat wudhu. Mereka berishtirahat sejenak diteras masjid sesuai melakukan semua itu.
"Alhamdulillah selesai juga ya Mas" ucap Azura.
"Iya sayang" ucap Rafka.
Tiba-tiba marbot masjid datang. Dia melihat masjid sudah bersih dan rapi. Dia melihat kedua orang yang duduk diteras masjid, kemudian menghampirinya.
"Apa kalian yang membersihkan masjid ini?" tanya Pak Imam.
"Iya Pak betul" ucap Rafka dan Azura.
"Terimakasih ya nak, kalian berdua mau membersihkan masjid ini" ucap Pak Imam.
"Sama-sama Pak" ucap Rafka dan Azura.
"Beberapa hari ini bapak sakit, jadi tidak bisa membersihkan masjid ini" ucap Pak Imam.
"Memang bapak sakit apa?" tanya Rafka.
"Tidak tahu nak, sudah seminggu ini demam" ucap Pak Imam.
"Apa sudah ke Dokter?" tanya Rafka.
"Bapak tidak punya uang untuk pergi ke Dokter" ucap Pak Imam.
Rafka merasa iba mendengar ucapan Pak Imam. Baginya seorang marbot masjid harus dimuliakannya karena beliau adalah orang yang selalu menjaga dan membersihkan rumah Allah.
"Kalau begitu mari saya antar ke Dokter, soal biaya biar saya yang bayar" ucap Rafka.
"Terimakasih nak, maaf merepotkan" ucap Pak Imam.
"Tidak merepotkan Pak, saya dan istri sholat dulu. Setelah itu mari kita ke rumah sakit" ucap Rafka.
Rafka dan Azura sholat berjamaan dengan Pak Imam. Setelah itu mereka pergi ke rumah sakit. Rafka menemani Pak Imam berobat. Ternyata Pak Imam terkena penyakit tipes. Rafka membayar semua pengobatannya dan mengantar Pak Imam kembali ke rumahnya.
__ADS_1