DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Melamar Gista


__ADS_3

Lima bulan kemudian


Egi menemani Alifa bermain dihalaman rumah Gista. Dia mengajari Alifa belajar naik sepeda.


Semenjak kematian Nathan, Egi bertanggungjawab atas Gista, Alifa dan Gio kedua Nathan. Kini Gio baru berusia dua bulan. Gista menggendong Gio sambil melihat Egi bermain bersama Alifa.


"Papa Egi takut" ucap Alifa yang sedang memegang kedua stang sepedanya.


"Tenang, Papa pegangin" ucap Egi sambil memegang sepeda yang dinaiki Alifa.


"Mengayuhnya pelan ya Pa?" tanya Alifa.


"Iya, nanti kalau udah bisa boleh lebih kenceng" ucap Egi.


Egi dipanggil Papa oleh Alifa karena kakak dari Papanya. Lagi pula Egi sangat menyayangi Alifa seperti anaknya sendiri, itu sebabnya Alifa memanggilnya Papa.


"Mas Egi kita makan dulu" ucap Gista memanggil.


"Iya Gista" ucap Egi.


Egi meminta Alifa menyudahi belajar sepedanya. Mereka menghampiri Gista ditepi halaman.


"Mas Egi, Alifa mandi dulu baru makan ya" ucap Gista.


"Siap Bos" ucap Egi dan Alifa.


Egi dan Alifa mandi kemudian masuk ke ruang makan. Mereka makan bersama dengan Gista. Egi merasa memiliki sebuah keluarga. Kegagalannya yang dulu membuatnya ingin kembali membina sebuah keluarga bahagia. Dia sudah akrab dengan Alifa dan Gio. Hanya tinggal Gista yang masih menutup diri. Tapi amanah dari Nathan harus tetap dilakukannya. Selesai makan Egi menemani Alifa membaca dongeng dikamarnya sampai Alifa tidur. Lalu dia pergi ke kamar Gio. Dia melihat Gista sedang menyelimuti Gio yang berbaring diranjang bayinya.


"Gista, boleh aku masuk?" tanya Egi.


"Boleh, masuklah" ucap Gista.


Egi masuk ke kamar itu. Dia berdiri disamping Gista melihat Gio yang sedang tidur.


"Wajahnya mirip Nathan saat bayi" ucap Egi.


"Iya, dia mirip Mas Nathan" ucap Gista.


Egi melihat ke samping, dia memperhatikan Gista .


"Gista, aku ingin menikahimu. Bukan karena sekedar amanah. Tapi aku ingin membina sebuah keluarga, apa kau bersedia?" tanya Egi.


Gista terkejut saat Egi berkata seperti itu padanya. Tapi dia sudah berjanji pada Nathan akan menikah dengan Egi.


"Haruskah aku menikah dengan Mas Egi? tapi ini amanah Mas Nathan, Alifa juga begitu bahagia bersama Mas Egi" batin Gista.

__ADS_1


Egi terdiam memandang Gista. Dia berharap cemas menunggu jawaban Gista. Memang terlalu dini mengajak Gista menikah, tapi dia ingin menjalankan amanah dari Nathan sekaligus menjaga Gista dan kedua anak Nathan. Dia tak mungkin terus bersama mereka tanpa ikatan.


"Aku bersedia" ucap Gista.


"Alhamdulillah" ucap Egi.


"Tapi apa Mas Egi tidak apa-apa, jika dihatiku masih mencintai Mas Nathan?" tanya Gista.


"Tidak masalah, yang terpenting aku bisa menjaga kalian dan menghindari fitnah" ucap Egi.


Gista mengangguk. Egi mengeluarkan cincin dari saku celananya.


"Gista bolehkah aku menyematkan cincin tanda lamaranku padamu?" tanya Egi.


Gista mengangguk. Egi memakaikan cincin dijari manis Gista. Dia berharap ini akan jadi awal untuk hubungan mereka. Meskipun dihati Gista masih mencintai Nathan tapi dia yakin suatu hari nanti Gista akan mencintainya.


************


Radhitya melihat Manda makan nasi satu bakul dan semur jengkol satu rantang. Dia langsung menghampiri Manda yang duduk diruang makan. Nasi dan semur jengkol diambil Radhitya. Dia tak ingin istrinya makan kebanyakan. Tapi Manda ters merengek berusaha mengambil nasi dan semur jengkol dari tangan Radhitya.


"Sayang kesiniin" ucap Manda.


"Sayang, aku lihat akhir-akhir ini kau makan nasi dan jengkol semakin banyak, sampai Bi TK pesen jengkol dari kampung, itu pasti kamu yang nyuruhkan?" tanya Radhitya.


"Iya, habis rasanya laper terus" ucap Manda.


"Iya maaf, tapi satu piring lagi ya" ucap Manda memohon.


"Gak boleh, mulai sekarang makan jengkolnya diatur" ucap Radhitya.


"Tapi aku laper nanti sayang" ucap Manda.


"Kalau laper makan yang lainkan bisa" ucap Radhitya.


Tiba-tiba Manda mual. Dia berlari ke arah wastafel diruang makan itu. Manda muntah berkali-kali. Radhitya menghampiri Manda dan memijat lehernya.


"Sayang kau sakit?" tanya Radhitya.


"Gak tau, mual banget akhir-akhir ini, cuma makan jengkol aja aku doyan yang lainnya gak enak dimulutku" ucap Manda.


"Jangan-jangan kamu hamil Manda" ucap Freya yang menghampiri Radhitya dan Manda.


"Hamil?" ucap Radhitya dan Manda terkejut bersamaan.


"Iya hamil, kalau menurut Mami itu tanda-tanda hamil. Kalian harus cek biar tahu" ucap Freya.

__ADS_1


Radhitya langsung memeluk Manda. Dia senang sekali padahal belum juga pasti.


"Sayang jangan seneng dulu, kita belum cek nih" ucap Manda.


"Berarti kita harus segera cek" ucap Radhitya.


"Iya sayang" ucap Manda.


"Untuk sementara cek menggunakan test pack baru untuk lebih memastikan kalian ke rumah sakit" ucap Freya memberi saran pada Radhitya dan Manda.


"Iya Mi" ucap Radhitya dan Manda secara bersamaan.


Manda langsung ke toilet didekat dapur untuk menggunakan test pack. Sedangkan Radhitya dan Freya menunggu diruang makan. Selesai mengecek, Manda masuk ke ruang makan. Dia menunjukkan hasil test pack miliknya.


"Tuh kan Mami bilang apa? hamilkan" ucap Freya sambil melihat test pack dimeja.


"Alhamdulillah sayang" ucap Radhitya memeluk istri tercintanya.


"Iya sayang, aku seneng banget bisa hamil" ucap Manda.


"Aku juga seneng, akhirnya kita akan punya anak" ucap Radhitya.


Manda mengangguk. Mereka bahagia akan jadi orangtua. Manda bersyukur bisa bertemu Radhitya yang selalu baik dan sayang padanya. Apalagi semua keluarga Radhitya baik dan sayang pada Manda juga. Dia merasa hidupnya kini penuh kebahagian.


**************


Rafka mengendarai mobilnya. Kebetulan hari itu dia harus pulang malam. Dia melewati jalanan yang cukup sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melewati jalanan itu. Tiba-tiba ada orang berbaring ditengah jalan. Mobilnya tak bisa melewati jalan itu. Dia terpaksa menghentikan mobilnya dan turun dari dalam mobil. Dia menghampiri orang itu.


"Mas maaf, Anda menghalangi jalan" ucap Rafka.


Dia bangun dan berdiri didepan Rafka, beberapa temannya keluar dari persembunyian. Mereka mengepung Rafka.


"Serahkan kunci mobilmu?"


"Oh kalian ini begal" ucap Rafka.


"Iya, memangnya kenapa"


"Serahkan kunci mobilmu atau milih mati"


Rafka diam saja. Mereka langsung mengeroyoknya. Rafka melawan mereka semua. Terjadi babu hantam diantara mereka dan Rafka. Hampir saja mereka tumbang tapi seseorang memukul kepala Rafka dengan kayu balokan hingga kepala Rafka berdarah dan dia terjatuh. Begal-begal itu memukuli Rafka dan memukul kayu balokan itu ke kepalanya.


Seketika Rafka tak berdaya. Begal-begal itu mengambil kunci mobil Rafka dan meninggalkan tempat itu membawa kabur mobil milik Rafka.


Sedangkan Rafka yang masih sedikit sadar tapi melihat jalanan mulai kabur.

__ADS_1


"Azura, Biru, Jingga..." Kata-kata yang keluar dari mulut Rafka sebelum akhirnya menutup matanya.


__ADS_2