
"Aku... aku... " Elina bingung harus menjawab apa.
"Apa aku harus bilang Atnan tentang Davina? apa ini saatnya Atnan tahu semuanya?" batin Elina.
"Aku baru saja bertemu Da... " Elina mau bicara jujur tapi suara Azura memanggil Atnan.
"Atnan... Atnan... tolong... " Azura berteriak.
"Mama," ucap Atnan.
Atnan berlari menuju ke tangga. Elina menyusul dibelakangnya. Dilantai bawah Azura sedang memangku Rafka. Atnan dan Elina segera turun ke lantai bawah, menghampiri Azura dan Rafka.
"Ma, Papa kenapa?" tanya Atnan.
"Tadi Papamu terpeleset, kakinya terkilir Atnan," ucap Azura.
"Papa kita bawa ke rumah sakit Ma," ucap Atnan.
"Iya," jawab Azura.
Mereka membawa Rafka ke rumah sakit. Dokter segera memeriksa kondisi Rafka. Untung saja tidak terjadi masalah yang serius. Kakinya hanya terkilir. Rafka butuh istirahat agar pulih kembali. Rafka dibawa ke ruang rawat inap untuk mendapat perawatan. Azura terus berada disisinya begitupun Atnan dan Elina.
"Alhamdulillah Papa baik-baik saja," ucap Azura.
"Iya Ma, Papa masih ingin melihat cucu dan mengajaknya bermain," ucap Rafka.
"Iya Pa, kita akan sama-sama merawat cucu kita," ucap Azura.
"Atnan pulanglah, kasihan Elina kalau disini, diakan sedang hamil," ucap Rafka.
"Iya nak, biar Mama yang menjaga Papa dirumah sakit," ucap Azura.
"Baiklah, Pa, Ma, aku dan Elina pulang dulu," ucap Atnan.
"Semoga Papa cepet sembuh, Elina pulang dulu Pa, Ma," ucap Elina.
"Iya nak," ucap Rafka dan Azura.
Atnan dan Elina keluar dari ruang rawat inap. Mereka pulang ke rumah. Atnan terlihat dingin. Dia masih marah pada Elina yang tidak minta izin padanya pergi keluar begitu saja. Sampai kamar Elina memeluk punggung Atnan.
"Mas marah padaku?" tanya Elina.
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku Elina, aku tahu selama ini selalu tertutup padamu jadi kau tidak mau cerita masalahmu padaku," ucap Atnan.
"Mas kalau seandainya Davina ditemukan apa kau senang?" tanya Elina.
"Aku... aku... aku senang," ucap Atnan terbata-bata, penuh keraguan.
Elina terdiam sesaat. Dia tahu Davina pernah ada dihidup Atnan tidak mungkin Atnan semudah itu melupakannya. Dia pasti senang kalau Davina kembali.
__ADS_1
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Elina ingin mengetahui perasaan Atnan yang sebenarnya.
"Dulu awalnya aku sulit melupakan Davina. Aku bahkan terpaksa menikah denganmu demi Papa. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintaimu Elina"ucap Atnan.
"Aku juga awalnya menikah karena ingin balas budi pada Papamu. Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai mencintaimu," ucap Elina.
"Elina kalau ada masalah cerita padaku, aku ini suamimu, aku tidak akan seperti dulu lagi." Atnan meyakinkan Elina.
"Jika suatu saat kau bertemu Davina, apa kau akan mencintainya lagi?"tanya Elina berat mengucapkan pertanyaan itu pada Atnan.
"Aku....aku tidak tahu, apa aku bisa bertemu dengannya lagi. Tapi dihatiku sudah ada dirimu Elina. Aku ingin selalu bersamamu dan merawat anak kita. Berkumpul dirumah ini menghabiskan banyak waktu"ucap Atnan.
"Aku juga ingin selalu bersamamu Mas. Menghabiskan waktuku denganmu dan anak kita"ucap Elina lalu meneteskan air matanya.
"Elina jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis." Atnan berbalik, mengusap air mata di pipi Elina.
"Mas, aku sudah menemukan Davina," ucap Elina.
"Kau sudah menemukan Davina?" tanya Atnan.
"Iya Mas, apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Elina.
Atnan terdiam. Elina sudah mengambil keputusan. Apapun yang akan terjadi nanti dia sudah siap dengan segala konsekuensinya.
***********
Laura baru pulang dari bekerja malam itu. Tubuhnya penuh luka baret. Dia menahan perih dari luka itu. Lara yang belum tidur langsung menghampiri Kakaknya. Dia melihat tangan, pipi dan kakinya kakaknya penuh baret.
"Gak papa"ucap Laura.
"Ayo Kak duduk dulu, biar ku obati luka Kakak"
ucap Lara sambil mengajak Kakaknya duduk.
Lara mengambil kotak P3K,lalu mulai membersihkan luka Laura dan mengobatinya.Selesai itu dia berbicara pada Laura.
"Kak gimana ini bisa terjadi?"tanya Lara.
"Tadi waktu turun dari bus kakak terserempet motor"ucap Laura.
"Lalu yang menyerempet gak tanggungjawab ya?"tanya Lara.
"Iya,dia kabur gitu aja"ucap Laura.
"Kak ini yang selalu aku khawatirkan,Kakak harus kerja keras setiap hari sampai harus celaka seperti ini"ucap Lara.
"Kalau Kakak tidak bekerja,lalu bagaimana kita mencukupi kebutuhan sehari-hari"ucap Laura.
"Maaf ya Kak,aku jadi merepotkanmu"ucap Lara.
__ADS_1
"Hei,siapa yang merepotkan?justru Kakak berterimakasih karena kamu merawat Bagas.Kalau tidak ada kamu,entah bagaimana Kakak bekerja"ucap Laura.
"Kak,apa kakak coba cari suami saja.Jadi ada yang menafkahi Kakak"ucap Lara.
"Susah mencari laki-laki yang mau menikahi wanita yang sudah punya anak tanpa pernikahan seperti Kakak.Walaupun dia mau,tapi keluarganya belum tentu setuju.Belum lagi kalau dia hanya menerima Kakak,tapi tidak mau menerima Bagas,gimana?"ucap Laura.
"Iya sih Kak.Tapi aku gak tega lihat Kakak tiap hari seperti ini"ucap Lara.
"Bagi Kakak yang terpenting Bagas dan kamu bisa sekolah dan kebutuhan sehari-hari tercukupi.Doain Kakak ya Lara"ucap Laura.
"Tentu"ucap Lara.
Lara senang memiliki Kakak seperti Laura yang selalu bekerja keras tanpa mengeluh.Dia juga kuat dan tangguh menghadapi segala cobaan yang datang.Lara ingin Kakaknya bahagia suatu saat nanti.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Randi mengikuti acara perjodohan disebuah stasiun tv demi mencari pasangan yang ideal untuknya. Dia dikarantina bersama para gadis cantik dan lelaki tampan. Randi menyeret koper miliknya dilorong lantai atas diantara pintu-pintu kamar dikiri dan kanan lorong. Tak sengaja dia berpapasan dengan Jingga.
"Oh kau mengikuti acara seperti ini juga, jomblo sih wajar ya," hina Jingga pada Randi.
"Eh, yang jomblo aku, jadi kau gak perlu ngurusi urusan orang, lagian kau sendiri juga jomblo," balas Randi.
"Aku gak jomblo, cuma belum nemu yang pas aja," ucap Jingga.
"Semua yang ikut acara ini itu jomblo, termasuk kau, jadi jangan sombong ya," ucap Randi.
"Biar jomblo aku ini jomblo bermartabat, gak kaya kamu, jomblo kesepian," ucap Jingga.
"Paling kau yang kesepian, cewek galak sepertimu siapa yang mau," ucap Randi.
"Kau lihat saja, aku akan memenangkan acara ini dan dapet jodoh," ucap Jingga.
"Buktikan, jangan ngomong doang, bawel," ucap Randi.
"Dasar nyebelin," ucap Jingga.
"Bawel," ucap Randi.
Mereka terus berdebat sampai sengit, hingga beberapa kontestan lainnya melerai mereka. Akhirnya mereka menyelesaikan perdebatan panjang dan masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Sial, kenapa juga mesti ketemu makhluk menyebalkan seperti dia lagi," ucap Jingga.
"Ogah banget kalau ternyata dia dan aku dipasangkan, iiiw," ucap Jingga.
Jingga menghampiri kopernya. Dia membuka koper miliknya. Kebetulan koper itu tidak dikunci jadi dia membukanya begitu saja.
"Loh kok ini isinya bukan punyaku," ucap Jingga.
Jingga melihat-lihat isi koper itu. Ada bedak, lipstik, minyak nyong-nyong, pencabut bulu ketek, pengharum untuk kentut, pengharum bau mulut, pengharum ketek, buku rayuan-rayuan gombal, buku tips menaklukan wantia dalam sehari, baju tidur cowok berwarna pink, buku panduan mengatasi grogi didepan cewek cantik, buku mengatasi cewek galak dan bawel. Dan beberapa baju, perlengkapan mandi dan sholat.
__ADS_1
"Ha... ha... ternyata dia konyol juga, masa kopernya isinya beginian," ucap Jingga puas tertawa.
"Banyakan buku dari pada baju, dia benar-benar aneh, tapi ada buku mengatasi cewek galak dan bawel. Jangan-jangan dia terinspirasi dariku?" ucap Jingga.