
Pukul 5 Pagi
Rafka dan Azura terbangun dari tidur mereka. Awalnya mereka masih biasa-biasa saja, seakan mereka tidak menyadari pasangan mereka bukan pasangannya. Rafka bahkan mengira wanita yang dipeluknya itu Diana. Begitupun Azura, dia mengira lelaki yang memeluknya itu Devan suaminya.
"Sayang aku mau mandi dulu, belum sholat subuh"ucap Azura.
"Aku juga sayang, nanti kita lanjutin tidur lagi" ucap Rafka.
Mereka ke toilet bersama lalu mencuci muka terlebih dahulu, saat mata benar-benar terbuka dan kesadaran sepenuhnya pulih, mereka saling memandang dan melihat pada diri mereka masing-masing.
"Aaaaaaaaa.....aaaaaaa........"teriak Rafka dan Azura
"Kenapa kau ada disini?"tanya Azura.
"Nona aku tidak tahu"ucap Rafka.
Rafka dan Azura belum sepenuhnya ingat kejadian semalam.
"Tunggu semalam......."ucap Azura.
"Aku semalam........."ucap Rafka.
Mereka berdua sedang mengingat kejadian yang terjadi semalam.
"Kau lelaki yang semalam mengantarkanku"ucap Azura.
"Iya, semalam aku mengantarkanmu ke kamar hotel, lalu kau pingsan"ucap Rafka.
"Setelah aku pingsan kenapa kau masih di kamarku?"tanya Azura.
"Kepalaku pusing dan tubuhku sempoyongan lalu......"ucap Rafka.
"Lalu apa?"tanya Azura.
"Lalu aku tidak ingat lagi setelah itu"ucap Rafka.
Azura memikirkan ucapan Rafka, dia memperhatikan Rafka yang masih mengenakan pakaian lengkap begitupun dirinya.
"Yasudah, bisakah kau keluar dulu, aku mau mandi sebentar lagi waktu sholat akan berakhir"ucap Azura.
"Baik"ucap Rafka.
Rafka keluar dari toilet. Dia duduk diranjang sambil mengingat kejadian semalam.
"Apa yang terjadi semalam, apa aku melakukan.....??? bersama wanita itu?"ucap Rafka penuh tanya.
"Astagfirullahaladzim, Ya Allah ampunilah dosa-dosaku"ucap Rafka sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Rafka takut melakukan dosa besar. Dia merasa sangat berdosa, tidak seharusnya dia satu kamar bersama wanita yang bukan istri ataupun keluarganya. Ingin segera meninggalkan tempat itu tapi dia tidak ingin pergi dari tanggunjawabnya. Dia khawatir benar-benar telah merenggut kesucian wanita itu. Rafka menunggu wanita itu keluar dari toilet. Tak lama Azura keluar dari toilet.
"Kau tidak mandi?"tanya Azura.
"Iya, aku mau mandi"ucap Rafka.
Rafka pergi ke toilet setelah Azura. Sementara Azura sholat kemudian mengenakan pakaiannya kembali. Terdengar suara Rafka memanggilnya dari dalam toilet.
"Nona bisakah kau ambilkan pakaianku?"tanya Rafka.
"Iya, sebentar"ucap Azura.
__ADS_1
Azura membawa pakaian Rafka ke depan pintu toilet.
Tuk....tuk......tuk.......
Azura mengetuk pintu toiletnya.
"Ini pakaianmu"ucap Azura.
Rafka membukakan sedikit pintu toilet itu lalu mengambil pakaian yang diberikan Azura padanya. Dia mengenakan pakaian itu lalu keluar dari toilet. Rafka sholat disamping ranjang. Kemudian dia duduk bersama Azura disamping ranjang.
"Nona, jujur semalam aku hanya ingat mengantarkanmu sampai kamar hotel ini lalu kau pingsan, aku membaringkanmu diranjang kemudian aku pusing dan sempoyongan setelah itu aku......."ucap Rafka.
"Aku juga hanya ingat kau mengantarku ke kamar hotelku lalu aku tidak ingat lagi"ucap Azura.
"Sebagai laki-laki aku bersedia bertanggunjawab atas kerugian batinmu, aku bersedia menik....."ucap Rafka.
"Stop"ucap Azura menghentikan ucapan Rafka.
"Aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu, lagi pula semalam itu ketidaksengajaan, maafkan aku"ucap Azura.
"Kau tidak menuntutku? karena aku akan merasa bersalah jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik"ucap Rafka.
"Iya aku tahu, kau tidak bersalah. Ini pasti hanya kesalahfahaman saja, lagi pula aku sudah bersuami"ucap Azura.
"Oh....kau sudah bersuami?"tanya Rafka kembali.
"Iya, suamiku pasti menungguku, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum"ucap Azura.
"Wa'alaikumsallam"ucap Rafka.
Azura keluar dari kamar hotel itu.
Rafka membereskan perlengkapan miliknya lalu keluar dari kamar hotel itu. Dia keluar dari hotel itu menaiki mobilnya menuju ke rumahnya. Sampai dirumah Arian dan Freya sudah ada didepan pintu rumah bagai satpam.
"Assalamu'alaikum"ucap Rafka.
"Wa'alaikumsallam"ucap Arian dan Freya.
"Pagi Pi, Mi"ucap Rafka.
"Darimana saja kau semalam Rafka?"tanya Freya dengan tatapan dingin.
"Mamimu semalaman menunggumu diruang tamu, takut terjadi sesuatu padamu. Papi sampai diomelin berkali-kali gara-gara kamu tak pulang"ucap Arian.
"Maafkan Rafka Pi, Mi, semalam Rafka....."ucap Rafka.
Rafka memikirkan kejadian semalam tapi dia ragu menceritakan kejadian memalukan itu pada orangtuanya.
"Semalam apa?"tanya Freya.
"Sabar Mi, nanti darah tinggi harga garam semakin mahal"ucap Arian pada istrinya yang terlihat marah.
"Bagaimana bisa sabar, gimana kalau Rafka kenapa-kenapa tadi malam"ucap Freya.
"Mi jangan bertanduk dulu, aku belum pakai baju merah nih, pasar masih lockdown belum sempat beli"ucap Arian.
"Pi, Mi, semalam aku menginap dirumah teman" ucap Rafka terpaksa berbohong.
"Ya Allah ampunilah aku terpaksa berbohong" batin Rafka.
__ADS_1
"Kenapa tidak telpon atau chat Mami, setidaknya Mami tidak khawatir"ucap Freya.
"Aku ketiduran Mi, kecapean ngobrol terus ma temen"ucap Rafka.
Rafka menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada orangtuanya.
"Itulah sebabnya Papi dan Mami menyuruhmu segera menikah biar gak kaya gini, Mami tuh khawatir kamu melakukan sesuatu yang dilarang. Lebih baik menikah biar halal"ucap Freya.
"Kalau nikahkan bisa sepuasnya siang malam, ICU masih buka kalau tepar"ucap Arian.
"Papi....."ucap Freya menatap Arian dengan ganas.
"Ampun Mi, bercanda biar gak cepet keriput"ucap Arian.
"Maksudmu aku keriput gitu Pi"ucap Freya.
"Gak Mi, cantik, semok dan aduhai"ucap Arian.
"Papi setelah urusan Rafka selesai kita selesaikan urusan kita"ucap Freya.
"Mi, sabar nanti petani bawang merugi kalau Mami terus baper"ucap Arian.
Freya memalingkan mukanya dari Arian.
"Yaudah, sekarang kau sarapan sana. Mami sudah masak-masakan yang kau sukai nak"ucap Freya mulai mendingin.
"Iya Mi"ucap Rafka.
Rafka masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Radithya menghampiri Rafka.
"Kau tak berbakat berbohong Kak"ucap Radhitya.
"Apa maksudmu?"tanya Rafka.
"Semalam apa kau menghangatkan sesuatu yang sudah membeku sejak lama?"ucap Radhitya.
"Kau bicara apa, Kakak gak ngerti"ucap Rafka.
"Kak sulit memang hidup menduda, apalagi harus melewati malam yang sepi dan dingin"ucap Radhitya.
Plaaaak................
Luna menampar lengan Radhitya.
"Aw..........sakit Luna"ucap Radhitya.
"Habis masih pagi pikiranmu jorok Kak Radit" ucap Luna.
"Itu kenyataan"ucap Radhitya.
"Udah Kak Rafka jangan didengerin, Kak Radit apa sih yang gak jorok"ucap Luna.
Luna menarik lengan Rafka meninggalkan Radithya.
"Huh.....cewek galak, matre, cerewet susah lo nyari pacar"ucap Radhitya.
"Masa bodo, gak denger"ucap Luna dari kejauhan.
Luna menemani Rafka sarapan pagi itu. Dia selalu senang bisa membantu kakak baik hati seperti Rafka. Beda dengan sikapnya pada Radhitya yang selalu memusuhinya.
__ADS_1