
"Laura!" panggil Kenan.
Laura menunduk. Dia berjalan ke depan mengacuhkan Kenan.
"Tunggu Laura," ucap Kenan mengejar Laura.
"Kenan aku buru-buru, Bagas menungguku di rumah," ujar Laura.
"Aku ingin bicara sebentar saja," kata Kenan.
Langkah kaki Laura terhenti. Dia berbalik menatap Kenan di depannya. Sebenarnya dia ingin menghindari kontak fisik dengan Kenan tapi sulit, biar bagaimanapun mereka akan sering bertemu.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Laura.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kenan.
"Aku bekerja di sini," jawab Laura.
"Bekerja? bukannya aku sudah melarangmu bekerja?" tanya Kenan.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak ingin terus bergantung padamu, biar bagaimanapun kini kau sudah berkeluarga, aku tidak ingin membuatmu susah nantinya," jawab Laura.
"Aku ayah Alif, wajarkan aku menafkahimu dan Alif," ucap Kenan.
"Apa istrimu tahu soal ini? tidakkan? itulah sebabnya aku ingin bekerja, aku tidak ingin jadi beban untukmu," ujar Laura.
Renata ke luar dari pintu rumah menghampiri Kenan dan Laura yang sedang berbincang.
"Kau sudah pulang?" tanya Renata.
Kenan dan Laura terkejut saat Renata tiba-tiba muncul di antara mereka berdua.
"Iya sayang," jawab Kenan.
"Saya pamit pulang dulu Tuan Kenan, Nyonya Renata," ujar Laura.
Kenan dan Renata mengangguk. Segera Laura meninggalkan tempat itu. Dia tak mau masalah ini semakin panjang. Bisa curiga Renata kalau Laura tak segera pergi.
"Kau sedang apa dengan Laura?" tanya Renata.
"Aku sedang menanyakan identitasnya, aku baru tahu dia orang baru yang bekerja di sini," jawab Kenan.
"Oh iya, Laura memang orang baru yang bekerja di sini. Dia perawat untuk Elina," ucap Renata.
Kenan mengangguk.
"Ayo makan!" ajak Renata.
"Iya sayang," jawab Kenan.
Renata menggandeng tangan Kenan masuk ke dalam rumah. Dia senang sekali Kenan pulang sore.
***
Pagi itu Laura hendak berangkat bekerja. Dia dan Bagas bersiap di depan rumah. Tiba-tiba mobil Kenan berhenti di depan rumah Laura. Kenan turun dari mobil menghampiri Laura dan Bagas.
"Ayo ku antar," ujar Kenan.
__ADS_1
"Asyik di antar ayah," teriak Bagas kegirangan.
"Bagas saja, aku naik bus aja," ujar Laura.
"Hari ini aku cuti, sekalian pulang ke rumah, kita bareng aja ya?" ucap Kenan.
"Iya Bunda, biar ayah antar Bunda berangkat kerja," sahut Bagas.
Laura berpikir kemudian mengangguk. Kenan mempersilahkan Laura dan Bagas masuk ke mobilnya. Dia mengantar Bagas terlebih dahulu baru mengantar Laura. Sepanjang perjalanan Laura diam di kursi belakang tanpa bicara apapun pada Kenan.
"Laura kau sedang memikirkan apa?" tanya Kenan.
"Antar aku sampai halte saja, tidak enak kalau keluargamu tahu," ucap Laura.
"Maaf aku membuatmu merasa tak enak bekerja di rumahku," kata Kenan.
"Kau tidak salah, ini hanya kebetulan. Justru aku yang merasa tak enak. Sudah masuk ke dalam lingkungan keluargamu," ujar Laura.
"Lambat laun aku memang harus mengenalkan Bagas pada keluargaku, biar bagaimana pun Bagas anakku," kata Kenan.
"Aku tidak masalah kau menyimpan rahasia ini, pasti sulit memberitahu keluargamu siapa Bagas. Apalagi istrimu, dia akan salah faham dan terluka, aku tidak ingin itu terjadi," ujar Laura.
Kenan terdiam. Ada benarnya apa yang dikatakan Laura. Renata akan sulit menerima kenyataan ini. Bagaimana caranya Kenan memberitahu keluarganya bahwa Bagas anaknya.
Sampai di halte, Laura turun dari mobil. Kenan hendak melaju, tapi melihat tas Laura tertinggal. Dia turun dari mobil. Berjalan menghampiri Laura.
"Laura ... Laura ...," panggil Kenan.
Laura berbalik, menengok ke belakang.
"Ada apa Kenan?" tanya Laura.
"Kenan!" panggil Renata yang melihat keduanya berpelukan.
"Renata!" ucap Kenan dan Laura. Sontak mereka berdua melepas pelukan tak sengaja itu.
"Renata tadi aku tak sengaja terjatuh," ucap Kenan.
"Iya, tadi Tuan Kenan tak sengaja memelukku," ujar Laura.
"Ayo pulang!" pinta Renata pada Kenan.
"Iya sayang," jawab Kenan.
Kenan berjalan mengikuti Renata. Istrinya terliat diam. Kenan merasa dia marah dengan apa yang dilihatnya.
"Sayang kau marah?" tanya Kenan.
"Gak, kau tak sengajakan?" tanya Renata.
"Iya," jawab Kenan.
"Terus kenapa kau ada di situ?" tanya Renata.
"Tadi ..., mobilku masih di tepi jalan, aku ambil mobilku dulu ya," ujar Kenan.
"Aku pulang duluan, nanti kita bicara lagi," kata Renata.
__ADS_1
Kenan mengangguk.
Renata dan Kenan berjalan ke arah yang berbeda.
Renata kembali ke rumah. Dia masuk kamar, beberapa menit kemudian Kenan masuk ke dalam kamar.
"Sayang," ucap Kenan.
"Kenan aku hamil," ujar Renata.
"Apa? kau hamil?" tanya Kenan.
"Iya, aku cemburu melihatmu bersama Laura tadi, mungkin karena aku sensitif lagi hamil," ujar Renata.
Kenan langsung memeluk Renata. Dia senang sekali Renata hamil.
"Alhamdulillah, kita akan punya anak sayang," ucap Kenan.
Renata mengangguk.
Kenan dan Renata begitu senang akan memiliki buah hati di antara mereka.
***
Tujuh bulan berlalu. Elina sudah melahirkan. Kini anaknya berusia 4 bulan. Atnan begitu bahagia memiliki bayi laki-laki yang diberi nama Agra Yunanda. Laura masih bekerja di rumah keluarga Kenan. Setiap hari menemani Elina mengasuh putra pertamanya. Sore itu Atnan pulang cepat. Dia masuk ke kamar Agra.
"Assalamu'alaikum," sapa Atnan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Elina dan Laura.
"Papa pulang Agra," ujar Atnan.
"Agra bobo Pa," ujar Elina.
Atnan langsung menggendong bayi Agra yang tidur pulas.
"Papa udah cuci tangan belum?" tanya Elina.
"Udah dong Ma," jawab Atnan. Dia menggendong Agra sambil menciuminya karena gemas.
"Tuan, Nyonya, saya pamit pulang," ucap Laura.
"Iya," jawab Elina dan Atnan.
Laura ke luar dari kamar baby Agra. Dia berjalan menuju tangga berpapasan dengan Kenan.
"Laura," sapa Kenan.
"Kenan," ucap Laura.
Mereka berdiri di sudut ruangan. Tak jauh dari tangga.
"Besok aku akan menemani Bagas study tour," ujar Kenan.
"Kalau kau sibuk, biar aku saja yang mengantarnya," ucap Laura.
Laura dan Kenan terus berbincang, tak sengaja obrolan mereka di dengar Renata. Dia diam melihat Laura dan Kenan. Kemudian Renata meninggalkan mereka. Masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa hubungan Kenan dengan Laura? kenapa mereka terlihat akrab? siapa Bagas? kenapa Kenan mau mengantarnya study tour?" Banyak pertanyaan dipikiran Renata. Sambil mengusap perutnya yang sudah besar, Renata memikirkan Kenan dan Laura. Ada hal ingin dia ketahui dari mereka berdua. Selama ini beberapa kali Renata melihat Kenan dan Laura bicara berdua. Namun baru kali ini Renata mendengar dengan jelas perbincangan mereka berdua.