DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Nikahi Gista


__ADS_3

Gista bertemu dengan Pasha disebuah cafe. Mereka akan membicarakan tentang kesepakatan yang kemarin. Gista tak punya cara lain lagi selain menemui Pasha. Hanya lelaki itu harapannya saat ini. Meskipun syaratnya berat tapi semua itu demi kesembuhan Nathan. Gista dan Pasha duduk bersama satu meja.


"Apa keputusanmu?" tanya Pasha.


"Aku setuju" ucap Gista.


"Bagus, bercerailah dari Nathan setelah kau melahirkan anakmu" ucap Pasha.


"Iya" ucap Gista singkat.


Gista harus menyetujui keinginan Pasha demi keselamatan Nathan. Meskipun berat tapi ini jalan yang terbaik untuk Nathan.


"Setelah kau bercerai dari Nathan, kita akan pindah keluar kota. Dan kedua anakmu tak ada yang boleh ikut. Aku hanya ingin hidup bersamamu seperti dulu" ucap Pasha.


"Tapi, aku ini seorang ibu, mana mungkin meninggalkan mereka" ucap Gista.


"Gista, ikuti kemauanku kalau kau ingin suamimu sembuh" ucap Pasha.


"Kenapa kau ingin sekali menikahi, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku" ucap Gista.


"Tak ada yang lebih baik dan ku inginkan selain dirimu" ucap Pasha.


Seorang pelayan berdiri didepan meja mereka berdua. Dia menatap keduanya sambil mencatat.


"Hei kau? sedang apa?" tanya Pasha.


"Sedang mencatat harga cabai, takut naik lagi" ucap Mamut.


"Kamu pelayankan, ngapain nyatet harga cabai segala" ucap Pasha.


"Istri saya suka ngutang kalau harga cabai naik, maklum camilannya cabai setiap hari" ucap Mamut.


"Ngapain nyatet disini?" tanya Pasha.


"Itu karena saya baru inget saat Anda bilang tak ada yang lebih baik dan ku inginkan, kata-kata itu familiar diucapkan istri saya setelah kembali dari toilet" ucap Mamut.


"Udah selesai nyatetnya? out" ucap Pasha.


"Belum Tuan, kira-kira harga bawang berapa ya?" tanya Mamut.


"Gak sekalian tanya harga tempe dan tahu" ucap Pasha.


"Iya boleh, kedelai sedang naik katanya, habis pacaran sama kacang ijo" ucap Mamut.


"Pergi gak?" ucap Pasha.


"Tenang Tuan saya akan segera pergi, numpang jualan sandal jepit dulu. Kebetulan rumah saya deket pabriknya" ucap Mamut.


Pasha semakin meradang, ada pelayan kafe aneh dot kaya Mamut. Bikin rencananya gak maksimal, padahal mau nyerayu Gista dengan totalitas eh Mamut malah ngerecokin gak udahan malah mau lembur kali aja dibayar.

__ADS_1


"Oh gitu ya, saya beli sarung tinju sekalian, tangan saya panas mau nonjok orang" ucap Pasha.


"Ukuran berapa Tuan? L, XL, atau XXL?" tanya Mamut.


Tangan Pasha benar-benar mengepal. Dia kesal dengan lelaki konyol itu.


"Saya mau sarung tangan XXL yang terbuat dari batu kali biar sekali nonjok KO gak balik lagi" ucap Pasha.


"Wah Tuan, tidak boleh ada kekerasan, ingat UU dasar negara kita ayat...bla...bla...bla..." ucap Mamut bercerita panjang lebar.


Pasha sampai gabut dan hampir berada di alam lain tapi Mamut tetap bercerita seakan banyak pendengar setianya. Gista hanya tersenyum dengan Mamut yang aneh dan kocak. Tak lupa dia sesekali minum jus milik Pasha, seakan dia artis utama dalam cerita.


"Udah kelar ceritanya?" tanya Pasha.


"Belum Tuan, masih dua buku lagi, mau berbayar atau pakai kuota aja biar irit?" tanya Mamut.


"Saya mau pakai palu biar sekalian benjol yang bercerita" ucap Pasha.


"Kalau gitu pesan sama saya saja palunya, selingkuhan tante saya pandai besi. Dia bisa membuat palu juga" ucap Mamut.


"Aduh, bisa gila kalau diteruskan" batin Pasha.


Pasha hanya diam saja mendengar Mamut bercerita hingga dia kembali bekerja lagi. Dia mengelus dadanya saat Mamut pergi. Untung belum berbuku-buku Mamut bercerita. Kalau gak, Pasha udah siap-siap nimpuk pakai meja.


Setelah kesepakatan dari keduanya. Pasha meninggalkan kafe. Gista juga keluar kafe, terdengar suara orang ricuh. Didepan jalanan kafe, banyak orang berkerumun. Gista penasaran, dia menghampiri kerumunan itu, ternyata Pasha yang dikerumuni banyak orang itu. Pasha berbaring dijalan dengan darah keluar dari hidung, mulut, telinga dan kepalanya. Dia meninggal ditempat. Gista langsung menangis melihat itu. Pasha satu-satunya harapan Gista. Tapi Pasha malah meninggal. Tubuh Gista rasanya lemas tak berdaya dan mata gelap, dia tak mampu menatap kenyataan ini. Seketika Gista pingsan.


Gista mendengar suara memanggilnya. Suara seorang lelaki. Suara itu mulai terdengar jelas.


Gista membuka matanya, Egi sudah ada didekatnya. Dia nengingat kembali kejadian sebelumnya.


"Pasha...Pasha dimana?" tanya Gista.


"Pasha meninggal" ucap Egi.


"Tidak...dia harapan satu-satunya untuk Nathan saat ini" ucap Gista.


"Gista, Nathan kritis, dia ingin bicara denganmu" ucap Egi.


"Apa?" ucap Gista terkejut.


Gista langsung beranjak dari ranjang, dia berlari keluar dari ruang rawat inap tempatnya tadi beristirahat, dia menuju ke tempat Nathan berada. Nathan sudah dipindahkan keruangan ICU. Dia kritis, Gista masuk ke ruangan itu. Dia memegang tangan Nathan sambil menangis.


"Hik hik hik Mas Nathan" ucap Gista.


Egi masuk ke ruangan itu juga menyusul Gista. Dia berdiri disamping ranjang Egi diseberang Gista. Nathan masih sadar walaupun sudah kritis. Nathan mengambil tangan Egi, dia yang sesak nafas berusaha bicara pada Egi.


"Kak Egi, aku titip Gista dan anak-anakku, nikahi Gista dan rawatlah anak-anakku" ucap Nathan terbata-bata saat mengucapkan pesan.


"Tidak, kau tidak boleh bicara seperti itu" ucap Egi.

__ADS_1


"Mas Nathan hik hik hik" ucap Gista sambil menangis.


"Sayang maafkan aku, menikahlah dengan Kak Egi setelah nanti kau melahirkan, aku tidak bisa menemanimu lagi" ucap Nathan.


"Tidak Mas...tidaaak" ucap Gista.


"Nathan kau harus sembuh" ucap Egi.


"La illaha illallah" ucap Nathan.


Nathan menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucapkan lafaz tahlil. Gista langsung berteriak histeris, Egi menghampirinya untuk mendampinginya.


"Maas Nathaaan....." Gista berteriak kencang.


Egi membiarkan Gista meluapkan kesedihannya dulu. Gista menangis tersedu-sedu, dia tak menyangka Nathan akan pergi meningalkannya.


Apalagi Gista sedang hamil anak Nathan.


Tak lama Rafka dan Azura tiba dirumah sakit untuk mengikuti tes pemeriksaan ginjal mereka, tapi ternyata Nathan telah tiada. Rafka dan Azura masuk ke ruang ICU tempat Nathan dirawat. Mereka nenghampiri Gista yang sedang menangis.


"Gista, Allah lebih sayang pada Nathan. Ikhlaskan agar jalannya mudah untuk Nathan kembali pada Allah SWT" ucap Rafka.


"Tapi Mas Nathan belum sempat bertemu anaknya kenapa dia harus pergi duluan hik hik hik" ucap Gista.


Azura memeluk Gista. Dia bisa merasakan kesedihan Gista atas kepergian Nathan.


"Gista, semua suratan takdir dari Allah SWT. Semuanya pasti ada hikmahnya. Semoga Mas Nathan bisa kembali pada Allah dengan tenang" ucap Azura.


Semua orang diruangan itu bersedih. Terutama Gista yang bersedih sampai pingsan. Akhirnya Rafka dan Egi membawa Gista ke ruang rawat inap.


************


Pemakaman Kamboja Merah


Gista duduk disamping nisan Nathan bersama Alifa. Mereka berdua menangis, Egi dibelakang mereka berdua memegang bahu mereka. Dia tahu kesedihan Gista dan Alifa atas kepergian Nathan. Rafka, Azura, Radhitya, Manda, Luna, Arian dan Freya juga hadir ke pemakaman Nathan. Hanya Pak kedua orangtua Nathan yang tidak hadir diacara itu.


"Mas Nathan semoga kau bahagia dan tenang disana. Aku dan Alifa akan selalu mendoakan dan mengenangmu. Semoga Allah menerima amal ibadahmu, meringankan sisa kuburmu, dan mengampuni segala dosa-dosamu, amin" ucap Gista.


"Amin" ucap Semua orang.


Rafka dan keluarga pamit pulang setelah pemakaman itu selesai.


"Gista, yang sabar ya, kuatkan hatimu, ikhlaskan semuanya, aku dan keluarga pamit pulang" ucap Rafka.


"Iya Mas Rafka" ucap Gista.


Rafka dan keluarganya keluar dari tanah pemakaman itu. Tinggal Gista, Alifa dan Egi yang ada tempat itu.


"Gista, Alifa ayo pulang" ucap Egi.

__ADS_1


Gista dan Alifa mengangguk. Mereka pulang bersama Egi. Kini Egi punya tanggunjawab dan amanah Nathan kepadanya. Dia berjanji akan menjaga Gista dan anak-anak Nathan.


__ADS_2