
Laura mendekat berdiri tepat di samping Renata.
"Renata aku minta maaf, Kenan suami yang baik, dia setia dan mencintaimu. Hubunganku dan Kenan hanya sebatas orangtua untuk Bagas," ujar Laura sambil berurai air mata melihat kondisi Renata.
"Iya, maafkan aku Laura. Aku ingin kau dan Kenan bersama dan menikah. Kalian memiliki anak," ucap Renata.
Laura langsung memegang tangan Renata dan menggeleng.
"Tidak, kau pasti sembuh. Sehat lagi. Bayimu membutuhkanmu," ujar Laura.
"Waktuku tak banyak, aku titip anakku padamu, sayangi dia seperti anakmu," kata Renata terbata-bata. Laura hanya menggeleng dan menangis, dia tak sanggup berkata-kata.
Melihat itu Kenan memegang tangan Renata yang satu lagi, dia mencium kening Renata.
"Tidak sayang, kita akan membesarkan anak-anak kita, kita akan tua bersama, punya cucu," ucap Kenan.
Renata hanya tersenyum. Tangannya semakin dingin. Nafasnya semakin sesak, dia mengangkat dadanya hingga mengakhiri nafas terakhirnya.
"Innalilahi wa' innalilahi roj'iun," ucap Laura dan Kenan bersamaaan.
"Sayang ...," ucap Kenan. Air matanya pecah melihat kepergian istri tercintanya. Dia memanggil Renata meskipun dia tahu tak mungkin kembali lagi.
Laura mendekati Kenan memegang bahunya.
"Sabar ya Kenan, Renata pergi dengan tenang," ucap Laura.
Kenan mengangguk.
Hari itu Renata dikuburkan di Pemakaman Lily Merah. Kenan dan keluarganya sudah ada di pemakaman begitupun dengan Laura. Kenan duduk di samping nisan. Dia orang yang paling kehilangan Renata. Begitupun dengan adik-adik asuh Renata.
"Mas, Kenan butuh dukungan kita, dia harus bisa kuat atas kepergiaan Renata," ucap Elina.
"Iya sayang, aku ke sana dulu," ujar Atnan.
Elina mengangguk.
Atnan menghampiri Kenan duduk di sampingnya.
"Kenan kepergiaan Renata memang berat kita semua, tapi masih ada bayimu yang harus kau beri rawat dan kasih sayang, kau harus semangat. Semua yang terjadi sudah takdir dari Allah SWT, ikhlaskan biar Renata tenang di sana," ucap Atnan.
__ADS_1
"Kau benar Kak, terimakasih," kata Kenan.
Atnan mengangguk.
Setelah pemakaman Renata, Kenan kembali ke rumah sakit untuk mengurus bayinya. Dia ditemani Laura pergi ke rumah sakit. Mereka pergi ke ruang bayi untuk melihat bayi yang dilahirkan Renata.
Bayi Kenan sedang tidur pulas di ranjang bayi. Mata Kenan berkaca-kaca melihat bayinya. Dia mengambil bayinya, menggendongnya sambil menatapnya yang masih tidur.
"Sayang, ini Papa," ujar Kenan.
"Namamu Amara Cessya Nak, jadilah anak sholehah," ujar Kenan.
Bayi Amara tiba-tiba menangis. Mulutnya membuka dan menangis kencang.
"Kenapa Amara?" tanya Kenan.
"Dia haus Kenan," jawab Laura.
"Haus?" tanya Kenan.
"Iya, lihat mulutnya membuka dan mencari keberadaan susu ibunya," ujar Laura.
"Aku harus gimana?" tanya Kenan.
Kenan mengangguk.
Segera Laura menghampiri perawat penjaga ruang bayi. Meminta susu, kemudian dia membuat susu untuk bayi Amara. Laura membawa susu yang dibuatnya, memberikannya pada Kenan.
"Berikan susunya," ucap Laura.
"Oke," sahut Kenan. Dia mulai memberi baby Amara susu. Namun Amara masih rewel dan menolak susu yang diberikan Kenan.
"Bolehkah aku yang menggendongnya?" tanya Laura.
Kenan mengangguk. Memberikan baby Amara ke Laura. Di tangan Laura baby Amara langsung diam dan menyusu.
"Mungkin Amara memang membutuhkan kasih sayang seorang ibu," batin Kenan melihat Laura mengendong bayinya.
Kenan berpikir dia tak bisa merawat baby Amara sendirian. Dia membutuhkan seorang ibu untuk Amara. Laura adalah wanita yang paling cocok untuk ibu anak-anaknya.
__ADS_1
Usai menyusu, Baby Amara kembali tidur. Kenan dan Laura ke luar dari ruangan bayi. Mereka berdua berjalan di lorong kemudian masuk ke kafe rumah sakit yang berada di lantai satu.
Kenan dan Laura duduk di meja yang sama. Kenan merasa harus membicarakan hal ini pada Laura, bayinya membutuhkan ibu.
"Laura," ucap Kenan.
"Ya," sahut Laura.
"Aku tidak bisa merawat Amara sendirian, dia butuh seorang ibu, maukah kau jadi ibu untuk Amara, dan istri untukku?" tanya Kenan.
Laura terdiam sesaat. Memikirkan permintaan Kenan.
"Aku tahu, dulu aku sudah merenggut kesucian mu dengan paksa, kau harus hidup kesulitan membesarkan Bagas, mungkin ini terkesan buru-buru, tapi Amara membutuhkanmu, begitupun dengan Bagas, dia akan lebih bahagia kalau kita bersama," ujar Kenan.
"Iya, aku mau jadi ibu dan istrimu," jawab Laura.
"Terimakasih Laura," ujar Kenan.
Keputusan Kenan untuk menikahi Laura selain untuk Amara, amanah dari Renata, lebih dari itu mereka memiliki Bagas, akan lebih mudah merawat dan membesarkan Bagas jika mereka bersama.
***
Tiga bulan berlalu. Pagi itu Laura duduk di depan cermin, dua sudah rapi mengenakan baju pengantin, bersiap untuk melakukan akad nikah. Lara menghampiri kakaknya. Dia senang akhirnya kakaknya menikah. Apalagi lelaki yang akan menikahinya adalah ayahnya Bagas, lelaki yang telah merenggut kesuciaannya.
"Kak cantik banget, Kak Kenan pasti gak bisa berkedip melihat kakak," ujar Lara.
Laura tersenyum malu.
"Kamu bisa aja," ucap Laura.
"Aku seneng banget, akhirnya kakak menikah, semoga kakak bahagia," ujar Lara.
"Amin," sahut Laura.
"Ayo Kak, sudah ditunggu di pelaminan," ujar Lara.
Laura mengangguk.
Lara mengantar Laura ke luar dari ruang rias, menunju ke pelaminan. Kenan dan penghulu sudah duduk menunggu Laura. Perlahan Laura berjalan di dampingi Lara menghampiri Kenan. Mata Kenan tertuju pada Laura yang begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Kenan tersenyum. Begitupun dengan Laura. Mata mereka saling bertautan, jantung berdetak kencang. Kenan mulai merasakan cinta yang mulai tumbuh untuk Laura.
__ADS_1
"Kak udah jangan dilihat terus Kak Kenannya, belum akad," ujar Lara meledek kakaknya.
Laura langsung menunduk malu. Dia duduk di tempat yang sudah disediakan untuk pengantin wanita, agak jauh dari tempat Kenan duduk. Pukul 9 pagi, Akad nikah dimulai. Kenan dengan lantang mengucapkan kalimat akad nikah. Akhirnya mereka berdua sah menjadi suami istri.