
Kenan terdiam. Dia sudah tahu Renata takkan setuju dengan semua ini.
"Aku sudah tahu jawabannya. Kau tak perlu menikahiku, cukup mengakui Bagas sebagai anakmu itu sudah cukup, dan jangan pisahkan aku dengan Bagas," ucap Laura.
"Kau yakin dengan permintaanmu?" tanya Kenan.
"Iya, kebahagiaan yang dibangun di atas luka hati seorang istri takkan membawa kebahagiaan," ujar Laura.
"Laura terimakasih, kau sangat baik, Bagas beruntung terlahir dari wanita sebaik dirimu," ucap Kenan.
Laura hanya mengangguk. Baginya yang terpenting kebahagiaan Bagas. Itu sudah lebih dari cukup.
"Kalau begitu biarkan aku menafkahimu dan Bagas, kalian harus hidup layak, selama ini kau sudah melewati begitu banyak penderitaan karena perbuatanku, biarkan aku membahagiakanmu," kata Kenan.
"Aku bisa bekerja," ujar Laura.
"No, kau tidak boleh bekerja lagi. Mulai sekarang kau harus bahagia, semuanya aku yang akan menanggung percayalah," ungkap Kenan.
Laura mengangguk. Tak lama Bagas masuk ke dalam. Dia berlari ke arah Kenan dan memeluknya erat.
"Om makasih ya, mainannya bagus deh," ucap Bagas.
"Bagas ini ayah, bukan Om," ujar Kenan.
"Om ayah Bagas?" tanya Bagas.
"Iya, ini ayah Bagas," jawab Kenan.
Bagas melihat ke arah Kenan lalu melihat ke arah Laura.
"Benarkah Bunda?" tanya Bagas pada Laura.
"Iya sayang, Om Kenan ayahmu," ujar Laura.
"Asyik Bagas punya ayah." Bagas sumringah. Dia senang sekali saat tahu Kenan ayahnya.
Kenan mencium kening Bagas, memeluknya erat.
__ADS_1
"Ayah, Bagas rindu," ucap Bagas.
"Iya, ayah juga rindu Bagas," sahut Kenan.
"Ayah harus jagain Bunda, kasihan Bunda capek kerja terus," ucap Bagas.
"Pasti, Bunda harus bahagia," kata Kenan.
Laura senang melihat Bagas sudah bertemu ayahnya. Selama ini Bagas selalu bermimpi bertemu ayahnya, akhirnya terwujud. Bagas bisa memeluk, memanggil namanya dan bermain bersamanya. Tak ada lagi yang diinginkan Laura selain kebahagian Bagas.
***
Pagi itu Atnan terbangun. Dia melihat ke arah samping. Davina masih dalam pelukannya. Atnan coba membangunkan Davina, tapi tak kunjung bangun juga. Saat dia memperhatikan nafasnya sudah tak terlihat bernafas. Atnan mengecek nadinya.
"Innalilahi wainailaihi roj'iun," ucap Atnan.
Selembar kertas masih dipegang Davina. Atnan mengambil kertas itu dan membacanya.
Dear Atnan
Selama ini aku merindukanmu. Ku cari dirimu dalam kegelapan tapi tak kunjung ku temukan. Aku terjerat ke dalam lembah yang dalam dan curam. Tak mampu menemuimu lagi. Kotor, menjijikkan, tak pantas bersanding lagi denganmu. Seorang wanita baik hati sudah merawatku yang gila ini hingga sembuh, dan ternyata dia adalah wanita yang kini ada di hatimu. Aku ikhlas melepasmu Atnan bersamanya. Aku bisa pergi dengan tenang. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu dulu. Semoga kau bahagia, terimakasih atas cinta dan kasih sayangmu.
Atnan menangis. Dia tak menyangka Davina akan pergi secepat itu. Belum juga dia bicara sudah pergi jauh. Tak lama Elina masuk ke dalam kamar. Dia melihat Atnan menangis memegang sebuah kertas dan Davina berbaring di ranjang tak bergerak.
"Mas ada apa?" tanya Elina.
"Davina sudah pergi," jawab Atnan.
"Innalilahi wainailaihi roj'iun," ucap Elina. Dia tahu apa yang sekarang dirasakan Atnan. Biarbagaimanapun Davina pernah mengisi hatinya. Elina menghampiri Atnan memeluknya.
Mereka berbagi duka bersama. Mengikhlaskan kepergian Davina.
Pemakaman Bougenville
Elina berdiri di atas Atnan yang sedang duduk di dekat nisan Davina. Seikat bunga mawar putih diletakkan di nisannya. Rafka, Azura, Kenan, Renata dan Jingga ikut melayat di pemakaman. Mereka juga ikut berduka dan mendoakan Davina.
"Mas ayo pulang," ucap Elina.
__ADS_1
"Iya sayang," sahut Atnan. Sebelum pergi Atnan mencium nisan Davina, mengucapkan kata perpisahan lalu berjalan bersama Elina dan keluarganya keluar dari pemakaman.
***
Randi duduk bersama Siska di sebuah restoran. Mereka melakukan kencan untuk ketiga kalinya. Setelah memenangkan ajang pencarian jodoh itu, pertemuan mereka mulai intents. Randi memasang wajah datar, dia mulai muak dengan Siska yang selalu membucarakan barang-barang yang dibelinya.
"Kemarin tuh yang aku beli tas limitied, kata temenku baru aku yang punya loh," ucap Siska.
"Iya," jawab Randi singkat.
"Ada pameran jam berlian, mau ikut gak?" tanya Siska.
"Terserah," jawab Randi.
Siska sibuk menunjukkan barang-barang branded di layar ponselnya pada Randi sedangkan Randi tidak antusias melihatnya, dia terkesan malas dan bosan.
"Yang kalau aku pakai dress buatan Timoruri bagus gak? dia desainer terbaik tahun ini," ungkap Siska.
"Iya," jawab Randi.
"Kamu kok cuma iya, bilang apa kek gitu," ujar Siska.
"Kau yang pakai, aku gak tahu seleramu," ucap Randi.
Siska kembali menunjukkan dress-dress lainnya karya desainer kondang lainnya, tapi Randi membuang muka.
"Sayang lihat dong, aku cantik pakai warna apa?" tanya Siska.
"Terserah," ucap Randi.
"Aku ingin kau memilih untukku," kata Siska.
"Pakai apa aja bagus," ucap Randi malas komentar.
"Navy bagus ya, lebih elegant," ungkap Siska.
Randi hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, Jingga masuk restoran bersama seorang lelaki tampan. Randi melongo melihat Jingga anggun dengan dress panjang berwarna toska. Dia terlihat akrab dengan lelaki itu. Duduk tak jauh dari Randi.
__ADS_1
"Siapa lelaki itu? dasar cewek matre," batin Randi kesal.