DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Pergi Ke Pasar Malam


__ADS_3

Freya berusaha memejamkan matanya tapi belum juga bisa tidur. Tak lama terdengar suara telpon dari handphone miliknya.


"Kriiiiiiing...", Layar smartphone Freya berbunyi.


Ternyata telpon dari adiknya Fina.


"Iya, Fin. Ada apa ?"ucap Freya.


"Kak, temenin aku dong ke Pasar Malam. Alif ngerengek nih dari tadi minta dianterin. Nara belum pulang, katanya pulangnya bakal larut malam. Jadi nggak ada yang nemenin kita, mau ya Kak? Please !"ucap Fina memohon dengan sangat memaksa ke Freya.


"Duh gimana ya, Kakak emang lagi nggak sibuk sih tapi Kakak capek banget nih. Udah PW niih"ucap Freya memberi alibi kepada adiknya.


"Lho kok gitu sih Kak, sekali-kali lah Kak. Biar aku sama Alif ada yang nemenin. Ya Kak, ya, please!"ucap Fina merengek pada Freya.


"Ya udah deh, Kakak mau. Tapi jangan lama-lama di Pasar Malam nya, Kakak mau cepat-cepat istirahat"ucap Freya.


"Asiiik, makasih Kak, daaah"ucap Fina lalu menutup perbincangannya dengan Kakaknya.


Freya lekas bersiap untuk pergi ke pasar malam. Setelah menunggu kedatangan adiknya dan keponakanya mereka langsung berangkat ke pasar malam.


Kebetulan Arian dan teman-teman kontrakkannya juga berangkat ke sana. Sepanjang perjalanan Nindi terus menerus menggodanya. Arian merasa seperti ketempelan semacam makhluk gaib yang mengikutinya sepanjang perjalanannya ke pasar malam. Sedangkan Nindi sendiri merasa bahwa malam ini akan menjadi malam yang paling mengasyikkan sepanjang hidupnya. Arian si cowok yang Nindi anggap berparas ganteng dan agak jual mahal malah membuat Nindi semakin bersemangat untuk mengambil hati Arian. Walaupun teman yang lain risih dengan rayuan gombal Nindi pada Arian.


"Kak Arian, pasar malamnya ramai ya!"ucap Nindi mulai basa-basi untuk membuka topik perbincangannya dengan Arian.


"Ya iyalah, namanya juga Pasar Malam ya pasti ramailah"ucap Arian.


"Mau sepi Nin, ke kuburan aja mojok sama pocong" ucap Dadang meledek Nindi.


"Atau ke rumah kosong pasti sepi, temenin tuh kunti sendirian cengar-cengir"ucap Nurdin.


"Ih....kalian sirik amet sih"ucap Nindi.


"Udah ya, kita mau naik apa?"tanya Susi.


"Ombak air itu seru tuh"ucap Nurdin.


"Jangan dong aku mabok"ucap Nindi.


"Sekali-sekali naik itu, pasti seru"ucap Dadang.


"Oke"ucap Yang lainnya.


Akhirnya mereka naik ombak air itu. Nindi sampai teler dan tepar setelah turun dari ombak air itu.


"Kak Arian gendong"ucap Nindi.


"Huh........"ucap Yang lainnya.


"Susi tolongin Nindi ya, aku mau ke toilet"ucap Arian.


"Oke Kak"ucap Susi.


Arian kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Semetara, Freya dan adiknya sedang melihat-lihat berbagai permainan dan mencoba beberapa diantaranya.


"Waah, Tante Pro banget nih. Alif jadi dapat banyak mainan. Makasih ya Tante"ucap Alif sambil tersenyum kegirangan.


"Iya, makasih ya Kak. Kakak jago banget. Semenjak Kakak sendiri Kakak jadi banyak keahlian ya, sangat multitalenta. Bisa jadi tukang kalo benerin genteng bocor, ganti gas elpiji dan galon air minum, dan sekarang pro player pasar malam. Beruntung deh aku punya Kakak yang serba jago"ucap Fina memuji Freya.


"Hehe, sama-sama. Itu mah udah biasa. Kalian lanjutin jalan-jalannya ya. Kakak mau beli popcorn dulu. Rasanya udah lama nggak makan Popcorn"ucap Freya.


"Oke kak"ucap Fina.

__ADS_1


Freya berjalan-jalan diantara kerumunan orang sambil melirik sana-sini berharap menemukan penjual popcorn yang ia cari. Akhirnya diujung jalanan ada sebuah tenda yang menjual popcorn. Freya pun membeli 3 bungkus popcorn untuk dirinya, adiknya, dan keponakanya. Setelah membeli popcorn Freya pun teringat akan Henry. Sedang apa ia sekarang. Andai saja ia bisa berjalan berdua di tengah kerumunan pasar malam ini bersamanya. Namun sayang Freya kini berjalan sendirian sambil menenteng 3 bungkus popcorn yang ia beli.


"Bruak", popcorn Freya tumpah dan terinjak oleh seorang pria.


"Ya ampun! Maaf Mba, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru"ucap pria tersebut.


"Oh, tidak apa-a..., Eh, kamu. Dasar ya, nggak di kantor, nggak di kontrakan, nggak di sini juga selalu cari keributan. Mau nya apa sih kamu tuuu, kesel banget"ucap Freya sambil meluap-luap.


"Terserah kamu deh. Tapi kali ini aku nggak bisa ngeladenin kamu. Besok aja di kantor, full 5 ronde oke. Sekarang aku lagi buru-buru"ucap Arian sambil terengah-engah.


"Enak aja ya main pergi gitu aja. Pokoknya aku mau kamu ganti rugi semua popcorn yang udah kamu jatuhin"ucap Freya, lalu Freya melirik jauh ke depan.


"Aku sedang dalam misi kabur dari kecentilah dan rayuan gombal Nindi"ucap Arian.


"Sstt, jangan dong. Please. Aku bakal ganti rugi popcorn kamu, tapi nggak sekarang. Pokoknya jangan panggil Nindi ke sini oke. Dia mau ngajak aku masuk ke rumah hantu. Aku nggak mau"ucap Arian.


"Oh, jadi kamu takut rumah hantu". Ucap Freya sambil tersenyum licik.


"Oke. Aku nggak bakal laporin kamu ke Nindi, asal dengan satu syarat"ucap Freya. Dalam hati Freya berbisik ("hahahaha, akhirnya aku tahu kelemahan kamu Arian. Dulu aja sombong sok-soan mau bayar uang gedung, sekarang masuk rumah hantu aja takut kayak mau disunat, wkwkwk").


"Alah pake syarat segala lagi. Ya udah apa syaratnya ?"tanya Arian.


"Kamu harus mau ikut aku masuk ke rumah hantu itu. Kamu takut ya? Kalo nggak mau juga nggak papa, paling aku bakal teriak ke Nindi kalo kamu ada di sini"ucap Freya mengancam Arian.


Dalam hati Arian : "(duuh ini mah sama aja masuk ke lubang perangkap yang lain, tapi nggak papa deh. Dari pada sama Nindi yang bikin gerah dan permintaannya aneh-aneh. Mending aku iya in aja deh. Setidaknya habis dari rumah hantu itu aku bisa pulang").


"Oke, deh. Tapi awas ya kalo macem-macem"ucap Arian.


"Haha, nggak lah"ucap Freya.


Padahal sebenarnya Freya juga takut untuk memasuki rumah hantu tersebut. Namun karena ia ingin mengerjai Arian dan menyaksikan betapa konyolnya Arian saat ketakutan nanti akan sangat menyenangkan. Merekapun berjalan ke rumah hantu itu. Didalam sudah ada pengunjung lainnya. Mereka semua terlihat tegang jadi ga seperti Arian dan Freya.


"Ngapain kamu liat-liat aku kayak begitu hah?"tanya Arian dengan curiga.


"Diiih ge'er. Orang aku lagi liat ke samping kok. Lagian kamu juga ngapain liat-liat muka aku"ucap Freya yang ternyata juga sedang menahan rasa takut.


"Ya mau liat aja. Siapa tahu sekarang kamu lagi keringat dingin karena ketakutan"ucap Arian meledek Freya.


"Kamu kali yang begitu. Tuh, tangan kamu aja dari tadi ngepal mulu. Kamu juga gigit bibir dari tadi. Kamu pasti lagi ketakutan kan"ucap Freya.


"Nggak. Kamu aja yang begitu". Ucap Arian.


"Kamu"ucap Freya.


"Mas, Mba bisa diam tidak? kami sedang meresapi ketakutan ini biar feel-nya dapet"ucap Nandang.


"Aku lagi siaran langsung nih jadi kurang dapet horornya kalau berisik"ucap Deri.


"Aku lagi nyariin kunti jadi dapet wewe gombel nih"ucap Imas.


Mereka terus saling menyalahkan satu sama lain. Hingga orang-orang di sekeliling mereka mengira bahwa mereka adalah pasangan yang rumah tangganya sedang diujung tanduk. Tanpa mereka sadari, pertengkaran mereka berdua sampai ke depan pintu masuk rumah hantu.


"Nah, Tuan Arian. Kita sudah sampai. Silahkan masuk duluan. Cowok kan selalu jadi barisan yang paling depan". ucap Freya sambil mempersilahkan.


"Enak aja, nih ya, laki-laki yang baik itu selalu mempersilahkan wanita terlebih dahulu. Ya kan Pak"ucap Arian yang tiba-tiba membawa Bapak penjaga karcis yang tidak tahu-menahu akan pertengkaran mereka berdua.


"Alasan, kamu takut ya. Pokoknya kamu harus masuk duluan. Tuan Arian kok takut sama hantu-hantuan. Tuan Arian sangat pemberani bukan ?"ucap Freya sambil mencubit pinggul Arian.


"Eh, sakit woy. Pokoknya nggak mau. Kamu aja yang duluan. Kamu kan yang nantangin jadi kamu yang masuk duluan"ucap Arian.


"Nggak mau. Pokoknya kamu yang masuk duluan"ucap Freya memaksa.

__ADS_1


"Nggak, kamu yang harus masuk duluan. Titik"ucap Arian membantah.


Mereka berdua malah bertengkar di depan pintu karcis sehingga membuat antiran tambah panjang. Petugas karcispun akhirnya turun tangan karena tak sanggup mendengar pertengkaran mereka berdua lebih lama lagi. Belum lagi mereka membuat antrian tersendat.


"Kalian jadi masuk tidak ? Dari pada susah-susah mending kalian masuknya barengan. Sambil gandengan tangan juga boleh. Gitu aja ribet". Timbal petugas karcis.


"Nggak mau" ucap Freya dan Arian bersamaan.


"Ya udah, kita masuknya barengan. Tapi nggak pake gandengan tangan segala"ucap Arian.


"Oke deh, serah kamu"ucap Freya.


Mereka pun masuk ke rumah hantu bersama-sama. Wajah mereka berdua sudah pucat pasi semenjak memasuki pintu masuk. Freya yang sudah lupa akan niat awalnya untuk mengerjai Arian malah jadi ketakutan dan terus mepet ke tubuh Arian.


"Eh, ngapain kamu nempel-nempel ke pundak aku. Kayak ulet bulu aja sii, gatel tau. Sana, jauh-jauh" ucap Arian.


Freya yang sedang ketakutan pun malah jadi emosi mendengar ucapan Arian.


"Siapa juga yang nempel-nempel. Emang lorongnya sempit kok. Sembarangan kalo ngatain orang ya, ulet bulu-ulet bulu, kamu tuh kayak nyamuk. Berisik dan ganggu banget. Eueeuh, aku tapok ya pake buku majalah baru deh tepar biar tau rasa"ucap Freya dengan penuh emosi.


"Eh, jangan asal ngomong ya. Kamu tu nggak ada hormatnya sama sekali ya ke anaknya Presdir. Diturunin jabatan jadi OB mau kamu ?"ucap Arian.


"Eeeeh, udah jadi bawahan kok sombongnya masih selangit. Inget ya, kamu aja tinggalnga masih ngontrak kaya aku dan bawahan aku juga. Meski kamu anak Presdir juga kalo masih jadi bawahan ya sama aja. Jangan sombong, ingat karma itu berlaku"ucap Freya.


Merekapun terus bertengkar sepanjang rumah hantu tersebut. Sehingga membuat suasana rumah hantu berubah dari seram mencekam menjadi panas dan berisik. Rumah hantu berubah menjadi layaknya pengadilan agama. Bahkan para hantu jadi-jadian yang telah berjaga untuk menakut-nakuti mereka berdua malah mundur entah kenapa. Anak kecil yang disulap menjadi hantu tuyul untuk menakut-nakuti pengunjung malah takut oleh kelakuan Freya dan Arian sehingga membuatnya menangis.


"Aaaaaaaa..." jerit Tuyul jadi-jadian.


"Apaan sih, anak kecil ganggu orang yang lagi ribut aja. Nggak sopan tahu. Anak siapa sih kamu tu, oh iya kan anak setan. Ya udah sana ngumpet lagi aja. kita berdua nggak mempan ditakut-takutin sama kamu. Sana, hush-hush". usir Arian.


"Huaaaaaaaa..." isak Tuyul jadi-jadian.


Tuyul jadi-jadian pun menangis kencang. Yang terpaksa membuat pengunjung lain harus menghibur tuyul jadi-jadian itu agar berhenti menangis. Sementara Arian dan Freya melanjutkan pertengkaran mereka berdua. Semua hantu yang mereka lewati hanya melongo keheranan melihat mereka berdua. Namun ada satu hantu jadi-jadian yang tidak bisa diganggu oleh pengunjung jenis apapun. Bahkan oleh jenis pengunjung seperti Freya dan Arian yang terus menerus ribut sepanjang permainan. Ialah si hantu Genderwo penunggu gua keramat. Hantu itu membawa pentungan yang besar sekali. Sesuai dengan badannya yang hijau, besar dan kekar. Pengunjung harus melewatinya sambil berkata 'punten ngiring langkung' agar bisa melewatinya dan keluar dari rumah hantu tersebut. Namun karena Freya dan Arian sedang bertengkar mereka lupa untuk mengucapkan kalimat itu.


"Gara-gara kamu Arian, semuanya jadi berantakan. Kamu liat kan anak kecil tadi. Dia nggak salah, kenapa kamu marahin. Emang ya, orang yang modelan kayak kamu tu nggak ada perasaannya sama sekali. Ini lagi, ngapain Om ngalangin jalan. Kita mau keluar. Pintu keluarnya ada di belakang Om, Om minggir dulu ya sebentar. Kita mau lewat"ucap Freya menyuruh hantu Genderwo untuk minggir yang jelas-jelas nggak akan minggir tanpa kalimat tadi.


"Tuk" kepala Arian dipukul oleh pentungan besar milik Om Genderwo.


"Aww, sakit tahu. Freya, ini semua gara-gara kamu. Udah tahu dia nggak mau minggir kalo kamu nggak minta izin terlebih dahulu. Liatkan akibatnya, aku jadi kena pukul. Padahal jelas-jelas kamu yang nggak sopan sama Om Genderwo nya. Om kami minta maaf ya, punten ya Om. Ngiring langkung"ucap Arian.


Akhirnya mereka berdua pun berhasil keluar dari rumah hantu tersebut. Namun Arian masih kesal kepada Freya karena gara-gara Freya sekarang jidat Arian benjol ceperti habis dikecup nyamuk raksasa Amazon.


"Awas ya Freya, besok aku bales kamu di kantor. Tunggu aja bembalasan ku. Hidup kamu nggak bakal tenang setelah ini"ucap Arian.


"Diih, aku nggak takut sama ancaman dari kamu. Gara-gara kamu juga siii aku jadi lupa buat ngucapin kalimat izinnya tadi. Coba kalo kamu nggak terus-terusan nyalahin aku. Aku pasti fokus"ucap Freya tidak mau kalah dengan ucapan Arian.


"Aah, udah. Aku capek dengernya. Dah sana, jauh-jauh dari aku. Sekarang aku mau pergi"ucap Arian yang terus lari dari Freya.


Kini Freya kembali sendirian, tak lama Fani dan Alif menghampirinya.


"Tante, Tante dari mana aja? Alif sama Mama nyariin Tante dari tadi. alif kira Tante udah pulang?"tanya Alif.


"Ka, kamu habis ngapain. Kok keringetan gitu. Apa Kakak habis dikejar maling ? Kakak nggak kenapa-napa kan ?"tanya  Fani.


"Nggak, aku nggak kenapa-napa kok. Tadi aku habis masuk ke rumah hantu jadinya ngos-ngosan deh"ucap Freya.


"Hah ? Rumah hantu ? Alif sama Mama kok nggak diajak? Yaaah, padahal Alif mau lihat hantu Tuyul, kata temen Alif hantunya gemesin"ucap Alif.


"Kakak masuk ke rumah hantu ? Kakak ke sana sendirian? Atau jangan-jangan Kakak masuk ke sana sama seseorang ya, cie-cie. Eh, kemana sekarang orangya Kak?"ucap Fina meledek Freya.


"Apaan sih Fin, udah ah Kakak capek. Kita pulang yuk. Lagian udah larut malam nih. Yuk!"ucap Freya.

__ADS_1


"Yuk" ucap Fina dan Alif.


Mereka bertiga akhirnya meninggalkan pasar malam. Sepanjang perjalanan Freya terus memikirkan kejadian di rumah hantu tadi. Entah kenapa rasanya belum pernah ia segembira ini. Namun Freya juga cemas akan nasibnya di kantor besok. Arian sudah mengancamnya tadi.  .


__ADS_2