DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Aku Hamil


__ADS_3

"Gista...Gista...." Rafka memanggil Gista berkali-kali.


Tuk....tuk...tuk....


Kaca mobil Gista terus diketuk Rafka tapi Gista tak kunjung bangun. Rafka coba membuka pintu mobil tapi terkunci dari dalam.


"Sepertinya aku harus memanggi mekanik" ucap Rafka.


Rafka langsung menelpon mekanik. Tak lama mekanik datang dan membuka pintu mobil Gista. Rafka langsung membopong Gista keluar mobil nembawanya ke tepi jalan. Dia membaringkan Gista dikursi tepi jalan. Rafka memberi kayu putih didekat hidungnya tapi Gista masih saja pingsan. Rafka kembali mengbopong Gista masuk ke dalam mobilnya. Dia membawa Gista ke rumah sakit.


Rumah Sakit Ibu dan Anak


Dokter memeriksa Gista. Lalu dia duduk bersama Rafka dimejanya. Dokter terlihat tersenyum dan mengucapkan selamat pada Rafka.


"Selamat ya Pak, istri Anda hamil" ucap Dokter.


"Hamil? maaf Dok saya bukan suaminya" ucap Rafka.


"Saya pikir suaminya" ucap Rafka.


"Bukan, saya mantan suaminya" ucap Rafka.


"Oh, begini Pak Rafka, Ibu Gista sedang mengandung satu empat minggu. Jadi kondisi kesehatannya harus dijaga karena kandungannya masih trisemester pertama. Jangan terlalu kelelahan dan melakukan pekerjaan yang berat. Saya lihat ada sedikit flek, jadi saya harap Ibu Gista harus menjaga kehamilannya dengan baik" ucap Dokter.


"Baik Dok" uca Rafka.


"Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk Ibu Gista" ucap Dokter.


"Baik Dok" ucap Rafka.


Dokter segera meresepkan obat dan vitamin untuk Gista. Tak lama Gista sadar. Dia terkejut saat mendapati dirinya ada dirumah sakit. Gista turun dari ranjang pemeriksaan lalu duduk bersama Rafka. Dia berbincang dengan Dokter. Saat tahu dia hamil Gista senang sekali. Selama ini dia dinyatakan mandul tapi sekarang dia bisa hamil. Gista merasa sangat senang. Impiannya memiliki anak terpenuhi. Rafka kembali mengantar Gista ke tempat mobilnya diparkirkan di parkiran umum. Sepanjang jalan Gista tersenyum bahagia.


"Selamat ya Gista, Allah telah menitipkan amanahnya padamu" ucap Rafka.


"Iya Mas, terimakasih" ucap Gista.


"Jaga kandunganmu baik-baik, semoga kau dan bayimu selalu sehat" ucap Rafka.


"Amin" ucap Gista.


Sampai di parkiran umum. Rafka turun dari mobil bersama Gista. Dia nengantarkan Gista sampai ke dalam mobilnya. Rafka berada diluar mobil sambil bicara dengan Gista yang duduk dikursi depan.


"Gista sebaiknya hari ini kau istirahat, jangan bekerja dulu ya" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Gista.


"Hati-hati dijalan" ucap Rafka.


Gista mengangguk. Lalu dia meninggalkan tempat itu. Begitupun dengan Rafka. Dia meninggalkan tempat itu juga.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Gista pulang ke rumah besarnya. Dia terkejut saat melihat Nathan sedang berbincang dengan pihak bank. Gista duduk bersama Nathan mendengarkan penjelasan dari pihak bank. Ternyata perusahaan Natha merugi dan hurtangnya membesar. Selama Nathan down perusahaannya menjadi bangkrut, perusahaannya terpaksa hutang ke bank. Dan kini perusahaan tidak bisa membayar hutang. Nathan sudah menjual perusahaan dan rumahnya untuk membayar hutang tapi masih belum cukup karena pinjaman yang cukup besar. Akhirnya Gista menyanggupi untuk membayar semua hutang Nathan.


"Baiklah Pak, Bu, secepatnya kalian membayar sebelum jatuh tempo" ucap Pihak Bank.

__ADS_1


"Baik" ucap Nathan dan Gista.


Pihak Bank akhirnya meninggalkan rumah Gista. Nathan terdiam dan merasa sedih karena tak mampu berbuat apa-apa. Gista menghampirinya dan memeluknya.


"Mas, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan menjual semua asetku untuk membayar hutang ke Bank" ucap Gista.


"Justru karena itu aku merasa bersalah, aku suami yang tak berguna, bisanya menyusahkanmu" ucap Nathan.


"Dulu aku pernah mengatakan hal yang sama dengan Mas Nathan" batin Gista.


"Mas siapa bilang kau tak berguna, aku bahagia hidup denganmu Mas. Kau membuat hidupku jadi sempurna" ucap Gista.


"Kata-kata ini pernah diucapkan Mas Rafka padaku, aku harus bisa seperti Mas Rafka yang bisa menerimaku apa adanya saat itu" batin Gista.


Nathan membalas pelukan Gista. Dia mencium pipi istrinya.


"Makasih sayang, maafkan aku" ucap Nathan.


"Iya Mas" ucap Gista.


Nathan heran istrinya kenapa kembali ke rumah lagi. Setahunya Gista tadi berangkat bekerja.


"Sayang kenapa kau kembali pulang?" tanya Nathan.


"Aku hamil Mas" ucap Gista.


"Alhamdulillah" ucap Nathan.


Gista meletakkan tangan Nathan diperutnya. Nathan langsung mengelus perut Gista perlahan-lahan.


"Iya Mas" ucap Gista.


"Aku jadi punya semangat hidup" ucap Nathan.


"Kau harus sembuh, agar kita bisa sama-sama membesarkan anak kita" ucap Gista.


Nathan mengangguk. Gista langsung mencium Nathan. Seketika mereka berciuman mesra diruangan itu.


"Sayang pindah ke atas" ucap Nathan.


Gista mengangguk. Pak Kirman, perawat yang mengurus Nathan membantu Nathan naik ke kamarnya. Setelah itu Nathan dan Gista berduaan diranjang. Mereka melakukan hal romantis. Kali ini Nathan berusaha melakukannya dengan penuh cinta. Gista bisa merasakan kali ini ada keseriusan dan cinta dari Nathan. Setelah lelah Gista berbaring disamping Nathan.


"Sayang makasih ya" ucap Nathan.


"Iya Mas" ucap Gista memeluk Nathan.


"Aku ingin sembuh, agar bisa menjagamu, Alifa dan anak kita" ucap Nathan.


"Kau memang harus sembuh, jangan tinggalkan aku" ucap Gista.


"I Love You" ucap Nathan.


"I Love You Too" ucap Gista.


Nathan mulai bisa membuka hatinya sepenuhnya untuk Gista. Kini semangat hidupnya kembali. Dia harus bisa sembuh agar bisa menjaga Gista dan anak-anaknya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Gista harus menjual hampir semua aset pemberian Rafka. Tinggal mini market saja yang tersisa. Semua itu untuk melunasi hutang Nathan pada Bank. Kini Gista, Alifa dan Gista pindah ke rumah yang lebih kecil. Rumah satu lantai yang dibeli Gista dari sisa menjual hampir semua asetnya.


"Mas, Alifa, mulai hari ini kita tinggal disini" ucap Gista.


"Iya Ma, Alifa justru senang tinggal disini banyak tetangga dan anak kecilnya. Alifa jadi punya banyak teman" ucap Alifa.


"Iya sayang, disini lingkungannya lebih hangat. Lebih nyaman untuk anak-anak" ucap Nathan.


Alifa meminta izin bermain keluar bersama anak-anak disamping rumahnya. Tinggal Nathan dan Gista berdua dirumah itu.


"Sayang maafkan aku, hampir semua aset pemberiaan mantan suamimu terjual" ucap Nathan.


"Tidak apa-apa Mas" ucap Gista.


"Aku jadi tidak enak pada Rafka, dia memberimu semua aset itu untuk membuat hidupnya bahagia. Tapi aku justru membuat hidupmu susah" ucap Nathan.


Gista memeluk Nathan yang terlihat murung.


"Mas, Mas Rafka memberiku semua aset itu untuk ku pakai, jadi tidak masalah jika aku memakainya untuk membantumu. Kitakan suami istri, sudah seharusnya begitukan" ucap Gista.


"Makasih sayang" ucap Nathan.


"Iya Mas" ucap Gista.


Di hati kecil Nathan, dia tetap merasa bersalah. Seandainya dia waktu itu tidak bunuh diri, mungkin hari ini dia bisa membahagiakan Gista. Tapi justru sebaliknya, dia membuat Gista kesusahan. Gista harus menjual hampir semua asetnya, harus bekerja dan mengurusnya. Sebagai suami dia tidak bisa melakukan apapun.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Manda tidak berani keluar rumah. Wartawan memenuhi jalan diluar rumahnya. Mereka ingin mewawancarai Manda. Berita dimedia sosial dan televisi sudah sangat menyudutkannya. Dia seperti terdakwa dalam sebuah kasus. Manda kasihan pada Emak Eni yang terpaksa mengunci diri dirumah. Kemana pun pergi selalu dibuntuti wartawan. Belum lagi para tetangga yang membicarakan hal yang tidak-tidak pada Manda dan keluarganya. Manda hanya berdiam diri dikamar. Tak lama Radhitya menelponnya.


"Hallo sayang" ucap Radhitya.


"Hallo Radit" ucap Manda.


"Aku ke rumahmu ya, ada yang harus kita bicarakan mengenai resepsi pernikahan kita" ucap Radhitya.


"Jangan, wartawan ada didepan rumahku dari kemarin" ucap Manda.


"Apa? wartawan ada didepan rumahmu?" tanya Radhitya.


"Iya, bahkan kemana saja aku dan Enyak selalu bertemu wartawan" ucap Manda.


"Aku akan tetap kesana" ucap Radhitya.


"Jangan, ku mohon" ucap Manda.


"Terus resepsi kita gimana? banyak yang harus dibahas" ucap Radhitya.


"Radit, kita tunda dulu pernikahan kita. Aku gak sanggup hidup seperti ini. Kalau kita menikah dalam waktu dekat. Gosip ini akan semakin liar. Aku dan Enyak akan jadi bulan-bulanan wartawan dan semua orang. Belum lagi penggemar fanatikmu yang tidak suka padaku" ucap Manda.


Beberapa penggemar fanatik Radhitya sampai mengancam Manda. Mereka bahkan meneror Manda dan Emak Eni. Itulah yang membuat Manda takut.


"Tapi tanggal pernikahan kita sudah ditentukan sayang" ucap Radhitya.

__ADS_1


"Apa kita berhenti dulu" ucap Manda.


__ADS_2