
Malam itu Laura dan Kenan sudah resmi menjadi suami istri. Mereka berada di satu kamar yang sama bersama Amara yang tidur di ranjang bayi.
Kenan duduk di ranjang mengecek beberapa pekerjaannya di laptop. Tiba-tiba dia mendengar suara kaki Laura melangkah dari toilet. Kenan tercengang mendapati Laura mengenakan baju tidur yang berupa dress seksi. Kenan tak berkedip melihat Laura di depannya. Dia berkali-kali menelan air ludahnya.
"Aku tidur di mana?" tanya Laura malu-malu sambil menutup daerah dadanya.
Kenan masih tercengang. Dia tak mendengar perkataan Laura hanya fokus pada kecantikan dan keseksiannya.
"Kenan!" panggil Laura.
"I-iya, ada apa sayang?" tanya Kenan.
Laura semakin malu. Menundukkan kepalanya ke bawah. Ucapan sayang membuatnya sangat malu. Baru pertama kali Laura mendengar kata-kata itu ke luar dari seorang lelaki padanya.
"A-aku tidur di mana?" tanya Laura pelan.
Kenan menutup laptopnya. Meletakkan di atas laci dekat ranjang. Dia berjalan menghampiri Laura. Berdiri di depannya. Laura semakin grogi, dia membuang muka karena malu.
"Sayang kau cantik sekali," ujar Kenan.
Laura hanya tersenyum sedikit. Dia benar-benar mati kutu dengan pujian Kenan padanya. Untung saja Amara sudah tidur. Mereka bebas melakukan apapun.
Kenan meraih tangan Laura, menciumnya. Meskipun Laura terlihat malu dan belum terbiasa.
"Apa kau sengaja berpakaian seperti ini untukku?" tanya Kenan.
Laura mengangguk.
Kenan mendekat, mencium kening Laura.
"Aku ingin memilikimu Laura, mulai malam ini dan seterusnya," ucap Kenan.
"Iya, aku ingin jadi milikmu Mas," ujar Laura.
Kenan tersenyum. Laura kini jadi istrinya. Dia tak perlu meragukannya lagi. Apa yang sudah dilakukannya selama ini sudah membuktikan kebaikannya dan ketulusannya. Selain itu mereka sudah memiliki pengikat di antara mereka yaitu Bagas.
Kenan membopong Laura. Menatap wajah cantiknya. Membaringkannya di ranjang. Mereka memulai untuk memadu cinta, namun baru mau dimulai, ketukan pintu terdengar dari luar. Kenan mengepal tangannya. Baru saja dia ingin memulai ada saja ganguan untuknya.
"Aku lihat dulu siapa yang mengetuk pintu ya sayang?" ucap Kenan.
Laura mengangguk.
Kenan merapikan pakaian tidurnya. Berjalan menuju pintu kamarnya. Dia membuka pintu, terlihat Bagas berdiri di depannya.
__ADS_1
"Ayah, Bagas ingin tidur bersama ayah dan bunda," ujar Bagas.
"Aduh, mau malam pertama tapi diganggu anak sendiri, puasa deh," batin Kenan.
"Oke, ayo masuk, Bunda ada di dalam," jawab Kenan.
"Hore ...." Bagas kegirangan. Dia masuk ke dalam. Menghampiri Laura di ranjang. Segera Laura merapikan pakaiannya. Dia bangun dan duduk di ranjang.
"Bunda," ujar Bagas.
"Ke mari sayang!" pinta Laura.
Bagas langsung mendekat, memeluk Laura.
"Kenapa Bagas ke sini?" tanya Laura.
"Bagas mau tidur sama bunda, ayah dan dede Amara," jelas Bagas.
Sontak Laura menoleh ke arah Kenan yang berdiri tak jauh dari ranjang. Wajah suaminya terlihat murung. Meskipun dia senang anaknya tidur bersamanya. Hanya saja tadi dia sudah terlanjur ingin, resah bila tak diteruskan.
"Oke," jawab Laura.
Bagas melihat penampilan Laura yang seksi dan cantik.
Laura malu saat Bagas bertanya seperti itu. Dia juga bingung harus menjawab apa.
"Bunda lagi kegerahan Bagas, makanya pakai baju seperti itu," jelas Kenan pada Bagas.
Bagas paham. Dia hanya diam melihat Laura. Secepatnya Laura harus mengamankan situasi sebelum Bagas tanya yang lainnya.
"Kalau begitu sekarang Bagas bobo ya, Bunda bacakan dongeng kancil," ujar Laura pada Bagas.
"Mau Bunda, ye ...," ucap Bagas.
Akhirnya Bagas berbaring di tengah ditemani Kenan yang di samping kiri, sedangkan Laura di samping kanan membacakan dongeng. Lama-kelamaan Bagas tertidur.
"Sayang lanjut," ucap Kenan memberi kode keras.
Laura menunjuk ke arah Bagas. Dia mau memberitahukan kalau ada Bagas.
"Di sofa," kata Kenan.
"Tapi Mas ...," ucap Laura.
__ADS_1
Kenan beranjang dari ranjang. Menghampiri Laura. Meraih tangannya. Mengajaknya ke sofa.
Dia sudah tak sabaran. Dia memulai keromantisan itu. Laura yang tadinya malu dan risih karena belum terbiasa, dan ada trauma karena pemerkosaan yang telah dilakukan Kenan padanya dulu, mulai hanyut dalam buaian.
"Mas," panggil Laura.
"Iya sayang," ujar Kenan.
Laura menatap lelaki di depannya. Dia tersenyum. Rasa traumanya menghilang berganti rasa cinta yang membara. Mereka memadu cinta. Kenan dengan penuh kelembutan melakukan semua tahapan hingga lelah. Dia berbaring di sofa bersama Laura dipelukannya, Kenan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut yang diambil dari lemari.
"Sayang, nagih," ucap Kenan.
"Mas, aku malu," ucap Laura.
"Kenapa harus malu, kita sudah halal sayang," ujar Kenan.
"Iya Mas," ucap Laura.
"Kalau dari dulu kita tak terpisah, mungkin kita sudah punya banyak anak," ujar Kenan.
"Semua sudah takdir, aku juga tak pernah membayangkan jadi istrimu," ucap Laura.
"Apa kau benci padaku sayang?" tanya Kenan.
"Saat itu iya, aku membenci orang yang sudah mengambil kehormatanku. Namun melihat Bagas, aku pikir lebih baik aku memikirkan keinginannya untuk bertemu denganmu," ucap Laura.
"Maafkan aku, tapi kalau bukan karena itu, mungkin saat ini kita tak mungkin bertemu dan bersama," kata Kenan.
"Iya, luka yang membawa kebahagiaan," ucap Laura.
Kenan memeluk Laura erat-erat.
"Sayang punya bayi lagi ya?" tanya Kenan.
"Iya, sedikasihNya aja Mas," jawab Laura.
"Biar Amara punya temen main, paling nanti beda setahun kalau sayangku langsung hamil bulan depan," ujar Kenan.
"Amin," jawab Laura.
"Istirahat yuk sayang, pasti kau lelah, tadi aku over," ucap Kenan.
Laura mengangguk. Mereka berdua tidur bersama dengan tenang. Akhirnya mereka bisa saling memiliki. Kenan dan Laura memulai semua dari lembaran baru untuk kisah cintanya bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
.