
Kenan menemani Bagas sampai dia tertidur. Duduk di samping ranjang sambil memegang tangan Bagas. Dia tertidur di kursi. Baru satu jam, Kenan terbangun. Dia ingat Renata memintanya pulang. Kenan menghampiri Laura yang duduk di seberangnya. Dia menepuk bahu Laura yang sudah tertidur.
"Laura ... Laura ...," panggil Kenan.
Laura terbangun. Melihat Kenan di sampingnya.
"Kenan ada apa?" tanya Laura.
"Aku harus pulang dulu, besok pagi ke sini lagi," ujar Kenan.
"Iya, terimakasih Kenan," ucap Laura.
Kenan mengangguk. Dia berjalan meninggalkan ruangan itu. Mengendarai mobilnya menuju rumah orangtuanya. Setengah jam perjalanan Kenan sampai di rumah. Dia langsung menuju kamarnya. Membuka pintu dan masuk ke dalam.
Kenan melihat Renata duduk di kursi mengenakan dress seksi dan berdandan full make up.
"Sayang kau belum tidur?" tanya Kenan.
"Belum. Kau dari mana saja? jam segini baru pulang," ujar Renata.
"Ada urusan penting yang harus ku selesaikan," jawab Kenan.
"Urusan penting setiap hari ya, apa aku tak penting?" tanya Renata.
"Pentinglah sayang, itu sebabnya aku berusaha pulang," jawab Kenan.
"Kau lihat jam berapa sekarang?" tanya Renata.
Kenan melihat jam di tangannya. Pukul 3 malam. Dia baru sadar pulang semalam itu. Pantas saja Renata marah padanya, mungkin karena menunggunya semalaman.
"Aku minta maaf sayang, lain kali aku akan pulang cepat," ujar Kenan.
Renata terdiam. Membuang muka dari Kenan. Melihat itu, Kenan menghampirinya. Mencium keningnya.
"Jangan cemberut nanti cantiknya hilang," ujar Kenan.
Dengan rayuan manis Renata luluh juga. Dia tersenyum pada Kenan.
"Aku ingin hamil," ucap Renata.
"Oh karena itu kau cantik sekali malam ini, semangat jadinya," kata Kenan.
Renata mengangguk. Kenan membopong Renata menuju ranjang. Mereka memadu cinta di malam yang tinggal beberapa jam lagi pagi. Kenan berusaha memberikan semua cinta dan kasih sayangnya pada Renata. Tak ada sedetik pun tanpa rasa nyaman, semua penuh kelembutan hingga mereka tertidur bersama.
***
Satu bulan berlalu. Elina dan Atnan menunggu seorang orang yang akan merawat Elina. Mereka duduk di ruang tamu. Tak lama seorang wanita masuk ke dalam. Dia terlihat cantik dan anggun.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapa Laura.
"Wa'alaikumsallam," jawab Elina dan Atnan.
"Silahkan duduk!" perintah Atnan.
Laura duduk di kursi bersama Atnan dan Elina. Dia mulai nemperkenalkan diri begitupun dengan Atnan dan Elina. Mereka juga berbincang mengenai pekerjaan yang akan dilakukan Laura di rumah itu.
"Begitu Nyonya Elina, Tuan Atnan, saya hanya bisa pulang pergi, meskipun pulang malam," ujar Laura.
"Tidak masalah, yang penting kau bisa menemani Elina saat aku belum pulang, kau juga bisa bawa anakmu ke rumah ini selama kau bekerja di sini, jadi kau tak perlu pulang kalau saya pulang malam," ucap Atnan.
"Terimakasih Tuan," ucap Laura.
Laura harus menceritakan semuanya pada Atnan dan Elina mengenai statusnya sebagai ibu yang sudah memiliki anak.
"Laura mari ku antar ke kamarmu," ajak Elina.
"Baik," jawab Laura.
Elina mengantar Laura menuju kamarnya yang akan di tempatinya selama bekerja di rumah itu. Mereka berdua berjalan menuju tangga. Laura terkejut saat melihat foto besar di dinding.
"Itu bukannya Kenan?" batin Laura.
"Apa Tuan Atnan dan Nyonya Elina masih keluarganya Kenan? bagaimana ini aku terlanjur menyanggupinya," batin Laura. Dia tak menyangka akan bekerja di rumah keluarga Kenan. Entah apa yang akan terjadi nanti, apalagi Kenan melarangnya bekerja.
Mereka berdua sampai di sebuah kamar dekat ruang keluarga di lantai atas.
Laura mengangguk.
"Bagaimana? apa kau suka?" tanya Elina.
"Suka Nyonya, bagus dan rapi," jawab Laura.
Setelah itu Laura mulai bekerja. Dia menemani Elina masak di dapur, sedangkan Atnan pergi bekerja. Elina membuat camilan kesukaannya, dengan sabar Laura menemani Elina membuat puding.
"Laura suamimu kerja apa?" tanya Elina.
"Saya tidak punya suami Nyonya," jawab Laura.
"Kalian sudah bercerai?" tanya Elina.
"Aku harus menjawab apa? tidak mungkin aku menjawab yang sebenarnya, aku tidak ingin Kenan terganggu karena urusanku," batin Laura.
"Suamiku sudah meninggal Nyonya," jawab Laura.
"Aku turut berduka ya, kau wanita hebat membesarkan anakmu sendirian," ujar Elina.
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya Nyonya," sahut Laura.
Terpaksa Laura berbohong. Dia tak menyangka harus serumit itu. Tadinya niatan bekerja agar dia mandiri dan tak mengandalkan uang pemberian Kenan. Dia takut suatu saat Kenan berhenti memberinya uang, itu sebabnya lebih baik Laura tetap bekerja.
"Laura siapa nama anakmu?" tanya Elina.
"Bagas Nyonya," jawab Laura..
"Nama yang bagus, pasti tampan dan pintar," ujar Elina.
Laura mengangguk sambil mengaduk-aduk puding yang sedang di masak di panci.
"Nanti kalau suamiku pulang malam atau ke luar kota, ajak saja Bagas ke sini, biar kau tak pulang ke malaman," ujar Elina.
"Iya Nyonya," jawab Laura.
Itu tak mungkin dilakukan Laura. Kalau Bagas diajak ke rumah ini, Bagas akan bertemu Kenan dan keluarganya akan tahu siapa Bagas dan hubungannya dengan Kenan. Laura tak ingin pernikahan Kenan hancur karenanya.
Sore harinya Laura membantu Elina memasak dan menyajikan makanan di meja. Renata masuk ke ruang makan, melihat Laura yang sedang meletakkan makanan di atas meja.
"Siapa kau?" tanya Renata.
"Aku ...," ucap Laura.
"Dia Laura, orang yang merawatku," jawab Elina.
"Oh, kirain siapa?" ujar Renata.
"Laura, ini Renata istri Kenan, adik suamiku," ujar Elina memperkenalkan Renata pada Laura.
Laura mengangguk, memberi senyuman pada Renata. Kemudian mereka masak bersama dan menyajikan semua makanan di atas meja. Sore itu Atnan sudah pulang.
"Assalamu'alaikum," sapa Atnan.
"Wa'alaikumsallam," jawab semuanya.
Atnan menghampiri Elina. Mencium keningnya dan mengelus perut Elina. Dia senang sekali bisa pulang sore.
"Wah Kak Atnan pulang sore, semoga aja Kenan pulang sore juga," ujar Renata.
Laura hanya diam saat nama Kenan disebut.
"Nyonya Elina, Tuan Atnan, saya pamit pulang dulu," ujar Laura. Dia tak ingin mengganggu kebahagiaan keluarga itu. Akan terasa canggung bila bertemu Kenan saat bersama istrinya.
"Oke, silahkan, biar Pak Jojon mengantarmu" ucap Atnan.
"Hati-hati di jalan ya Laura," ucap Elina.
__ADS_1
"Iya, terimakasih Tuan,Nyonya," ujar Laura.
Elina dan Atnan mengangguk. Laura juga pamitan pada Renata, kemudian meninggalkan ruang makan. Dia berjalan ke luar. Di teras dia berpapasan dengan Kenan. Mata keduanya bertautan dan saling terkejut.