
Jingga langsung berdiri. Dia tak mau tubuhnya lebih lama dipeluk Randi. Dia bahkan mengibaskan bajunya beberapa kali seperti terkena kotoran debu.
"Kenapa ya mesti bersentuhan denganmu," ucap Jingga.
"Hei, bukannnya terimakasih ditolongin malah ngoceh. Tahu gitu biarin aja jatuh," ucap Randi.
"Aku lebih baik jatuh dari pada bersentuhan denganmu," ucap Jingga.
"Memang bicara denganmu itu gak penting," ucap Randi.
"Yasudah, aku juga gak mau bicara denganmu," ucap Jingga.
Randi berjalan meninggalkan Jingga. Lama-lama berdekatan dengan Jingga bisa membuatnya naik darah. Dia menghampiri ibunya yang sedang fitting gaun.
"Ma udah belum? ayo pulang, sumpek disini," ucap Randi.
"Sumpek gimana? tempatnya luas dan nyaman gini kok," ucap Gista.
"Masalahnya ada orang nyebelin disini, suka ngomel dan cerewet," ucap Randi.
"Oya kamu inget Tante Azura gak?" Tanya Gista.
"Tante Azura yang mana?" Tanya Randi.
"Itu ibu mertuanya Elina," ucap Gista.
"Oh, aku pernah bertemu dengannya, memang kenapa Ma?" Tanya Randi.
"Anaknya pemilik butik ini loh," ucap Gista.
Randi langsung berpikir tentang Jingga. Dia baru tahu kalau Jingga adik iparnya Elina.
"Ma kalau sudah beres ayo pulang," ucap Randi mengalihkan pembicaraan.
"Tuh, itu Jingga." Gista menunjuk ke arah Jingga yang datang menghampirinya.
"Hai tante," sapa Jingga dengan senyuman lebar.
"Jingga, lama ya tak bertemu," ucap Gista.
"Iya tante," jawab Jingga.
Gista dan Jingga mengobrol beberapa kata. Sedangkan Randi kembali duduk disofa. Gista dan Jingga berbicara tentang gaun yang dipesan Gista kemudian membicarakan Randi.
"Randi sini, Mama kenalin sama Jingga," ucap Gista.
Randi hanya diam. Gista sangat paham kalau Randi susah diajak bicara dengan orang asing, itu sebabnya dia menarik lengan Randi untuk berkenalan dengan Jingga.
"Jingga ini anak tante," ucap Gista.
"Ternyata anak tante Gista lelaki arogant ini, nyebelin," batin Jingga.
__ADS_1
Randi hanya diam, malas berkenalan dengan Jingga.
"Randi ayolah perkenalkan dirimu," ucap Gista.
"Randi," ucap Randi pada Jingga.
"Jingga," ucap Jingga.
Mereka saling memperkenalkan diri didepan Gista.
"Kalian cocok," ucap Gista.
"Tidak," ucap Jingga dan Randi bersamaan.
"Kompak, semoga berjodoh," ucap Gista.
"Amit-amit," ucap Jingga dan Randi bersamaan.
Setelah itu Randi pulang bersama ibunya.
************
Elina dibawa ke sebuah bilik merah. Dia dijual ke Mami Reni pemilik bilik merah itu. Pak Edi dan Eros meninggalkan Elina begitu saja setelah mendapatkan uang. Elina dibawa masuk ke kamarnya oleh Mami Reni dan kedua anak buahnya.
"Kau sudah dijual padaku jadi menurutlah atau kau akan menyesal," tegas Mami Reni.
"Aku ingin pulang, lepaskan aku," ucap Elina.
"Tidak, lepaskan aku." Ucap Elina berusaha memberontak dari kedua anak buah Mami Reni.
"Suruh Tia dandani dia, ada klien untuknya," perintah Mami Reni pada anak buahnya.
"Beres Mami," sahut kedua anak buah Mami Reni.
Mami Reni keluar dari kamar itu. Elina menangis. Dia tidak bisa melawan apalagi perutnya sedang sakit. Kedua anak buah Mami Reni terus berjaga diluar kamarnya.
"Ya Allah, tolonglah hamba, hanya Engkau Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatunya, amin." Elina berdoa pada Allah SWT. Dia yakin Allah akan memberikan pertolongan padanya.
Elina berusaha mencari jalan keluar. Dia melihat jendela. Elina berusaha membuka jendela itu sekuat tenaga.
"Alhamdulillah bisa dibuka," ucap Elina.
"Tapi ini lantai dua, gimana caranya aku turun ke bawah?" Ucap Elina.
Elina berpikir keras, dia melihat kain seprei dan gorden. Elina menyambung semua kain yang ada dikamar itu. Dia mulai turun ke bawah. Meskipun itu menakutkan, tapi Elina harus berusaha demi buah hatina dan Atnan.
Bruuug....
Elina sampai dibawah. Dia mulai berjalan menuju gerbang keluar. Ternyata didepan juga ada penjagaan ketat. Elina mencari cara lain, dia mengambil stager untuk naik pagar. Elina meletakkan stager itu tepat didinding pagar. Dia mulai menaiki stager itu, sampai diatas pagar ternyata sudah ada dua anak buah Mami Reni.
"Turun Nona, kalau tidak kami akan membunuhmu dengan pistol ini," ucap Anak buah Mami Reni menengacungkan pistolnya pada Elina.
__ADS_1
"Gimana ini aku tidak mungkin mati disini, ada Atnan dan bayi diperutku," batin Elina.
Elina akhirnya turun. Dia dibawa masuk kembali oleh kedua anak buah Mami Reni. Elina yang terpaksa mengikuti kemauan Mami Reni dibawah tekanan dan ancaman. Dia didandani Tia agar tampil cantik dan menarik.
"Nah kau sudah cantik," ucap Tia.
Elina hanya diam, dia tak peduli dengan penampilannya.
"Seharusnya kau senang memiliki wajah cantik, kau akan mendapatkan banyak uang dari kecantikkanmu ini," ucap Tia.
"Tidak, aku tidak mendapatkan uang dengan cara seperti ini. Aku lebih baik menggembel asalkan aku mendapatkan uang halal walaupun itu sedikit," ucap Elina.
"Dasar bodoh, munafik, kau akan sepertiku nantinya jadi pelayan lelaki hidung belang seumur hidupmu," ucap Tia.
"Aku percaya Allah akan menolongku dari perbuatan kotor ini," ucap Elina.
Plaaaak....
Tia menampar Elina. Dia tidak suka Elina sok suci.
"Tampar lagi, aku ikhlas," ucap Elina.
"Kalau bukan karena Mami Reni, aku sudah membunuhmu," ucap Tia.
Tia keluar dari kamar itu dengan penuh kekesalan pada Elina. Elina hanya diam dikamar. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi.
Ditempat lain Pak Edi dan Eros sedang berpesta. Mereka mendapatkan banyak uang dari hasil menjual Elina pada Mami Reni. Mereka berdua berjudi dan mabuk disebuat tempat judi langganan mereka.
"Wah Pak Edi banyak duit."
"Iya dong, makanya kerja baru dapet duit kaya gini," ucap Pak Edi.
"Yang bener kerja? Paling jual si Davina."
"Tuh tahu, mana mungkin bapakku kerja," ucap Eros.
"Udah kita berjudi dan mabuk sepuasnya mumpung banyak duit," ucap Pak Edi.
Pak Edi, Eros dan semua yang ada ditempat itu berjudi dan mabuk. Mereka terus meminum minuman keras yang dioplos. Tiba-tiba mereka semua tumbang. Termasuk Pak Edi dan Eros. Mereka berdua meninggal ditempat sekaligus. Tak lama polisi datang ke TKP. Polisi hendak menangkap Pak Edi dan Eros yang telah menculik Elina, tapi mereka menemukan Pak Edi dan Eros bersama teman-temannya sudah tak bernyawa.
************
Setelah didandani Elina dibawa kedua anak buah Mami Reni ke sebuah hotel. Elina terus berjalan dilorong hotel ditemani kedua anak buah Mami Reni, dia terus melihat ke kanan dan ke kiri agar bisa kabur. Elina berpikir ini saatnya melarikan diri. Elina mendorong anak buah Mami Reni, lalu dia berlari meninggalkan mereka. Segera kedua anak buah Mami Reni mengejar Elina dan menangkapnya.
"Jangan berani macam-macam, kalau tidak aku akan membunuhmu."
Elina ditarik lengannya berjalan menuju ke sebuah kamar hotel. Dia didorong masuk ke kamar hotel itu sedangkan kedua anak buah Mami Reni berdiri diluar kamar hotel.
"Kau datang juga cantik, aku sudah menunggu dari tadi." Suara lantang lelaki tampan duduk disofa.
Elina terkejut saat mendapati klien Mami Reni itu.
__ADS_1