
Randi terus memperhatikan Jingga. Mereka terlihat akrab. Randi mulai tak senang melihat itu. Dia berdiri, berjalan menuju toilet. Di dalam toilet dia mencuci mukanya berkali-kali.
"Dasar cewek murahan," ujar Randi kesal. Dia memukul keramik di dekat tempatnya cuci tangan. Sambil melihat ke cermin di depannya.
"Mas maaf." Orang di sampingnya menegur Randi.
"Iya ada apa?" tanya Randi.
"Tangan saya boncok."
Randi melihat ke arah lelaki itu.
"Itu tangannyamu sampai bengkak karenaku?" tanya Randi.
"Bukan tangan saya infeksi jadi bengkak, meletus nih gara-gara pukulan Masnya."
"Maaf Mas," ucap Randi.
"Iya, tapi ...."
"Tapi kenapa Mas?" tanya Randi.
"Saya mau kencing gak bisa buka relsleting Mas."
Randi sudah tahu maksud lelaki di sampingnya.
"Saya bantu ya Mas," ucap Randi.
"Boleh."
Randi pun menolong lelaki itu. Tak lama dia kembali membantunya lagi saat menutup sletinya lagi.
"Mas saya mau BAB, bisa bantu?"
"Apa? BAB?" tanya Randi.
"Saya butuh teman di dalam toilet untuk menyalakan air dan membantu saya melepas celana dan memakaikannya kembali."
Randi berpikir. Jiwa kemanusiaannya meronta, tapi jijik juga. Gak kebayang menyaksikan si kuning turun ranjang. Kalau kuning padat masih enak dipandang, gimana kalau coklat pekat encer dan bau busuk.
"Gimana ya Mas?" Randi ragu.
"Saya sedih, mau BAB saja sulit, begini nasib saya semenjak tangan saya infeksi." Lelaki itu menangis.
"Yaudah Mas, saya bantu," ujar Randi terpaksa.
Akhirnya Randi membantu lelaki itu masuk ke dalam toilet. Totalitas membantu dari perairan sampai ke masalah celana bagian jeroan. Mematung membelakangi sang penyalur si kuning. Dia menutup hidungnya.
"Buset dah, bau banget, makan sampah kali nih orang," batin Randi.
"Mas maaf ya, mencret, bau telur busuk lagi, encer."
"Ngapain disebutin, makin geli gue," batin Randi.
Setelah proses panjang yang sulit dan bau. Randi selesai bertugas membantu lelaki itu. Mereka keluar dari toilet bersamaan. Beberapa orang di luar membicarakan mereka berdua.
"Mereka pasangan sekong ya."
"Biasa kalau ganteng doyannya singkong."
"Gak nyangka nyimpang, padahal maco."
__ADS_1
Randi keluar dari toilet dengan malu. Dia berjalan di depan lelaki yang tadi, tak saat mau keluar tak sengaja kakinya mundur menginjak lelaki tadi.
"Mas kaki infeksi saya pecah deh keinjek Mas."
Randi terkejut. Bisa repot kalau disuruh membantu lagi.
"Sorry Mas, saya harus segera bertemu presiden, ada sidang paripurna yang harus ditanda tangani," ucap Randi mengamankan diri.
Tak perlu memunggu lama dari pada sial dua kali, lebih baik kabur. Dia berjalan cepat dan bertubrukan dengan Jingga.
"Eh kamu kalau ...," ucap Jingga melihat Randi langsung terdiam.
"Kenapa?" tanya Randi.
"Emang ya kalau bertemu denganmu tuh sial mulu," ucap Jingga.
"Sial? itu karena kau matre, murahan," ujar Randi.
"Matre? murahan? kau seenaknya ya ngomong," ucap Jingga.
"Siapa lelaki tadi? genit banget," ucap Randi.
"Oh, itu urusanku, untuk apa kau ikut campur?" tanya Jingga.
"Karena aku gak suka melihatnya," jawab Randi.
"Kenapa kau tidak suka melihatnya?" tanya Jingga.
Randi terdiam. Dia tidak tahu kenapa mulutnya berkata seperti itu.
"Paling kau sirik aku bisa punya gebetan, iyakan?" tanya Jingga.
"Aku malas ya bertemu denganmu," ujar Jingga lalu berjalan meninggalkan Randi.
"Jingga aku nyaman bersamamu," ungkap Randi.
Langkah kaki Jingga terhenti. Dia menengok ke belakang.
"Aku tak peduli," ucap Jingga. Dia kembali melangkah ke depan meninggalkan tempat itu.
Randi hanya bisa melihatnya pergi menjauh darinya.
"Sial, kenapa aku harus bicara seperti itu, besar kepala dia," ujar Randi.
Tak lama Siska menghampiri Randi, dia langsung menggandeng tangannya.
"Siska lepaskan tanganmu!" perintah Randi.
"Sayang, kenapa sih? aku kan cuma mau manja sama kekasihku," ucap Siska.
Randi melepas paksa tangan Siska, lalu meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apapun. Siska kesal melihat Randi meninggalkannya. Dia berteriak tapi tak digubris Randi.
***
Sore itu Renata sudah memasak untuk Kenan. Jarang sekali Renata mau berbaik hati untuk masak makanan untuknya. Selama ini hubungannya dan Kenan hanya rukun di atas ranjang. Selebihnya mereka sering berdebat dan berselisih. Semua makanan sudah siap di atas meja.
"Kenan belum pulang juga, kemana sih dia?" ucap Renata.
Renata duduk di kursi menunggunya. Sesekali mengecek layar handphone-nya, berharap Kenan menelponnya. Selang beberapa menit Kenan menelpon Renata. Walau malas karena sempat kesal, Renata mengangkat panggilan dari suaminya itu.
"Hallo," ucap Renata.
__ADS_1
"Hallo sayang," sahut Kenan.
"Kau di mana?" tanya Renata.
"Aku ada urusan dulu, nanti pulang malam. Gak usah nunggu aku pulang ya sayang," ucap Kenan.
"Iya," jawab Renata.
Kenan menutup telponnya usai bicara. Dia berada di sebuah toko mainan bersama Bagas. Di toko itu bermacam-macam mainan dijual. Bagas sampai bingung memilihnya. Kenan menghampiri anaknnya.
"Bagas suka yang mana?" tanya Kenan.
Bagas terdiam. Dia hanya melihat ke arah robot yang disukainya.
"Kau mau ini?" tanya Kenan sambil memegang robot itu.
"Robotnya sangat mahal ayah," jawab Bagas.
"Bagas, asal kau suka, nanti ayah bayar," ujar Kenan.
"Bunda bilang kita tidak boleh boros, di rumah Bagas sudah punya banyak mainan," ucap Bagas.
Kenan merangkul Bagas.
"Selama ini ayah tidak ada di sisi Bagas, jadi sekarang ayah akan mewujudkan mimpi Bagas, apapun itu," kata Kenan.
Bagas mengangguk. Dia menerima robot-robotan yang diberikan Kenan. Usai membeli robot itu, mereka keluar dari toko mainan, di depan pintu ada anak kecil mengenakan pakaian yang lusu dan kotor. Dia hanya melihat dari luar ke arah kaca toko mainan itu. Bagas menghampiri anak kecil yang seusianya itu, dia memberikan robot-robotan miliknya pada anak itu.
"Makasih."
"Iya, namaku Bagas, kamu siapa?" tanya Bagas.
"Namaku Indra."
"Kau sendirian? di mana ayah atau ibumu?" tanya Bagas.
"Ayahku sudah meninggal, ibuku ada di sana, lagi jualan gorengan."
Mendengar percakapan itu Kenan menghampiri keduanya. Dia memperkenalkan diri dan mengajak Bagas membeli gorengan milik ibunya Indra. Kenan juga memberi modal untuk mereka agar usahanya semakin maju kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Di mobil Kenan mengajak Bagas bicara.
"Bagas kenapa kau berikan robot-robotanmu untuk Indra?" tanya Kenan.
"Bagas udah punya banyak mainan ayah, Indra lebih membutuhkan dariku, kata Bunda kita harus berbagi," ucap Bagas.
"Anak ayah memang pintar dan baik, ayah bangga," ujar Kenan. Dia senang Bagas anak yang baik, semua itu berkat didikan Laura sebagai ibunya.
Sampai di rumah, Kenan dan Bagas masuk ke rumah. Di dalam Laura sedang menyajikan banyak makanan di meja makan. Bagas langsung memeluk Laura.
"Bunda," ucap Bagas.
"Iya sayang," jawab Laura.
"Tadi Bagas jalan-jalan sama ayah, nonton pertandingan bola, makan es, lalu pergi ke toko mainan," ungkap Bagas.
"Oya?" ujar Laura.
Bagas menceritakan semuanya pada Laura. Saat-saat bersama Kenan. Dia begitu antusias menceritakan kebersamaannya bersama ayahnya.
"Nah sekarang makan dulu ya, Bagas pasti laparkan?" tanya Laura.
"Iya Bunda, ayah juga makan bersama kitakan?" tanya Bagas.
__ADS_1