
Sebulan sudah berlalu setelah Atnan dan Elina bulan madu ke pulau kecil itu. Orangtua Atnan sangat menantikan Elina segera hamil. Mereka ingin sekali memiliki cucu. Mereka tidak tahu hubungan Atnan dan Elina hanya diatas kertas.Seperti biasa Rafka sedang konsultasi pribadi pada dokter pribadinya. Dokter pribadi itu sengaja datang kekediaman Rafka setiap memeriksa kondisinya.
"Dokter bagaimana perkembangan kesehatan saya?" tanya Rafka.
"Baik, hanya kurangi makan manis, berlemak dan usahakan berolahraga"ucap Dokter.
"Saya ini sudah tua, kapan saja bisa dipanggil Allah SWT, tapi saya ingin menimang cucu saya dulu sebelum semua itu terjadi"ucap Rafka.
"Bukannya Atnan sudah menikah dengan Elina"ucap Dokter.
"Mereka memang sudah menikah, tapi masa lalu Atnan membuatnya sulit membuka hati untuk Elina"ucap Rafka.
"Kalau begitu gimana mereka bisa memiliki anak?" ujar Dokter.
"Iya, itulah masalahnya"ucap Rafka.
"Gampang Anda tinggal pura-pura sakit supaya Atnan segera memberi cucu"ucap Dokter memberi ide.
"Betul ya, dulu Atnan mau menikah dengan Elina karena saya sakit, berarti saya harus menggunakan cara yang sama ya"ucap Rafka.
Sepertinya hanya dengan cara itu Atnan akan mau bersama Elina. Rafka memikirkan ide dari Dokter pribadinya.
"Nanti saya akan membantu prosesnya"ucap Dokter.
Rafka setuju ide yang diberikan dokter pribadinya itu akan berhasil. Dia akan mencoba cara itu dengan bantuan dokter pribadinya. Walaupun Atnan sedingin es tapi dia begitu menyayangi ayahnya. Atnan sangat tahu ayahnya itu orang yang sangat baik pada siapapun. Rafka selalu menolong siapapun tanpa pandang bulu. Beliau tidak hanya kaya tapi begitu dermawan. Sikapnya itu yang selalu Atnan banggakan dari ayahnya.
Atnan sedang sarapan pagi dimeja makannya. Seperti biasa dia hanya sarapan sendirian. Dia tidak mau ada siapapun yang mengganggu kenyamanannya termasuk Elina. Meskipun mereka sudah menikah selama 3 bulan tapi sikap Atnan masih sangat dingin dan tertutup pada Elina. Elina seperti hidup sendiri tanpa suami meskipun satu kamar dan satu atap. Seakan-akan Atnan hidup dengan dunianya sendiri dan menganggap Elina tidak ada.
Atnan mendapat pesan dari rekan bisnisnya untuk datang ke pesta ulang tahun anaknya. Atnan berpikir untuk datang ke pesta ulang tahun anak dari rekan bisnisnya. Dia bingung karena sekarang statusnya sudah menikah tidak mungkin dia tidak mengajak Elina. Apa kata orang nanti jika dia datang sendiri. Atnan terpaksa harus mengajak Elina bersamanya. Menuju kamar Elina dengan berat hatinya harus mengajak Elina ke acara itu demi nama baik keluarganya dan perusahaannya. Elina sedang duduk diranjangnya sambil membaca sebuah novel kesukaannya.
"Elina"panggil Atnan menghampiri Elina.
"Iya"ucap Elina.
"Sore ini kita akan pergi ke ulang tahun anak rekan Bisnisku"ucap Atnan.
"Atnan mengajakku?"ucap Elina tak percaya Atnan akan mengajaknya.
__ADS_1
"Iya, ini semua demi nama baik keluarga dan perusahaan"jawab Atnan.
"Oke"ucap Elina menurunkan suaranya karena kecewa dengan jawaban Atnan.
Atnan mengantarkan Elina ke butik untuk memilih baju yang akan dikenakannya. Kemudian Atnan mengantar Elina ke salon. Dengan gaun yang mewah dan indah serta keterampilan sang penata rias Elina yang sudah cantik semakin bertambah cantik bak bidadari dari khayangan. Saat Atnan melihat Elina keluar dari ruangan riasnya.Atnan takjub melihat Elina yang begitu cantik seperti bidadari itu. Dia melihat Elina tanpa berkedip. Jantungnya berdebar kencang seolah-olah baru bertemu sesuatu hal yang besar. Elina tersenyum manis kearah Atnan seperti bidadari yang menyambut tuannya. Seketika Atnan terbangun dari mimpinya, sikapnya kembali sedingin es dan berkata acuh pada Elina.
"Ayo cepat, nanti kita terlambat"ucap Atnan langsung menarik lengan Elina menuju mobilnya.
"Iya"ucap Elina mengikuti Atnan.
Elina masuk ke dalam mobil bersama Atnan dikursi belakang. Sepanjang perjalanan Atnan hanya diam. Suasana dimobil itu begitu canggung seolah mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Sampai digedung tempat acara ulang tahun itu. Sikap Atnan berubah pada Elina. Dia menggandeng Elina berjalan diantara tamu-tamu yang semua itu rekan bisnisnya. Dia memberikan senyuman ringan seakan-akan dia bahagia bersama Elina. Sandiwara yang begitu cantik sehingga semua yang hadir tidak menyadarinya. Atnan menuju ke siempunya acara memberikan selamat dan memberikan sebuah kado. Atnan juga memperkenalkan Elina pada anak rekan bisnisnya yang juga seusia Elina.
"Nona Merry ini istri saya"ucap Atnan memperkenalkan Elina.
"Wah, cantik sekali istri Anda Tuan Atnan"ucap Merry sambil menyalami Elina.
"Saya Elina senang bertemu dengan Anda"ucap Elina membalas salamnya Merry.
Setelah menemui Merry, Atnan dan Elina berdiri diantara tamu undangan mengikuti serangkaian acara. Kebetulan acaranya adalah berdansa.Semua tamu undangan berdansa. Atnan dan Elina canggung dan saling memandang. Mereka bingung harus ikut berdansa atau tidak. Jika tidak, hanya mereka pasangan yang tidak berdansa. Atnan langsung meraih tangan Elina mengajaknya berdansa.
"Elina ayo kita berdansa untuk sebuah sandiwara yang romantis"ucap Atnan.
Atnan dan Elina berdansa, mereka tersenyum satu sama lain saling berhadapan. Elina merasa saat berdansa Atnan seperti orang lain yang begitu hangat dan penuh cinta. Elina menikmati dansa itu walaupun hanya sandiwara belaka. Tapi yang terpenting baginya melihat Atnan yang hangat walau sesaat seperti mimpi yang ketika dia bangun semua akan berlalu dan menghilang. Selama mimpi itu masih berlangsung dia akan menikmatinya.
Acara ulang tahun itu berakhir Atnan dan Elina pulang menuju mobil mereka. Atnan masih menggandengkan tangan Elina sampai parkiran mobil. Saat kondisi mulai sepi Atnan langsung melepas tangannya dari Elina.
"Sandiwara usai, mari kita pulang"ucap Atnan begitu dingin.
Elina hanya mengangguk.
Mobil melaju menuju rumah mereka, handphone Atnan berdering. Atnan mengangkat telpon itu, Dokter pribadi ayahnya memberi kabar pada Atnan kalau kondisi ayahnya memburuk. Atnan langsung meminta supir segera pulang ke rumah..Sampai dikamar, Rafka tidur diranjangnya, tangan kanannya diimpus dan hidungnya dipasang respirator. Dokter memberikan kabar buruk pada Atnan.
"Atnan kesehatan Papamu memburuk karena Beliau selalu memikirkan ingin segera memiliki cucu, itu membuat Beliau tertekan dan kesehatannya menurun"ucap Dokter.
"..........."Atnan terdiam. Dia tahu Papanya sudah lama ingin memiliki cucu.
"Saya berpikir jika Atnan bisa memberikannya cucu mungkin itu akan membuat Beliau semangat untuk sembuh dan pulih kembali"ucap Dokter.
__ADS_1
"Iya Dok"ucap Atnan dengan berat hati.
Atnan sangat sedih mendengar penjelasan dari dokter. Dia merasa akan menyesal jika terjadi sesuatu pada ayahnya. Atnan langsung keluar dari kamar ayahnya menuju kamar lamanya untuk menenangkan diri. Azura masuk ke kamar lama Atnan.
"Atnan hik..hik...hik..."ucap Azura bersandiwara sedih.
"Mama jangan menangis"ucap Atnan.
"Papamu jadi begini karena dia selalu memikirkan ingin memiliki cucu, setiap hari papa mu selalu bercerita akan mengajak cucunya bermain, jalan-jalan dan tidur bersama cucunya hik...hik...hik..."ucap Azura.
"........"Atnan hanya diam.
"Atnan, mama mohon meskipun kau belum dekat dengan Elina sepenuhnya tapi lakukan ini demi Papamu, kalau terjadi sesuatu pada Papamu hik...hik...hik..."ucap Ibu Sintia.
"........."Atnan terdiam.
"Mama tidak bisa melihat Papamu seperti ini. Papamu harus sembuh Atnan hik....hik....hik...."ucap Azura sambil berdiri dan duduk jongkok dibawah kaki Atnan memohon.
"Mama...mama jangan begini"ucap Atnan.
"Mama mohon Atnan"ucap Azura memohon.
"Iya Ma"ucap Atnan terpaksa mengiyakan.
Azura keluar dari kamar Atnan dan masuk ke kamarnya. Dia begitu senang Atnan menyetujui kemauannya. Dan mendekat ke arah suaminya.
"Pa udah bangun sandiwara usai kita tinggal menunggu hasilnya"ucap Azura.
"Yang benar ma?" tanya Rafka sambil bangun dan senang mendengar ucapan istrinya.
"Iya Pa, semoga saja malam ini Atnan dan Elina bisa bersama ya Pa"ucap Azura.
"Betul ma, semoga rencana kita benar-benar berhasil"ucap Rafka.
"Amin" jawab Azura.
Ditempat yang berbeda, Elina sedang berbaring diranjang. Sementara Atnan masih duduk disofa memikirkan kata-kata Dokter dan mamanya.Dia bingung haruskah melakukan itu dengan Elina.Jika tidak bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu pada Ayahnya. Saat dia sedang berpikir seperti itu, dia melihat ke arah Elina yang begitu cantik saat tidur. Atnan menelan ludahnya melihat Elina yang begitu cantik.
__ADS_1
"Haruskah aku melakukannya dengan Elina malam ini?" batin Atnan.