
Setelah sholat subuh, Arian joging dihalaman rumahnya. Dia melihat tukang kebun dirumah orangtuanya sedang menanam bibit pohon mangga, pohon jambu air dan pohon leci. Arian penasaran dan menghampiri tukang kebun itu.
"Pak Amat sedang memohon pohon cangkokan ya?"tanya Arian.
"Iya Tuan muda"ucap Pak Amat.
"Banyak juga yang Pak Amat tanam, bahkan sampai ditepi jalan rumah ini ya"ucap Arian.
"Iya Tuan muda, biar banyak pepohonan dibumi ini jadi terlihat asri dan sedap dipandang"ucap Pak Amat.
"Benar juga yah, kalau tak ada pepohonan tanah dibumi ini terlihat gersang dan tidak subur"ucap Arian.
"Lagi pula kalau kita menanam, Insya Allah kita akan memanen hasilnya"ucap Pak Amat.
"Iya ya, tidak ada ruginya menanam pohon, selain bisa dinikmati buahnya juga bisa mencegah banjir dan erosi tanah yang menyebabkan longsor"ucap Arian.
"Betul Tuan muda"ucap Pak Amat.
"Terimakasih atas ilmunya Pak"ucap Arian.
"Sama-sam Tuan muda"ucap Pak Amat.
Arian masuk ke dalam rumah setelah selesai joging.
Dia masuk ke ruang makan untuk minum. Dimeja makan sudah tersedia makanan. Arian memandangi makanan itu.
"Arian jangan bengong, buruan mandi dan sarapan" ucap Ibu Ruri.
"Banyak banget makanannya, siapa yang masak Ma?"tanya Arian.
"Ayu"ucap Ibu Ruri.
"Oh Ayu"ucap Arian.
"Arian lihatlah, selain cantik dan baik, Ayu juga pandai memasak. Hidupmu akan bahagia bersama Ayu nak"ucap Ibu Ruri.
"Aku mandi dulu Ma"ucap Arian mengalihkan pembicaraan.
Arian meninggalkan meja makan itu. Dia naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Arian masuk kamar lalu mandi ditoilet. Dia mengenakan pakaian lalu keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Disana sudah berkumpul kedua orangtuanya, Bude Roro dan Ayu. Arian duduk dan sarapan bersama mereka semuan. Selesai makan Bude Roro membicarakan perjodohan antara Arian dan Ayu.
"Arian Bude ingin bertanya satu hal padamu?"tanya Bude Roro.
"Silahkan Bude"ucap Arian.
__ADS_1
"Apa kamu mau menikahi Ayu?"tanya Bude Roro.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini"ucap Arian.
Bude Roro sedikit kecewa dengan jawaban Arian. Dia berpikir Arian juga menyukai Ayu. Tapi ternyata tidak sesuai perkiraannya. Jantungnya langsung terasa sakit, sesak nafas dan berdebar kencang. Dia langsung pingsan.
"Bude....."teriak Arian.
"Mba"ucap Pak Alex dan Ibu Ruri.
"Ibu....."ucap Ayu.
Bude Roro dibawa kerumah sakit. Dia mendapatkan penanganan Dokter tapi kondisinya kritis. Dokter keluar dari ruang perawatan dan berbicara dengan Arian.
"Bagaimana kondisi Bude Roro?"tanya Arian pada Dokter Budi.
"Tuan Arian, Bu Roro ingin bicara dengan Anda"ucap Dokter Budi.
Arian langsung masuk ke ruang perawatan menemui Bude Roro yang berbaring diranjang pasien.
"Arian........"ucap Bude Roro.
"Iya Bude"ucap Arian.
"Iya Bude, Arian akan menikahi Ayu. Tapi Bude harus sembuh"ucap Arian sambil memegang tangan Bude Roro.
"A...ku...ti.....tip....A....yu....."ucap Bude Roro.
"Bude, Lailahailallah"ucap Arian memandu Bude Roro.
"Lailahailallah"ucap Bude Roro
Bude Roro menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bude........"teriak Arian.
Arian sangat sedih dengan kepergian Bude Roro. Baginya beliau sudah menjadi orangtua keduanya. Begitu banyak jasanya pada dia dan keluarganya.
**********
Pemakaman Kamboja Merah
Arian dan semua anggota keluarganya menghadiri pemakaman Bude Roro. Mereka memberi penghormatan terakhir padanya. Arian duduk disamping nisan Bude Roro.
__ADS_1
"Ya Allah ampunillah dosa Bude Roro, tempatkanlah ditempatMy yang terbaik, ringankan siksa kuburnya" ucap Arian.
Pak Alex dan Ibu Ruri menghampiri Arian.
"Arian, Bude Roro adalah orang yang baik, beliau selalu menolong orang begitupun pada keluarga kita. Semoga Allah memberinya yang terbaik"ucap Pak Alex.
"Semoga Bude Roro bahagia disana, tugas kita mendoakannya agar dia tenang disana"ucap Ibu Ruri.
Ayu juga menangis disamping nisan Bude Roro. Dia orang yang paling sedih dengan kepergian Bude Roro.
"Hik....hik.....hik......Bu maafkan aku, selama jadi anak Ibu, Ayu belum sempat membahagiakan Ibu hik...hik....."ucap Ayu.
Arian berdiri dan berjalan menghampiri Ayu.
"Ayu ikhlaskan kepergian Bude, biar Bude dan yang ditinggalkan sama-sama tenang"ucap Arian.
"Iya Kak Arian hik...hik....hik...."ucap Ayu.
"Ayo kita pulang Kak Arian"ucap Dinda.
"Iya Din"ucap Arian.
Arian dan semua anggota keluarganya keluar dari area pemakaman itu. Mereka pulang ke rumah.
*************
Dokter Haris, Freya, Fina dan Alif berjalan-jalan diarea sekitar SMA Bintang. Mereka mengelilingi semua kelas, berbagai ruangan lainnya, mushola, taman dan lapangan basket disekolah itu. Mereka duduk ditepi lapangan basket itu.
"Jadi ingat dulu saat SMA aku sering main basket disini"ucap Dokter Haris.
"Aku dulu sering melihat pertandingan basket antar kelas baik kelas satu sampai kelas tiga disetiap istirahat"ucap Freya.
"Kangen masa SMA ya"ucap Dokter Haris.
"Iya, masa yang paling indah dihidup kita"ucap Freya.
"Kata orang,jangan disia-siakan masa SMA karena tidak datang dua kali. Masa dimana semua hal campur aduk didalamnya. Kejar mimpi, cita dan asa bersama teman-teman kita seangkatan"ucap Fina.
"Iya, masa yang indah dan tak terlupakan seumur hidup. Banyak kenangan yang terukir dimasa ini"ucap Dokter Haris.
Mereka bertiga mengenang masa-masa SMA di tempat itu. Masa tidak akan pernah kembali. Masa indah saat dibangku SMA, penuh suka dan duka.
Tahap Revisi, sabar ya untuk Para Reader
__ADS_1