DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Konferensi Pers


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Radhitya dan Manda sangat meriah. Keluarga ikut bahagia dengan pernikahan mereka berdua. Nathan dan Gista juga hadir diacara pernikahan Radhitya. Biar bagaimanapun Gista pernah jadi anggota keluarga besar Arian-Freya. Gista mendorong kursi roda Nathan naik ke atas pelaminan. Mereka berdua mengucapkan selamat pada Radhitya dan Manda.


"Selamat ya atas pernikahanmu Radit, Manda, semoga kalian bahagia dan segera memiliki keturunan" ucap Gista.


"Iya Radhitya, Manda, semoga pernikahan kalian langgeng" ucap Nathan.


"Amin, terimakasih Kak Nathan, Gista" ucap Radhitya dan Manda.


Gista turun dari pelaminan sambil mendorong kursi roda yang dinaiki Nathan. Mereka menghampiri Rafka dan Azura yang sedang berbincang dengan Arian dan Freya.


"Mas Rafka, Azura apa kabar?" tanya Gista.


"Alhamdulillah baik" ucap Rafka dan Azura.


"Papi, Mami apa kabar?" tanya Gista.


"Alhamdulillah baik" ucap Arian dan Freya.


Mereka pun berbincang banyak hal. Walaupun Gista sudah bercerai dengan Rafka tapi Arian dan Freya sekeluarga selalu menganggap Gista tetap keluarga mereka. Gista juga selalu nyaman bercengkrama dengan keluarga Arian-Freya. Mereka semua orang baik, khususnya Rafka. Karena kebaikannya, kini Gista bisa hidup merdeka tanpa intimidasi dan perbudakan yang dilakukan Derry padanya selama bertahun-tahun lamanya. Freya, Azura dan Gista mengobrol sesama perempuan.


"Gista sudah hamil berapa bulan?" tanya Freya.


"Empat bulan Mi" ucap Gista.


"Pantas saja perutmu sudah terlihat menonjol" ucap Freya.


"Wajahmu kelihatan seger, jangan-jangan cewek nih" ucap Azura pada Gista.


"Iya sih akhir-akhir ini bawaannya pengen dandan mulu" ucap Gista.


"Kayanya, Mami juga dulu gitu waktu hamil Luna, sampai Papimu beliin make up lengkap buat Mami dandan seharian" ucap Freya.


Mereka terus mengobrol seputar kehamilan. Azura dan Gista terlihat jauh lebih akrab dan santai. Mungkin benar berbagi suami itu tidak mudah, pasti akan ada kecemburuan, kesalahfahaman dan rasa iri dalam segala hal.


Gista dan Azura duduk berdua dikursi kosong. Mereka mengobrol dari hati ke hati. Kesalahfahaman dimasa lalu harus diluruskan.

__ADS_1


"Azura aku minta maaf, selama bersama Mas Rafka aku selalu cemburu dan iri, dan akhirnya terjadi kesalahfahaman yang panjang. Sampai kau dan Mas Rafka terpisah cukup lama. Disengaja atau tidak, aku telah menuntut Mas Rafka untuk meninggalkanmu. Aku menyesal seharusnya aku bisa memahami keadaan kita semua saat itu, bukannya malah egois. Dan mengingkan Mas Rafka untuk diriku sendiri" ucap Gista.


Azura memegang tangan Gista, dia tersenyum pada Gista.


"Gista, biarlah semuanya berlalu, kita sambut masa depan yang baru. Aku, Mas Rafka dan kamu masing-masing tidak luput dari kesalahan. Karena kita hanya manusia biasa. Semoga kita bisa bahagia dengan kehidupan kita masing-masing" ucap Azura.


"Amin" ucap Gista.


"Mulai sekarang aku ingin jadi sahabatmu" ucap Azura.


"Iya, sahabat" ucap Gista.


Azura dan Gista sama-sama tersenyum. Kini mereka sudah melangkah kedepan dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi dimasa lalu. Rafka jadi perantara kebahagiaan yang kini mereka rasakan.


Selain bicara dengan Azura, Gista juga menghampiri Rafka yang sedang berdiri merapikan pakaian kedua anak kembarnya.


"Mas Rafka boleh aku bicara sebentar" ucap Gista.


"Boleh, kita duduk disebelah sana" ucap Rafka.


"Mas Rafka terimakasih atas semua yang kau berikan padaku dulu. Baik itu cinta, kasih sayang, dan perhatianmu. Kau memberiku semuanya. Tanpa kebaikanmu mungkin aku masih diperbudak Derry dan menjadi istri dari Juragan Kardi. Mas juga menemaniku sampai aku bisa jalan kembali. Entah seperti apa hidupku mungkin kalau tak bertemu denganmu Mas. Terimakasih" ucap Gista sambil meneteskan air mata.


"Ibu hamil harus happy, biar ibu dan bayinya sehat" ucap Rafka.


"Mas benar" ucap Gista tersenyum.


"Gista, dari awal aku sudah ikhlas melakukan apapun untukmu. Baik sebagai teman dan suamimu saat itu. Semoga kedepan kita tetap bisa bersilaturrahmi dengan baik" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Gista.


Tak lama suara gaduh berasal dari luar Gedung Orange Country. Wartawan kembali mengerumuni gedung tersebut. Mereka berada diluar gedung menunggu klarifikasi Radhitya dan Manda. Arian dan Freya menghampiri Radhitya dan Manda yang ada dipelaminan.


"Radit wartawan ricuh diluar" ucap Freya.


"Iya Mi" ucap Radhitya.

__ADS_1


"Papi rasa kau harus klarifikasi melalui konferensi pers" ucap Arian.


"Sepertinya memang harus begitu, capek juga harus terus-menerus bersembunyi" ucap Radhitya.


Radhitya melihat ke arah Manda, meminta persetujuaannya. Manda hanya mengangguk.


Radhitya dan Manda turun dari pelaminan, berjalan ke ruangan konferensi pers yang sudah disediakan pihak gedung itu. Radhitya dan Manda naik ke podium. Disana ada meja panjang dan kursi untuk duduk sedangkan didepannya tersedia meja beserta kursi untuk para wartawan.


Radhitya dan Manda duduk berdua. Wartawan memasuki ruangan itu. Mereka duduk untuk mendengarkan klarifikasi dari Radhitya dan Manda.


"Sebelum saya selesai bicara saya harap jangan ada bertanya dulu. Nanti ada waktunya untuk tanya jawab, paham?" tanya Radhitya pada wartawan.


"Paham" ucap Semua wartawan.


"Aku mengenal Manda enam tahun lalu. Saat itu Manda dan Ibunya bersilaturrahmi ke rumah. Saat itu status Manda sudah seorang janda. Awalnya aku hanya tertarik padanya karena dia unik. Belum terlintas dalam pikiranku untuk menjadikannya kekasihku. Aku masih playboy yang memiliki banyak pacar. Tapi setelah mengenal Manda, hidupku berubah. Aku mulai mengerti arti cinta dan kesetiaan. Aku terus mengejarnya tapi dia terus menolakku. Karena apa? karena dia merasa tidak pantas untukku. Dia bilang aku hanya seorang janda, miskin dan tidak berpendidikan. Berbeda denganku yang seorang artis terkenal, kaya dan berpendidikan. Aku terus menyakinkannya. Bahkan sampai lima tahun lamanya. Penolakan dan penolakan yang aku dapatkan. Dia selalu menghindar dariku. Jika dia matre, murahan, genit, peselingkuh dan tak tahu malu, kenapa saat aku mengejarnya dia selalu menolak. Apa itu sesuai yang kalian tuduhkan. Manda seorang wanita biasa yang juga ingin bahagia seperti kalian semua. Ingin punya kebebasan, pilihan dan tujuan hidup. Jika kalian semua terus memakinya, menghinanya, dan menuduhnya, apa salah Manda pada kalian? apa dia merugikan kalian? atau dia mengganggu kedamaian kalian? tidakkan. Jadi berpikirlah yang benar, sesuai fakta dan jangan bicara seenaknya tanpa bukti. Kalian tahu selama ini Manda sangat tersiksa dengan gosip yang menyebar. Hidupnya ketakutan, malu, tertekan dan kehilangan kebebasannya. Apa itu yang kalian inginkan? apa ini adil untuk Manda?. Jika posisi Manda ada pada kalian, apa yang akan kalian lakukan? apa kalian akan menangis atau bunuh diri? Kalau kalian tidak suka pada Manda, cukup dihati saja. Jika masih tidak bisa menyimpannya dihati, makilah lah saya, hina saya, dan ejek saya sepuas kalian tapi jangan lakukan itu pada istri saya, Manda. Bijaklah dalam berucap dan menulis sesuatu, dimana pun tempatnya" ucap Radhitya.


Manda sampai terharu mendengar ucapan Radhitya yang panjang dan lebar. Suaminya itu membelanya didepan umum. Baru kali ini ada seseorang yang mau melindunginya dan mencintainya sebesar itu.


Radhitya menghapus air mata Manda yang menetes dipipinya dengan kedua tangannya. Manda memegang kedua tangan Radhitya yang berada dipipinya.


Proook....proook....proook.....


Semua wartawan bertepuk tangan dan terharu.


Mereka ikut merasakan apa yang dirasakan kedua suami istri itu.


Radhitya dan Manda mulai melakukan sesi tanya jawab dengan wartawan. Mereka dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan wartawan.


"Nona Manda apa benar Anda diceraikan pada saat malam pertama pernikahan Anda?"


"Pertanyaan selain mengenai pernikahan saya dan Radhitya, tidak akan saya jawab, karena semua itu sudah jadi masa lalu dan akan jadi kenangan yang akan selalu diingat" ucap Manda.


"Bilang saja kau peselingkuh, masih saja membela diri" ucap Ibu Sasa yang baru masuk ke ruangan konferensi pers itu.


Manda, Radhitya dan semua wartawan terkejut dan melihat ke arah Ibu Sasa yang memasuki ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2