DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 3 : Ayah Bagas


__ADS_3

Pukul 8 pagi Jingga dan peserta lainnya berada di padang rumput. Mereka berkumpul mengikuti arahan host acara itu. Kali ini mereka harus lari maraton berpasangan. Untuk itu nama mereka dikocok supaya bisa berpasangan satu sama lain.


"Siska-Hasan."


"Rani-Bagus."


"Jingga-Randi."


Jingga terkejut saat namanya dipasangkan dengan Randi. Begitupun dengan Randi. Mereka sempat tak percaya akan berpasangan di game pagi ini.


"Lari berpasangan ini, melatih kalian kerja sama tim, pengertian, dan perhatian kalian pada pasangan. Karena tak mudah untuk lari maraton selama 2 jam. Jadi dibutuhkan kekompakan dan keyakinan satu sama lain itu baru sebuah pasangan."


Semua peserta mengangguk. Mereka paham apa yang diarahkan oleh host. Lari maraton pun dimulai. Semua peserta lari bersama pasangannya. Baru satu jam, Jingga sudah kelelahan. Dia duduk di bawah.


"Gimana mau menang, istirahat terus," ucap Randi.


"Kau tak melihat kakiku sudah tak kuat berlari lagi, aku ingin minum, istirahat," ucap Jingga.


"Masih jauh jarak yang kita tempuh, kalau begini sudah pasti kalah," ujar Rendi.


"Kenapa ya aku harus berpasangan dengan lelaki menyebalkan sepertimu," ucap Jingga.


"Aku juga sial berpasangan denganmu, seharusnya jadi yang pertama ini mandeg di sini," ujar Randi.


Jingga berusaha bangun. Meluruskan kakinya dan mulai berlari lagi.


"Dah pria gak punya perasaan, lambaaat!" ejek Jingga yang berlari duluan.


"Dasar cewek lemah, lihat saja aku bisa mengalahkanmu," ucap Randi.


Randi berlari mengejar Jingga. Mereka kejar-kejaran sambil ledek-ledekan hingga kurang 10 KM lagi Jingga terjatuh. Kaki dan tangannya sampai baret. Randi menolongnya dan membasuh lukanya dengan air.


"Perih tahu," ujar Jingga.


"Ini untuk sementara, nanti sampai tempat finish diobati," ucap Randi.


"Kita kalah, aku tak bisa lari lagi," ucap Jingga.


"Tidak masalah, kitakan sudah berusaha, kau terluka, kita tak perlu memaksakan diri," ungkap Randi.


"Tumben kata-katamu bijak?" ujar Jingga.


Randi hanya diam dan berdiri di depan Jingga.

__ADS_1


"Ayo jalan sampai finish!" ucap Randi.


"Oke Bos," sahut Jingga. Dia kembali berdiri. Berjalan bersama Randi perlahan.


"Kalau susah untuk jalan, aku gendong," ucap Randi.


"Yang bener? tadi bijak, sekarang baik, tak ada udang dibalik baskomkan?" tanya Jingga.


Randi kesal langsung berlari meninggalkan Jingga.


"Randi jangan tinggalkan aku, Randi ...," panggil Jingga.


Randi yang berlari didepan berhenti, berbalik menghampiri Jingga.


"Aku minta maaf, lain kali takkan berkata sembarangan," ucap Jingga sambil tersenyum tulus.


"Kalau begitu kau terlihat manis Jingga," ucap Randi.


Jingga langsung malu. Pipinya memerah, jantungnya berdebar tak karuan. Dia bingung harus bersikap apa, rasa canggung menguasainya.


"Wajahmu merah, kau suka padaku ya?" ucap Randi.


"Eh, gaklah, ngapain aku suka padamu, menyebalkan," ucap Jingga.


"Dasar sombong," ucap Jingga.


Randi dan Jingga kembali ledek-ledekan. Hal itu menjadi awal kedekatan mereka. Hingga di akhir minggu acara itu mencapai finalnya. Ternyata Randi dan Siska menjadi pemenang acara mencari jodoh itu. Mereka berdua jadi pasangan. Jingga pulang dengan perasaan kesal karena Randi lebih memilih Siska.


***


Kenan datang ke rumah Laura. Dia membawa mainan untuk Bagas. Melihat begitu banyak mainan yang dibelikan Kenan, Bagas senang sekali. Apalagi Kenan menemaninya main. Laura dan Lara memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Lihat Kak, Bagas senang sekali setiap bersama Kak Kenan," ucap Lara.


"Iya, tapi aku takut," kata Laura.


"Takut kenapa?" tanya Lara.


"Takut Kenan mengambil Bagas dariku kalau nanti terbukti anaknya," jawab Laura.


"Kalau begitu, minta dia menikahimu, dengan begitu kau akan terus bersama Bagas," saran Lara.


Laura terdiam memikirkan saran Lara.

__ADS_1


"Gimana kalau dia sudah punya istri? aku tidak ingin menyakiti hati istrinya," ucap Laura.


"Kak, secara logika, seharusnya Kenan tanggungjawab dari dulu saat kakak hamil, kakak tak pernah merebutnya, atau menggodanya, dialah yang sudah mengambil kehormatan kakak, dia harus menerima segala konsekuensi dari perbuatannya," ujar Lara.


"Aku tidak ingin jadi duri di antara Kenan dan istrinya," ucap Laura.


"Kak, status itu penting, apalagi ada Bagas, dia butuh sosok ayah yang jelas, kalau dia tidak menikahimu Bagas akan bingung memilih bersamamu atau Kenan?" ungkap Lara.


Laura hanya merenung melihat Kenan dan Bagas yang terlihat akrab dan asyik bermain. Tak lama Kenan menghampiri Laura, mengajaknya bicara berdua. Segera Lara menemani Bagas agar tidak mengganggu pembicaraan mereka berdua. Laura dan Kenan duduk berdua di ruang tamu. Sedangkan Lara dan Bagas main di luar.


"Laura, beberapa hari yang lalu, tanpa sepengetahuanmu, aku sudah melakukan test DNA pada Bagas," ucap Kenan.


"Test DNA?" Laura terkejut.


"Iya test DNA, Bagas anakku," jawab Kenan.


"Jadi kau lelaki itu?" Laura semakin terkejut.


Kenan mengangguk.


"Kenapa kau melakukan itu padaku? kenapa?" tanya Laura sambil menangis.


"Aku memang tidak ingat apa yang terjadi pada malam itu. Kondisiku waktu itu baru saja diputuskan kekasihku, aku mabuk-mabuk bersama teman dekatku, malam itu aku mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat hingga menabrak pohon di tepi jalan. Namun aku tak ingat apapun kalau aku sudah merenggut kehormatanmu, maafkan aku Laura," ucap Kenan.


"Bertahun-tahun aku menanggung malu, hinaan, cibiran dan gunjingan orang selalu ditujukan padaku. Tapi aku tidak masalah soal itu, hanya Bagas, dia ingin sekali bertemu ayahnya, sedangkan aku tidak tahu siapa lelaki yang menghamiliku, hatiku sakit setiap Bagas bertanya ayahnya," ucap Laura sambil menangis.


Kenan berdiri. Berlutut di kaki Laura. Dia menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Laura, kau harus menanggung penderitaan karena perbuatanku, aku minta maaf," ucap Kenan.


Laura mengangguk meski air mata terus membanjiri pipinya. Kenan menatap wajah Laura yang penuh kesedihan, luka karena malam itu terlihat jelas di wajahnya. Dia harus menanggung semua penderitaan karena perbuatannya.


"Aku akan membayar semua kesalahanku di masa lalu, aku akan bertanggungjawab untuk itu," ucap Kenan.


"Apa kau akan memisahkanku dengan Bagas?" tanya Laura.


"Tidak, kau tetap akan bersama Bagas, aku akan menikahimu," ucap Kenan.


"Menikahiku? apa kau sudah punya istri?" tanya Laura.


Kenan mengangguk.


"Bagaimana kau akan menikahiku jika kau sudah punya istri? apa dia setuju?" tanya Laura.

__ADS_1


__ADS_2