
Gista menemani Nathan terapi ditempat Gista dulu terapi. Dia berusaha mensuport suaminya agar semangat mengikuti terapi yang dijalaninya.
Walaupun kecil kemungkinan Nathan sembuh seperti semula tapi sebagai manusia tetap harus berusaha, Allah lah menentukan hasilnya.
"Mas semangat" ucap Gista.
Nathan tersenyum mendengar ucapan Gista meski dia tidak bisa melihatnya. Setelah terapi itu selesai Gista mendorong kursi roda Nathan berjalan ditaman depan klinik itu sambil menikmati udara dipagi hari. Kebetulan saat itu baru pukul 10 pagi.
"Sayang terimakasih, kau sudah menemaniku dari tadi" ucap Nathan.
"Iya Mas, aku akan selalu menemanimu terapi" ucap Gista.
"Dulu Mas Rafka juga begitu sabar menemaniku terapi, seminggu tiga kali dia meluangkan waktunya menunggu aku terapi. Aku harus bisa seperti Mas Rafka yang selalu baik dan penyayang" batin Gista.
Gista teringat saat Rafka menemaninya terapi. Meskipun Rafka sibuk tapi dia selalu menyempatkan diri untuk menemani Gista. Bahkan sudah berceraipun, Rafka tetap menemaninya hingga Gista bisa berjalan kembali.
"Sayang dekatkan pipimu padaku" ucap Nathan.
"Iya Mas" ucap Gista.
Gista mendekatkan pipinya ke depan Nathan.
Cup
Cup
Nathan mencium pipi Gista karena rasa sayangnya.
"Mas" ucap Gista memegang pipi Nathan.
Gista membalas ciuman Nathan dengan mencium bibirnya. Mereka berciuman cukup lama. Tangan Nathan terus mengelus perut Gista.
"Sayang kau tidak mual atau nyidam sesuatu?" tanya Nathan seusai berciuman.
"Tidak Mas, rasanya aku cuma pengen deket sama kamu terus Mas" ucap Gista.
"Dede bayinya tahu kalau Mamanya sibuk, mengurus Papanya, rumah dan mini market" ucap Nathan.
"Iya ya Mas, bayi kita pinter membaca situasi" ucap Gista.
Gista mengantarkan Nathan pulang ke rumahnya lalu dia pergi ke mini market. Dia turun dari mobilnya. Masuk ke dalam mini market. Gista melihat karyawannya sedang makan rujak jambu biji saat jam istirahat siang. Gista hanya bengong melihat mereka begitu nikmat memakan jambu biji itu sambil memegang perutnya.
"Jangan bengong, ambilah kau ingin itukan" ucap Pasha.
Pasha memberikan rujak jambu biji itu ke tangan Gista lalu pergi meninggalkannya. Gista melihat rujak jambu biji yang ada ditangannya dan melihat punggung Pasha yang mulai menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
"Dia selalu tahu yang ku inginkan" batin Gista.
Gista penasaran dengan Pasha. Dia menghampirinya yang sedang berada digudang merapikan stok persediaan barang dan mengajaknya bicara.
"Pasha aku ingin bicara" ucap Manda.
"Ibu Gista mau bicara apa?" tanya Pasha.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Gista.
Pasha hanya diam saja dan terus merapikan barang-barang digudang itu. Dia tidak menjawab pertanyaan Gista.
"Pasha, aku tanya, siapa kau sebenarnya?" tanya Gista.
"Ibu Gista saya akan menjawab kalau itu pertanyaan mengenai pekerjaan saya, selebihnya tidak ada kewajiban untuk saya harus menjawab pertanyaan Anda" ucap Pahsa.
"Benar juga, dia memang tidak harus menjawab pertanyaanku, tapi siapa dia membuatku penasaran" batin Gista.
Sebuah kardus terjatuh dari rak yang berada diatas Gista. Melihat itu Pasha langsung memeluk Gista menutupinya dengan tubuhnya, hingga kardus berisi sabun mandi itu menjatuhi punggung Pasha.
Bluuuug....
"Aw...." Pasha kesakitan.
Setelah kardus itu terjatuh ke bawah lantai. Pasha melepas pelukannya dari Gista lalu meninggalkannya.
Pasha tidak menggubris ucapan Gista, dia tetap meninggalkannya.
"Dia selalu ada saat aku dalam bahaya ataupun aku butuh sesuatu dia selalu ada" batin Gista.
Gista berjalan menuju ruangannya. Dia duduk dikursi dan memakan rujak jambu biji pemberian Pasha.
"Rasanya enak, manis dan segar" ucap Gista.
Gista begitu lahap memakan rujak jambu biji itu.
Dia melupakan sejenak siapa Pasha. Mungkin besok atau lusa dia akan tahu siapa lelaki itu.
***********
Azura sedang melihat-lihat para pengunjung ditoko mainan miliknya. Dia juga berbaur dengan pembeli dengan melayani mereka sendiri. Beberapa karyawan menjelaskan semua hal yang ada ditoko mainan itu pada Azura. Dia juga memeriksa semua mainan yang dikirim ke toko mainannya. Lalu dia melihat beberapa orang yang sedang tes sebagai karyawan ditoko mainan itu. Ada seorang wanita yang tidak diperbolehkan ikut tes sampai sekuriti mengusirnya tapi wanita itu tetap bersikeras.
"Nona pergilah, kamu tidak bisa ikut tes" ucap Pak Juki.
"Tapi Pak, saya sudah ikut mengantri dari tadi pagi, bahkan dari kemarin. Saya mohon Pak, saya butuh pekerjaan ini" ucap Wanita itu.
__ADS_1
"Tapi Nona, tadi Pak Sigit sudah menjelaskan, karyawan yang bekerja disini harus S1 sedangkan Nona hanya lulusan SMA" ucap Pak Juki.
"Saya bisa kerja apa saja Pak" ucap Wanita itu.
"Maaf Nona pergilah" ucap Pak Juki.
Azura menghampiri kedua orang itu. Dia meminta sekuriti menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Pak Juki, antar Nona ini untuk ikut tes, bilang sama Pak Sigit, saya yang menyuruh" ucap Azura.
"Baik Bu" ucap Pak Juki.
Wanita itu langsung mencium tangan Azura.
"Bu terimakasih banyak" ucap Wanita itu.
"Siapa namamu?" tanya Azura.
"Mira Bu" ucap Mira.
"Yasudah, ikutlah Pak Juki, dia akan mengantarmu ke ruangan tes" ucap Azura.
"Baik Bu" ucap Mira.
Mira mengikuti Pak Juki ke ruangan tes. Sedangkan Azura kembali ke ruangan kerjanya. Tak lama Pak Sigit masuk ke ruangan kerja Azura. Dia marah-marah pada Azura karena merasa Azura ikut campur dengan pekerjaannya sebagai Manager HRD ditoko mainan itu.
"Saya sudah bertahun-tahun jadi HRD disini, dan semua karyawan disini harus berkualitas" ucap Pak Sigit.
"Menjaga kualitas memang harus, tetapi tidak memberi kesempatan untuk orang mengikuti tes hanya karena sekolahnya itu tidak benar. Pekerjaan disini bukan pekerjaan seorang manager atau karyawan perusahaan yang mengharuskan lulusan tinggi dan pintar. Yang terpenting dia bisa bekerja dengan baik dan jujur itu sudah cukup" ucap Azura.
"Tahu apa kamu mengenai pekerjaan disini, kau sendiri hanya mantan artis yang ditinggal suaminya mati dan kebetulan cantik jadi Bos Rafka suka padamu, paling juga kalau ada yang baru Bos Rafka akan meninggalkanmu" ucap Pak Sigit.
Pak Sigit mulai menghina Azura dengan membuka masa lalunya. Dia pikir dengan begitu Azura akan malu dan menangis. Tapi Azura justru terlihat tenang.
"Kita sedang membahas pekerjaan bukan menggosip Pak Sigit yang terhormat" ucap Azura.
"Aku heran Bos Rafka mau aja dengan wanita second sepertimu, kalau aku lebih baik nyari yang masih gadis banyak diluaran" ucap Pak Sigit.
Pak Sigit semakin menghina Azura, menganggapnya wanita murahan yang dipungut Rafka.
"Ternyata seperti ini kualitas yang kau banggakan Pak Sigit, menghina atasanmu itu kualitas sebagai karyawan yang baik" ucap Azura.
"Wanita murahan sepertimu paling hanya jadi mainan Bos Rafka, lihat saja setelah dia bosan, dia akan meninggalkanmu seperti sampah yang terbuang" ucap Pak Sigit.
"Siapa yang berani menghina istriku" ucap Rafka yang masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
Pak Sigit terkejut saat melihat Rafka masuk ke dalam ruangan itu. Dia menelan ludahnya berkali-kali.