DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 3 : Sibuk


__ADS_3

Laura langsung melihat ke arah Kenan yang berdiri tak jauh darinya.


"Bunda ... Bunda ...." Bagas memanggil Laura.


Pandangan mata Laura kembali menatap Bagas.


"Bunda, bolehkah ayah makan bersama kita?" tanya Bagas.


"Boleh," jawab Laura.


"Asyik, makasih Bunda," ucap Bagas.


Laura hanya tersenyum pada Bagas. Dia tahu anaknya ingin waktu lebih banyak lagi bersama ayahnya. Tak bisa dipungkiri kehadiran Kenan sangat berarti untuk Bagas.


Bagas menghampiri Kenan.


"Ayah ayo kita makan bersama," ajak Bagas.


"Tapi ayah mau pulang Bagas," sahut Kenan.


"Ayah, selama ini Bagas tak pernah makan bersama ayah," ujar Bagas terlihat sedih.


Tak tega melihat ekspresi Bagas yang sangat ingin makan dengannya, akhirnya Kenan menyetujui permintaan Bagas.


"Makasih ayah," ucap Bagas.


Akhirnya Kenan makan bersama Laura, Lara dan Bagas. Mereka makan bersama, di meja itu. Kenan begitu lahap memakan makanannya. Tak disangka olehnya masakan Laura begitu enak.


"Ayah masakan Bunda enak ya?" tanya Bagas.


Kenan hanya memberi jempol sebagai tanda enak.


"Masakan Bunda memang juara, ayah harus sering makan bersama dengan kita," ujar Bagas.


Kenan terdiam. Begitupun dengan Laura. Mereka saling menatap dengan tatapan dingin. Keduanya tahu Bagas belum tahu kondisi kedua orangtuanya sebenarnya. Dia hanya anak kecil yang berharap menghabiskan banyak waktu bersama kedua orangtuanya.


Malam itu Kenan masih menemani Bagas, berbaring di ranjangnya. Ini pertama kalinya Kenan menemani Bagas tidur. Dia membacakan kisah kepahlawanan pada Bagas, hal yang sering Laura lakukan setiap Bagas mau tidur.


"Tamat," ucap Kenan.

__ADS_1


"Ayah kalau jadi superhero tidak boleh pamrih ya?" tanya Bagas.


"Betul, menolong harus ikhlas, jangan pamrih," jawab Kenan.


"Bagas tidak akan pamrih kalau menolong orang," ujar Bagas.


"Ini baru anak ayah," puji Kenan pada Bagas sambil memeluknya.


"Ayah, besok pagi Bagas ingin di antar ayah berangkat sekolah, teman-teman Bagas di antar ayahnya sekolah, Bagas belum pernah," kata Bagas.


Kenan langsung mencium kening Bagas. Dia tahu selama ini perannya tak pernah ada dihidup Bagas. Sebagai anak Bagas membutuhkan kasih sayangnya juga. Apalagi Bagas masih di masa pertumbuhan dan perkembangan mental. Kehadirannya sangat penting, memiliki peranan yang utama di setiap pertambahan usianya.


"Oke, besok ayah pagi-pagi sekali ke sini, nanti ayah akan mengantar Bagas sekolah," ujar Kenan.


"Hore ..., makasih ayah," ucap Bagas kegirangan sambil memeluk Kenan.


Lama-kelamaan Bagas tertidur. Wajahnya terlihat berseri, menunjukkan perasaannya yang bahagia bisa bertemu dan bersama ayahnya. Sekian lama dia merindukan ayahnya.


Kenan menyelimuti Bagas kemudian ke luar dari kamarnya. Di luar Kenan bertemu Laura. Mereka mengobrol di teras rumah.


"Kenan, maafkan Bagas ya kalau memintamu ini itu," ujar Laura.


"Sebenarnya aku tidak enak denganmu, kau sudah memiliki keluargamu sendiri. Pasti sulit mengatur waktumu untuk bersama Bagas," ucap Laura.


"Tidak apa-apa, waktuku tak sebanyak dirimu yang sudah membesarkan Bagas sendirian, maafkan aku Laura," ujar Kenan.


Laura mengangguk. Dia sudah memaafkan semua kesalahan Kenan padanya di masa lalu. Sekarang yang dibutuhkan Bagas adalah bersama Kenan.


"Kalau begitu, aku pulang dulu," pamit Kenan.


"Iya, terimakasih atas waktunya," sahut Laura.


Kenan mengangguk. Kemudian dia meninggalkan rumah Laura. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah orangtuanya. Sampai di rumah, Kenan melihat Renata tertidur di meja makan. Kenan menghampiri Renata dan mencium keningnya.


Mendapatkan ciuman dari Kenan, Renata terbangun.


"Kau baru pulang?" tanya Renata.


"Iya, maaf sayang," jawab Kenan.

__ADS_1


"Dari mana? semalam ini baru pulang?" tanya Renata.


"Ada urusan bisnis, maaf ya sayang," jawab Kenan.


Renata mengangguk.


"Wah banyak sekali makanan yang kau masak, kebetulan aku lapar, bolehkah aku makan sayang?" tanya Kenan. Dia ingin menyenangkan hati istrinya meskipun tadi sudah makan di rumah Laura tapi Kenan sangat menghargai usaha Renata masak untuknya.


"Boleh dong," jawab Renata.


Kenan langsung duduk, mengambil piring. Dia makan semua masakan Renata dengan lahap sampai semuanya dihabiskan meskipun kekenyangan.


"Alhamdulillah enak sayang," ujar Kenan.


Renata tersenyum. Dia senang sekali melihat suaminya menghabiskan semua makanannya di meja.


"Ayo naik ke atas, kau pasti lelah menungguku," ajak Kenan.


Renata mengangguk. Mereka berdua berjalan bersama naik ke lantai atas, masuk ke kamar mereka.


Pagi harinya usai sholat subuh Kenan sudah berangkat, padahal Renata belum bangun usai sholat subuh tadi. Dia meraba bantal di sampingnya. Kenan sudah tak ada di ranjang.


"Kenan ke mana?" tanya Renata pada dirinya sendiri.


Renata bangun. Mencari Kenan di kamarnya tapi tak ada. Dia ke luar kamar dan bertemu Elina.


"Kak Elina sudah menyapu, biar aku saja. Kakakkan lagi hamil," ucap Renata.


"Gak papa, biar sehat bayinya kalau beraktifitas," sahut Elina.


Renata mengangguk.


"Sarapan sana, tadi Bi Tuti masak nasi kuning, spesial katanya ulang tahun anaknya di kampung," ucap Elina.


"Kenan sudah sarapan Kak?" tanya Renata.


"Belum, tadi dia berangkat pagi-pagi, katanya ada urusan penting," ujar Elina.


"Oh pantas pagi-pagi sekali sudah berangkat," ucap Renata. Dia tak curiga pada Kenan. Walaupun Renata merasa Kenan lebih sibuk akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2