
Elina dan Yama membawa Davina kembali ke kota. Mereka pergi ke Rumah Sakit Fernanando.Sampai dirumah sakit kondisi Davina diperiksa oleh Dokter. Elina dan Yama menunggu diruang tunggu selama pemeriksaan. Setelah Dokter selesai memeriksa, Elina dan Yama bicara dengan Dokter diruangannya.
"Gimana kondisi gadis itu Dokter?"tanya Elina. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan Davina seperti itu.
"Sekujur tubuhnya penuh luka yang disebabkan benda tajam ataupun benda tumpul, ada beberapa bekas sunututan rokok, dan bekas luka bakar kemungkinan terkena setrika panas," ujar Dokter.
"Miris sekali saya mendengarnya Dok," ucap Elina.
Dia terkejut dan prihatin dengan keadaan Davina. Mungkin selama ini dia menderita.
"Tunggu dulu Dok, Elina kau yakin akan mendengarkan penjelasan Dokter lebih lanjut? kau sedang hamil?" tanta Yama memastikan. Yama tidak ingin Elina stress karena masalah ini, apalagi Atnan sedang tak ada disisinya.
"Tidak apa-apa Yama, aku harus tau apa yang terjadi pada gadis itu," ucap Elina.
"Baik, silahkan diteruskan Dokter"ucap Yama.
"Dia juga mengalami kekerasan seksual. Organ vital kewanitaannya mengalami infeksi"ucap Dokter.
"Apa?" Elina terkejut, tak mampu menahan air mata yang meneteskan dipipi.
"Apa bisa divisum Dok?"tanya Yama. Dia berpikir ini sebuah tindak kejahatan yang bisa dilaporkan dengan adanya bukti. Dengan begitu pelaku bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
"Iya bisa" jawab Dokter.
"Dia juga mengalami depresi berat, mungkin diakibatkan trauma yang dialaminya, saya sarankan setelah kondisi fisiknya pulih, sebaiknya dibawa ke psikiater,"ucap Dokter.
"Kasihan gadis itu Yama," ucap Elina terus meneteskan air matanya mendengar penjelasan Dokter. Dia tak menyangka Davina mengalami hal yang menyakitkan seperti itu. Dia tak habis pikir ada orang yang tega melakukan itu padanya.
"Elina kau tidak apa-apa?" tanya Yama.
"Tidak apa-apa," jawab Elina.
"Untuk sementara waktu dia harus dirawat dulu dirumah sakit sampai sehat," ucap Dokter.
"Baik, lakukan yang terbaik Dokter, " ucap Elina.
"Oke dengan senang hati," ucap Dokter.
__ADS_1
Setelah bicara dengan Dokter, Elina dan Yama pergi melihat Davina. Mereka masuk ke ruang rawat inap. Davina sudah dimandikan oleh perawat. Mukanya jadi bersih dan pakaiannya juga sudah diganti pakaian yang bersih. Yama kaget saat melihat Davina.Dia mengenal gadis yang dikiranya gila itu.
"Davina"ucap Yama terkejut melihat Davina. Dia tak menyangka wanita gila itu adalah istri Atnan yang selama ini menghilang.
"Siapa Yama?" tanya Elina penasaran melihat ekspresi Yama yang langsung menyebut Davina.
"Dia Davina Elina, orang yang dicintai Atnan selama ini, istri pertama Atnan," ucap Yama.
"Apa? dia Davina?" ucap Elina terkejut.
Yama langsung mengajak Elina keluar dari ruang rawat inap itu. Dia mengajak Elina bicara dipojok lorong rumah sakit itu.
"Elina dengar aku, rahasiakan ini dari Atnan"ucap Yama.
"Tapi Yama"ucap Elina.
"Atnan baru saja bersikap hangat padamu, jika kau memberi tahu keberadaan Davina, maka bersiaplah kehilangan Atnan"ucap Yama.
"Tapi Yama, Atnan dari dulu bukannya berusaha mencari Davina, dia pasti merindukan Davina dan pasti dia akan senang sekali jika bertemu Davina"ucap Elina.
"Elina jangan bodoh, jika Atnan tahu Davina seperti ini keadaannya, dia akan merasa hancur. Dan bagaimana hubunganmu dengan Atnan nantinya. Pikirkan bayi dalam kandunganmu, sebentar lagi kalian akan menyambut kelahirannya"ucap Yama.
"Pokoknya pilihan ada ditanganmu, kau beri tahu Atnan dan bersiap kehilangannya atau tetap merahasiakan ini demi kebahagiaan kalian dan anak kalian nantinya"ucap Yama.
".........."Elina hanya diam tidak tahu harus memilih yang mana. Kedua pilihan itu sulit untuknya.
Yama mengantarkan Elina pulang ke rumah besarnya. Elina masuk ke rumah besar itu lalu naik ke atas menuju kamar Atnan. Kamar yang dulu dipenuhi foto Davina sudah berubah dengan dipenuhi foto Atnan dan Elina. Elina duduk dan menangis dikamar itu.
"Apa yang harus aku lakukan, satu sisi aku baru saja mendapatkan kehangatan Atnan tapi disisi lain Davina menderita dan membutuhkan Atnan disisinya"ucap Elina.
"Jika aku memberi tahu pada Atnan yang sebenarnya, apakah dia akan meninggalkanku dan anak kami?"ucap Elina terus bertanya. Ada rasa takut kehilangan Atnan.
"Apakah aku harus berkorban untuk kebahagiaan orang yang kucintai, apa aku harus merelakan Atnan menemui Davina, tapi kenapa rasanya begitu sakit? . Apa karena aku sangat mencintai Atnan"ucap Elina.
"Atnan apa kau sudah bisa mencintaiku? Bagaimana jika kau bertemu Davina? Apa kau akan memilih dia dan mencintainya?"ucap Elina terus bertanya.
Elina menangis dikamar itu, kebahagiaan kecil yang baru didapatnya terancam menghilang. Elina tidak tahu harus melakukan apa dan memilih yang mana.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kenan membuka matanya. Melihat kesekeliling. Dia berada disebuah kamar. Kamar itu sempit dan dindingnya terbuat dari bilik bambu. Dia terkejut saat mendapati dirinya sedang dikerumuni anak-anak kecil. Kenan lamgsung duduk.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Kenan.
"Kami membawa Om kesini, tadi pingsankan. Kami bilang Om adalah Om kami, jadi kami bawa ke rumah," jawab salah satu dari anak kecil itu.
"Om kalian? kita saja tak kenal," ucap Kenan.
"Iya, Om yang akan menikah dengan Tante kami," sahut yang lainnya.
"Tidak, aku ini tidak mungkin menikah dengan Tante kalian, gila aja nikah paksa gini," kata Kenan.
"Gak akan nyesel Om, tante kami cantik," ucap yang lainnya.
"Mau cantik atau tidak, aku tidak mau. Sorry ya Om mau pulang," ucap Kenan.
"Gak bisa Om, kami menculik Om. Menurut atau kami paksa kawin sama kucing," ucap salah satu dari anak lainnya.
"Apa? kawin sama kucing? gila, aku masih normal," tegas Kenan.
Kenan merasa anak-anak ini akan membuatnya semakin gila. Dia takut akan dinikahkan dengan tante-tante tua, gigi ompong, gendut, item dan suka ngeces. Gak kebayang kalau sampai itu semua terjadi.
"Om izin ke toilet dulu, bisakan?" tanya Kenan.
"Om boleh ke toilet tapi tetap kami jaga ketat," sahut salah satu dari anak kecil itu.
"Aduh gimana caranya kabur dari mereka? masa gue harus nikah paksa sama makhluk yang tidak tahu jelasnya. Gimana kalau itu sejenis kodok atau alien, gak mungkinkan gue nikahin," batin Kenan.
"Om lagi mau pup, bau jadi biarkan Om ke toilet sendirian ya," ucap Kenan.
"Boleh," ucap mereka.
Kenan segera keluar dari kamar, dia mencari pintu keluar, ternyata sudah dijaga tiga anak kecil bahkan semua jendela juga dijaga.
"Sial, gue gak bisa kabur nih," ucap Kenan.
__ADS_1
"Kalian ngapain?" ucap seorang wanita yang berdiri dibelakang Kenan.