DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 3 : Kecelakaan


__ADS_3

Pagi itu Jingga pergi naik ke butiknya. Di jalan dia melihat sebuah mobil menabrak pembatas jalan. Mobil itu langsung berhenti. Jingga penasaran dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil kecelakaan itu. Beberapa orang menghampiri mobil itu termasuk Jingga. Seseorang ke luar dari dalam mobil, di kepalanya ada luka yang berdarah tepat di pelipisnya. Lelaki itu memegangi pelipisnya. Jingga mengenal orang itu, dia menghampirinya lebih dekat.


"Randi," ucap Jingga.


"Jingga," kata Randi.


"Kepalamu," ujar Jingga.


"Berdarah ya," ucap Randi. Dia melihat darah di tangan yang tadi memegang pelipisnya.


"Ayo ke rumah sakit," ajak Jingga.


"Gak usah, aku baik-baik sa ...," ucap Randi lalu pingsan, untunglah Jingga langsung menangkap tubuhnya.


"Randi," panggil Jingga panik melihat Randi pingsan di depannya. Randi tak menyahut, tetap pingsan. Jingga dibantu beberapa orang membawa Randi ke mobilnya, kemudian mengantarnya ke rumah sakit.


Beberapa jam berlalu. Setelah berbagai pemeriksaan dan pengobatan, Randi dibawa ke ruang rawat inap. Jingga ada di samping Randi menemaninya. Dia terlihat mengkhawatirkan Randi sampai matanya berkaca-kaca. Tak lama Randi siuman. Dia melihat Jingga ada di sampingnya.


"Jingga," ucap Randi.


"Kau sudah sadar," ujar Jingga.


Randi mengangguk. Dia tersenyum pada Jingga.


"Jingga makasih ya," ucap Randi.


"Makasih untuk apa?" tanya Jingga.


"Karena kau sudah menolongku," jawab Randi.


Jingga mengangguk. Dia senang Randi mau berterimakasih padanya. Biasanya mereka berdebat apa saja. Namun kali ini Randi manis sekali.


"Kau ingin minum atau makan, biar ku bantu?" tanya Jingga.


"Aku haus," jawab Randi.


"Baiklah, aku akan mengambilkanmu minum," ujar Jingga.

__ADS_1


"Jingga," panggil Randi.


"Iya apa?" tanya Jingga.


"Kau cantik," jawab Randi.


Jingga langsung malu. Pipinya merona, jantungnya berdebar kencang, panas dingin mendengar pujian dari Randi. Dia tak menyangka lelaki yang dianggapnya menyebalkan ternyata bisa memujinya dengan manis.


"Makasih," sahut Jingga.


Randi mengangguk.


Segera Jingga mengambil minum untuk Randi. Hanya saja dia grogi, karena Randi terus melihat ke arahnya, membuatnya salah tingkah. Hanya mau mengambil air minum tapi lama, saat memegang gelas terus bergetar.


"Kenapa aku grogi gini, gimana kalau gelasnya tumpah," batin Jingga sambil berjalan menghampiri Randi.


"Minumlah!" Jingga memberikan gelas air minum pada Randi.


"Makasih," ucap Randi sambil mengambil gelas di tangan Jingga. Namun matanya terus menatap Jingga.


"Aduh, gimana ini? lama di sini bisa kena serangan jantung, mengigil kedinginan, kepanasan dan ketakutan hebat," batin Jingga. Dia tak berani menatap mata Randi, tangannya juga di masukkan ke dalam kantung bajunya, dia benar-benar grogi.


"Hei kau masih sakit Randi," ucap Jingga.


"Udah enakkan," kata Randi.


"Jangan ngeyel, nanti dimarahi Dokter dan suster," ujar Jingga.


Randi melepas impusnya, dia turun dari ranjang pasien, meraih tangan Jingga, ke luar dari ruangannya.


"Randi kita mau ke mana?" tanya Jingga.


Randi tak menjawab, mereka naik lift turun ke lantai bawah.


"Randi kita bayar dulu," ucap Jingga.


"Nanti biar sekretarisku yang urus," ujar Randi.

__ADS_1


"Sekretarismu?" tanya Jingga.


"Iya, paling dia sudah datang, tuh," ujar Randi sambil menunjukkan ke depan.


Benar saja sekretaris Randi sudah datang. Dia berbicara sebentar dengan Randi lalu pergi. Randi kembali membawa Jingga ke luar rumah sakit.


"Kita mau apa?" tanya Jingga.


"Naik mobil," jawab Randi.


Mereka menuju mobil milik perusahaan yang dibawa sekretaris Randi tadi. Keduanya masuk ke dalam mobil. Randi mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.


"Randi, kita mau kemana?" tanya Jingga.


Randi hanya membalas dengan senyuman. Mobil itu terus melaju hingga sampai ke sebuah Mall. Randi turun dari mobil, menghampiri Jingga, membawanya masuk Mall.


"Apa kau butuh sesuatu? kau ingin membelinya?" tanya Jingga yang masih bingung.


Randi tak menjawab, sekali lagi hanya membalas dengan senyuman. Membuat Jingga makin penasaran.


Jingga terus mengikuti Randi, hingga memasuki toko perhiasan terbesar di Mall tersebut. Randi meminta pelayan toko perhiasan mengeluarkan koleksi cincin terbaiknya.


"Randi kau mau beli cincin untuk pacarmu ya? biar ku pilihkan," ujar Jingga.


"Iya, aku memang ingin membeli cincin untuk pacarku, kau pasti tahu selera perempuan," ucap Randi.


Jingga mulai melihat-lihat cincin di depannya. Dia memilih cincin perak bertahta berlian kecil di tengahnya.


"Ini bagus, kalau perempuan sekarang sukanya yang dari perak, lebih milenial" ucap Jingga.


"Kalau kau suka dia pasti suka, coba kau pakai, lingkar jarinya sama denganmu," ujar Randi.


"Baiklah kalau memang lingkar jarinya sama denganku," sahut Jingga.


Segera Jingga menakai cincin itu. Dia melihat jari manisnya melingkar sebuah cincin. Randi berlutut di depan Jingga menatap wajahnya. Jingga heran melihat Randi seperti itu.


"Jingga maukah kau menikah denganku?" tanya Randi.

__ADS_1


Deg ...


__ADS_2