
"Mungkin saja, dia itukan menganggapku musuhnya. Tapi kalau kopernya ada diaku jadi koperku ada... ? Jingga langsung teringat koper milikknya. Dia yakin kopernya ada ditangan Randi. Jingga langsung mengemasi barang milik Randi lalu keluar dari kamarnya.
Dikamar lain, Randi sedang membuka koper milik Jingga. Dia tak sengaja melihat CD dan BH yang aneh-aneh. Belum lagi baju tidur ala-ala. Ada terong dan timun segala. Alat cukur khusus bagian organ kewanitaan. Krim pembesar dada. Pengharum bagian kewanitaan. Susu pengencang area bokong. Bubur bayi siap saji. Buku panduan malam pertama. Tongkat kera sakti yang bisa memanjang dan memendek. Foto artis-artis tampan yang sudah penuh ciuman bibir, baju, alat mandi bayi, dan boneka bayi.
"Ha... ha... ha... ternyata isi koper cewek galak itu memalukan sekali. Kurasa masa kecilnya belum bahagia," ucap Randi.
"Tapi dia ngeres juga bawa terong dan timun. Jangan...jangan...?" Randi berpikir jorok.
"Dasar cewek mesum, ketahuan banget kesepian, butuh belaian," ucap Randi.
"BH-nya ukuran XL gede juga, apa ini karena pakai krim pembesar dada?" Randi kembali membayangkan hal jorok.
"Eh kok jadi ngeces gini, ogah bayangin cewek bawel itu, ngapain? nguras otak," ucap Randi.
Tuk... tuk... tuk...
Pintu kamar diketuk Jingga. Randi bergegas berjalan ke pintu dan membukanya.
"Nih kopermu, balikin ya koperku," ucap Jingga mendorong koper Randi begitu saja.
"Pelan-pelan dong, isi didalamnya bisa rusak," ucap Randi.
"Isinya cuma buku dan pengharum kentut, pengharum bau mulut, pencambut ketek, ha... ha... ha... " Jingga tertawa lepas.
"Dari pada punyamu, isinya krim pembesar dada, susu pengencang bokong, bubur bayi instan, boneka bayi, ah.. yang memalukan lagi ada terong dan timun," ucap Randi.
"Hei kau membuka koperku tanpa izin," ucap Jingga.
"Kau juga membuka koperku tanpa izin," ucap Randi.
"Aku gak tahu kalau itu kopermu," ucap Jingga.
"Aku juga gak tahu kalau itu kopermu," ucap Randi.
"Pokoknya aku gak terima, kau pasti akan menggosip yang aneh tentangku," ucap Jingga.
"Paling juga kau yang bawel tukang gosip," ucap Randi.
Mereka berdua kembali berdebat sengit. Tak mau mengalah satu sama lain. Berisik bikin kontestan lainnya keluar dari kamar mereka.
"Ampun mereka lagi, ini udah episode kedua apa?"
"Aku rasa mereka jodoh nih."
"Capek misahin, tadi aja bajuku sobek karena perdebatan mereka."
"Alhamdulillah, gigiku yang sakit jadi copot gara-gara kena tonjok yang cewek."
"Udah biarin aja, biar panitia yang ngurus."
"Betul."
Semua kontestan kembali masuk kamar. Mereka malas melerai keduanya. Sedangkan Randi masih berdebat dengan Jingga.
"Kurang belaian," ucap Randi.
"Butuh sentuhan," ucap Jingga.
__ADS_1
"Paling tuh terong dan timun bu..." Jingga langsung menutup mulut Randi.
"Diem ya, aku gak sejorok yang kau pikirkan, itu buat masak disini. Aku paling suka dua jenis sayur itu. Dari pada gak ada, ya aku bawa," ucap Jingga.
"Em...em...em..." Randi coba berbicara tapi mulutnya masih ditutup Jingga.
Randi berusaha melepas tangan Jingga, justru malah Jingga hampir jatuh, Randi menangkap tubuh Jingga. Tiba-tiba panitia datang menghampiri mereka berdua.
"Kalian bermesraan disini? melanggar aturan," ucap Panitia.
"Bermesraan?" Randi dan Jingga belum paham.
Mereka saling melihat dan baru sadar mereka berpelukan. Secepatnya melepas pelukan itu.
"Maaf kak gak sengaja, ini tidak seperti yang kakak pikirkan," ucap Jingga.
"Kami ini musuh gak mungkin bermesraan," ucap Randi.
"Kalian dihukum membersihkan rumah ini, karena kalian bikin gaduh," ucap Panitia.
"Apa?" Jingga dan Randi terkejut.
"Beberapa kontestan mengadu, kalian selalu bertengkar. Jadi saatnya membina hubungan baik dengan membersihkan rumah ini," ucap Panitia.
"Ogah deket-deket sama dia," ucap Jingga.
"Siapa juga yang mau deket sama kamu, bawel," ucap Randi.
"Sudah-sudah, kerjakan atau kalian didiskualifikasi," ucap Panitia.
Randi menyapu ruang tamu sedangkan Jingga mengepel. Tapi mereka melakukannya bersamaan.
"Hei dimana-mana menyapu dulu, baru mengepel," ucap Randi.
"Mengepel dulu, baru sisanya disapu, mana tahu debunya masih ada setelah dipel," ucap Jingga.
"Bilang saja kau ingin nempel terus denganku," ucap Randi.
"Amit-amit, siapa juga yang mau nempel," ucap Jingga.
"Terus ngapain dideketku terus?" tanya Randi.
"Aku ngepel disini memang gak boleh?" tanya Jingga.
"Disebelah sanakan bisa, ngapain dempetan gini?" tanya Randi.
"Ih ogah dempetan, lebih baik aku kesana," ucap Jingga.
"Yaudah sana!" ucap Randi.
Randi dan Jingga kembali melakukan tugas mereka ditempat yang berjauhan. Lalu mereka ke dapur. Randi mencuci piring dan Jingga memasak.
"Paling masakannya gak enak tuh, bikin sakit perut," ucap Randi menyindir.
"Diam ya, gak usah banyak omong," ucap Jingga.
"Terong ma timun gak dimasak? atau sengaja buat yang lainnya?" ucap Randi.
__ADS_1
Jingga diam saja sambil cemberut. Dia kesal dengan ucapan Randi yang terus menyindirnya. Tak sengaja tangannya teriris saat mengiris wortel.
"Aw..." Jingga kesakitan.
Melihat jari Jingga berdarah, Randi menghampirinya.
"Kau tak apa?" tanya Randi.
"Perih, sakit," ucap Jingga.
"Diam disini, aku ambil kotak P3K," ucap Randi.
Jingga mengangguk. Segera Randi mengambil kotak P3K. Dia mengobati jari Jingga dan memasang perban dijarinya.
"Nah sudah beres, kau duduk disana. Biar aku yang masak," ucap Randi.
"Tapi itu tugasku," ucap Jingga.
"Jarimu sakitkan?" tanya Randi.
Jingga mengangguk, dia duduk disamping kulkas memperhatikan Randi memasak. Dia merasa Randi tak sepenuhnya menyebalkan, ada sisi baiknya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Apa benar Davina sudah ditemukan? kau tidak bohong Elina?" tanya Atnan.
"Tidak Mas, aku sudah menemukan Davina," ucap Elina.
"Davina," ucap Atnan.
"Aku akan mengantarmu bertemu Davina," ucap Elina.
Elina sudah pasrah jika nanti Atnan menemui Davina dan kembali bersamanya. Dia tidak ingin kebohongan ini terus disembunyikan. Apapun yang akan terjadi dia sudah ikhlas.
"Ayo kita istirahat sayang, kau pasti lelah," ucap Atnan.
"Kau tidak ingin bertemu Davina?" tanya Elina.
Atnan mencium kening Elina dan mengelus perut Elina.
"Elina, Davina sudah memilih pergi dari hidupku. Jadi untuk apa aku harus kembali ke masa lalu. Sekarang ada kau dan anak kita, hanya itu yang ku inginkan," ucap Atnan.
"Mas," ucap Elina.
Atnan membopong Elina. Membaringkannya diranjang. Mereka merajut cinta. Dihati Atnan sudah dipenuhi Elina. Hanya Elina yang dia inginkan. Davina sudah menjadi kenangan dimasa lalu. Baginya kini bersama Elina dan buah cintanya akan menjadi tujuan hidupnya. Setelah lelah, Atnan berbaring sambil memeluk Elina.
"Aku mencintaimu Elina," ucap Atnan.
"Aku juga mencintaimu Mas," ucap Elina.
"Perutmu semakin membesar, gak sabar liat dede bayi," ucap Atnan.
"Aku juga ingin segera melihatnya, pasti lucu," ucap Elina.
"Oya Mas, ada yang harus kau tahu, Davina mengalami depresi berat Mas," ucap Elina.
"Apa? depresi berat?" Atnan terkejut.
__ADS_1