
"Tapi aku lebih tua darimu Randi," jawab Jingga.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, bagiku kau tetap istimewa dan membuatku jatuh cinta," ujar Randi.
Jingga berpikir sejenak. Membuat Randi tak sabar menunggu jawaban dari Jingga. Dia takut Jingga menolaknya.
"Iya aku mau," ucap Jingga.
Randi tersenyum bahagia. Dia senang Jingga menerima lamaran dadakannya.
"Randi berdirilah! malu," ujar Jingga
"Oke cantik," sahut Randi. Dia berdiri di depan Jingga.
"Kalau begitu besok aku akan melamarmu membawa keluargaku," ujar Randi.
Jingga mengangguk.
Akhirnya mereka sepakat untuk menikah. Randi dan Jingga berjalan bersama dengan penuh kebahagiaan di wajah mereka.
***
Pagi itu Atnan berangkat ke kantor. Tak lupa bercengkrama dengan anak dan istrinya usai sarapan pagi. Setiap hari Atnan selalu menyempatkan untuk menemani Elina dan Agra main bersama.
"Agra lihat Papa," ujar Atnan.
Agra tersenyum, mengoceh melihat Atnan.
"Mas gak kesiangan?" tanya Elina.
"Kantor sendiri, bisa kapan saja datang, keluarga jauh lebih penting," jawab Atnan.
"Makasih ya Mas atas perhatian dan waktunya, tapi kau harus memberi contoh yang baik," ujar Elina.
Cup
Atnan mencium kening istrinya.
"Makasih sayang, sudah diingatkan, makin cinta deh," ucap Atnan.
"Aku juga makin cinta padamu Mas," timpal Elina. Dia langsung memeluk Atnan. Kini hidupnya penuh kebahagiaan. Memiliki suami yang mencintainya.
"Ya udah sayang, aku berangkat dulu ya," ujar Atnan.
Elina mengangguk.
Segera Atnan merapikan bajunya dibantu Elina. Membawa tasnya ke luar kamar Agra. Dia berangkat ke kantor mengendarai mobilnya.
Di tengah jalan, Atnan melihat bapak-bapak kesulitan mendorong gerobaknya yang terperangkap satu rodanya di jalan yang berlubang. Atnan kasihan melihat bapak-bapak itu.
"Kasihan bapak itu, roda gerobaknya tak bisa bergerak, aku harus membantunya," batin Atnan.
"Pak Jojon tolong parkirkan mobilnya ke tepi, di parkiran umum atau mini market," pinta Atnan.
__ADS_1
"Baik Tuan," sahut Pak Jojon.
Mobil menepi ke dalam parkiran umum. Atnan turun dari dalam mobil. Berjalan ke arah jalan raya. Menghampiri bapak itu.
"Pak biar saya bantu," ucap Atnan.
Bapak itu menoleh ke arah Atnan yang berpenampilan setelan jas rapi. Terlihat berkelas dan keren.
"Nanti bajumu kotor Nak, gerobak saya membawa sampah Nak," ujar bapak itu.
"Tidak apa-apa Pak, saya niat untuk membantu bapak," ucap Atnan.
"Baiklah, terimakasih sebelumnya Nak," kata bapak itu.
Atnan mengangguk, kemudian melepas jasnya meletakkan di atas gerobak. Melipat lengan kemejanya hingga ke siku lalu membantu bapak itu mendorong gerobaknya supaya rodanya bisa naik.
"Satu ... dua ... tiga ...," ucap Atnan dan bapak itu.
Mereka coba beberapa kali namun belum bisa juga. Sejenak mereka beristirahat untuk mengumpulkan tenaga.
"Nak berat ya, maaf jadi membuatmu kerepotan membantu bapak," ujar bapak itu.
"Justru saya senang membantu bapak," sahut Atnan.
Bapak itu melihat baju Atnan yang kotor terkena kotoran yang menempel di gerobak dan genangan air di jalan yang berlobang.
"Bajumu jadi kotor Nak," ucap bapak itu.
Bapak itu tersenyum. Dia salut pada Atnan yang mau membantunya mendorong gerobak padahal kalau dilihat dari penampilannya Atnan pasti bukan orang biasa.
"Ayo Pak, kita coba lagi," ucap Atnan.
"Iya Nak," sahut bapak itu.
Keduanya mendorong kembali gerobak hingga rodanya bisa naik kembali ke jalan.
"Alhamdulillah," ucap Atnan dan bapak itu.
Mereka berdua lelah dan kotor semua. Bapak itu juga terlihat kehausan.
"Pak mari sarapan di sana," ajak Atnan.
"Saya dak punya uang Nak," jawab bapak itu.
"Saya bayarkan Pak, mari kita sarapan bersama," ujar Atnan.
"Anak muda sudah membantu saya, sekarang mau mengajak saya sarapan, jadi merepotkan lagi," ujar bapak itu.
"Saya senang bisa nembantu dan sarapan bersama, menjalin silaturahmi Pak," ujar Atnan.
Bapak itu mengangguk.
Mereka berdua sarapan bersama di tepi jalan. Makan soto di kedai soto. Bapak itu begitu lahap makan, bahkan makan sampai tiga porsi.
__ADS_1
"Maaf ya Nak, saya makan terlalu banyak," ujar bapak itu.
"Tidak apa-apa Pak," ucap Atnan.
Atnan dan bapak itu mulai mengobrol.
"Berapa lama bapak jadi tukang sampah?" tanya Atnan.
"30 tahun Nak," jawab bapak itu.
"Lama juga," ujar Atnan.
"Dari bapak masih umur 20 tahun sampai sekarang," ucap bapak itu.
"Kenapa bapak tidak mencari pekerjaan lainnya yang lebih baik," ujar Atnan.
"Kalau semua orang berpikir seperti itu, siapa yang akan mengambil sampah dan membersihkan kota, mungkin bumi ini akan kotor dan berserakan," jawab bapak itu.
Atnan langsung tercengang dengan jawaban bapak itu. Benar juga, jika tidak ada yang mau jadi tukang sampah, kota-kota akan kotor, berserakan dan penuh penyakit.
"Saya bangga dengan bapak," puji Atnan.
"Bapak juga bangga, Bos sepertimu mau membantu bapak mendorong gerobak yang kotor sampai bajumu kotor semua," puji bapak itu.
"Sama-sama Pak," ucap Atnan.
Usai makan kemudian mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Bapak itu kembali mendorong gerobaknya, Atnan kembali ke mobil berangkat ke kantor.
Sampai di kantor, Atnan tak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita berpenampilan rapi.
"Eh, kalau jalan lihat-lihat, udah kotor, bau," ejek wanita itu.
"Maaf Nona, saya buru-buru," ujar Atnan.
"Seharusnya kau tahu diri, masa ke kantor pakai baju kotor, memalukan perusahaanmu, Bosmu pasti memecatmu," ujar wanita itu.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Atnan.
"Baju mahalku jadi kotor, gajimu gak cukup ya buat ganti," ujar wanita itu.
Atnan diam membiarkan wanita itu mengoceh.
"Kok bisa orang kaya kamu kerja di perusahaan ini, malu-maluin," ujar wanita itu.
"Aku kalau jadi Bosmu, gak sudi punya bawahan kaya kamu, gak disiplin," ucap wanita itu lagi.
Wanita itu terus marah-marah, mengejek Atnan.
"Nona saya permisi dulu," ujar Atnan. Dia meninggalkan wanita itu.
Atnan masuk ke ruangannya, mandi dan berganti pakaian yang baru. Dia duduk di kursi, tak kama sekretaris Yuma masuk ke dalam membawa wanita itu. Melihat Atnan duduk di kursi CEO dengan penampilan barunya, wanita itu terkejut dan malu.
"Dia ...?" batin Wanita itu.
__ADS_1