
Hari ini Elina sibuk menanam bunga ditanam. Dia mengisi kesibukannya dengan mengurus tanam bunga. Semenjak menikah, Atnan melarangnya bekerja sesuai permintaan Pak Rafka. Atnan sudah berangkat ke kantornya. Urusan rumah sudah ada pelayan yang mengurus, lagi pula Atnan juga tidak mau makanan dan barangnya disentuh oleh Elina. Jadi Elina mengisi kesibukannya dengan mengurus tanam bunga dihalaman rumahnya.
Menjelang sore Elina menunggu kepulangan Atnan. Sore itu Atnan pulang cepat tapi seperti biasa dia selalu mengacuhkan Elina dan tidak mau tasnya disentuh oleh Elina. Elina sudah paham betul. Jadi Elina hanya memberikan senyuman pada Atnan walaupun dia tidak membalasnya.
Atnan memasuki kamarnya, dia begitu lelah seharian bekerja. Atnan melihat foto dimeja dekat ranjangnya. Foto dia dan Davina saat bersama.Atnan sangat merindukan Davina. Sudah lama dia mencari Davina tapi belum ketemu.
Elina mengetuk pintu kamar Atnan, mengajaknya makan malam tapi Atnan tetap mencuekkannya. Dia seolah mulai paham Atnan akan turun sendiri jika dia lapar. Tugas Elina hanya memberi tahunya saja jika pelayan sudah menyiapkan makanannya.
Lama-lama Elina tahu Atnan tidak mau diganggu dan diusik jadi Elina memilih diam dan coba memahaminya. Atnan turun kebawah untuk makan malam. Dia makan sendiri dimeja makan itu.Elina tidak berani menemaninya karena jika ditemani maka Atnan akan hilang selera dan menghentikan makannya.
Pernikahan mereka sudah berjalan selama 1 bulan, sudah banyak yang Elina pahami tentang Atnan. Elina berusaha tidak mencari masalah dengan Atnan. Dia tahu Atnan lebih suka Elina diam dan tidak mengganggunya. Mereka seolah berada ditempat dan dunia yang berbeda padahal satu rumah.
Elina tidak bisa tidur malam itu. Dia merasa mungkin karena dia tidak capek jadi susah tidur. Hampir tidak ada kesibukan dirumah itu.Elina berpikir untuk jalan-jalan keluar. Ditaman banyak lampu hias yang indah, Elina berpikir untuk pergi ke taman.Saat Elina ke taman, dia melihat Atnan ada disitu sedang berdiri sendirian. Atnan memandangi bunga mawar putih itu. Dia terlihat menangis melihat bunga mawar putih itu. Elina bersembunyi disemak-semak ditaman itu. Dia tidak mau mengganggu Atnan, apalagi dalam kondisi seperti itu.
"Davina dulu kau sangat suka bunga mawar putih seperti ini, aku masih ingat kau selalu senang saat aku membawakan bunga mawar putih"ucap Atnan bicara sendiri.
"Kau sekarang dimana Davina? aku sangat merindukanmu, aku hampir gila mencarimu tiada henti"ucap Atnan.
"Seandainya kau tahu itu. Kenapa kau meninggalkanku? apa salahku?"ucap Atnan.
"Beri aku kesempatan agar bisa memperbaiki semuanya, aku akan melakukan apapun asal kau mau kembali"ucap Atnan.
Atnan terus bicara sendiri sambil menangis. Ini pertama kali Elina melihat Atnan menangis. Pria sedingin es itu biasa terlihat tanpa ekspresi dan tertutup. Tapi malam ini Elina melihat sisi lain dari Atnan yang rapuh. Elina tidak menyangka Atnan mampu menangis demi seorang perempuan yang dicintainya. Melihat air mata Atnan dan kata-kata yang diucapkan Atnan, Elina tau betapa besarnya cinta Atnan untuk gadis bernama Davina.
Elina kembali ke kamarnya. Dia coba memejamkan matanya, lama-lama lelap. Suara adzan subuh berkumandang, Elina membuka matanya. Dia terkejut saat mendapati dirinya ada dipelukan Atnan. Suaminya itu memeluknya dan memegang tangan kirinya.
"Apa semalam dia menyusulku tidur? bagaimana ini? dia marah tidak jika aku bangunkan? batin Elina.
Elina berusaha melepas tangan kirinya. Dia juga melepas pelukan Atnan.
"Untung tak sampai membangunkannya" batin Elina.
Elina beranjak dari ranjang. Dia mandi, kemudian keluar toilet Elina hanya mengenakan handuk. Dia membangunkan Atnan.
"Mas bangun...bangun, sholat subuh" ucap Elina memanggil Atnan sembari menepuk lengannya.
Atnan terkejut sampai menarik tubuh Elina jatuh diatas tubuhnya. Handuk Elina terlepas. Tak sengaja Atnan memeluk Elina. Matanya tertuju pada tubuh Elina.
__ADS_1
"Atnan" Elina memanggil.
Atnan masih melihat Elina. Ini pertama kalinya Atnan melihat Elina seperti itu. Tangannya masih betah memeluk Elina. Jantungnya terus berdebar. Tidak ada jarak yang memisah lagi. Atnan membalikkan Elina. Dia mendekati wajah Elina dan menciumnya. Ciuman yang manis membuatnya sedikit mabuk. Atnan mekakukan tahap demi tahap. Elina pasrah membiarkan Atnan seperti itu. Tapi seketika Atnan berhenti saat baru saja mau memulai.
"Maaf Elina, aku tidak seharusnya begitu" ucap Atnan.
Atnan beranjak dari ranjang, dia tidak jadi menyentuh istrinya.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku ini istrimu Mas" ucap Elina.
Atnan berjalan masuk ke dalam toilet. Dia masih membayangkan apa yang tadi dilihatnya. Dan beberapa adegan manis yang dilakukannya pada Elina. Dia sedikit tersenyum.
Atnan hendak berangkat kerja, dia menyempatkan sarapan pagi bersama keluarganya. Pagi itu dia makan bersama diruang makan. Dia memperhatikan Elina yang terlihat cantik mengenakan dress merah. Azura menyadari hal itu tersenyum. Dia senang ada sedikit perkembangan setidaknya.
"Elina nanti sore temani Mama berbelanja ya" ucap Azura.
"Iya Ma" ucap Elina.
Atnan sibuk dengan makanan dipiringnya. Dia sedikit mendengar percakapan Azura dan Elina.
Sore harinya Atnan mengendarai mobilnya. Dia teringat obrolan ibunya dan Elina tadi pagi. Entah kenapa mobilnya melaju ke pusat perbelanjaan yang biasa ibunya kunjungi. Atnan turun dari mobilnya. Dia berjalan memasuki pusat perbelanjaan itu. Tak sengaja dia melihat Elina yang sedang bicara dengan Randi direstoran. Atnan terlihat kesal. Dia meninggalkan tempat itu.
"Untuk apa aku kesini? lelaki itu siapa?" batin Atnan.
Sepanjang jalan Atnan menerka-nerka. Dia tidak mengenal lelaki yang duduk bersama Elina. Disisi lain Elina sedang berdebat dengan Randi.
"Randi pergilah, nanti ibu mertuaku melihatmu. Aku tidak mau salahfaham" ucap Elina.
"Sebentar saja Elina" ucap Rendi.
"Aku tidak bisa, ku mohon pergilah" ucap Elina.
"Elina jika kau tak bahagia dengan Atnan, bercerailah. Aku tetap ada menunggumu" ucap Rendi.
"Rendi pergilah, lupakan semuanya" ucap Elina.
Elina berusaha mengusir Rendi secara halus. Dia tidak ingin nanti mertuanya melihatnya bersama Rendi.
__ADS_1
"Elina" ucap Azura yang baru saja kembali dari toilet.
"Kenalkan Tante, namaku Rendi Gio Darmawan" ucap Rendi.
"Tunggu, kau putranya Gista ya?" tanya Azura.
"Betul Tante" ucap Rendi.
"Sudah besar, lama sekali Tante belum bertemu dengan Mamamu, titip salam ya" ucap Azura.
"Iya Tante, nanti disampaikan" ucap Rendi.
Elina terdiam. Dia tidak tahu harus cerita apa. Rendi malah memperkenalkan diri pada Azura.
"Kalian saling mengenal?" tanya Azura.
"Iya" ucap Elina dan Rendi bersamaan.
"Kita teman sebelumnya Tante" ucap Elina segera memberi alasan agar Azura tidak curiga.
Rendi sedikit kecewa dengan pengakuan Elina. Tadinya dia berharap keluarga Atnan harus tahu seperti apa hubungannya dengan Elina sebelumnya.
"Aku pamit dulu Tante, assalamu'alaikum" ucap Rendi.
"Wa'alaikumsallam" ucap Azura dan Elina.
Rendi meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa didadanya. Dia sedih Elina tak mau kembali padanya. Rasanya jarak semakin jauh untuk bersama dengan Elina kembali.
Sepulang dari pusat perbelanjaan Elina kembali ke rumah. Dia berjalan menuju kamarnya. Ada buket bunga ditempat sampah dekat dinding kamarnya.
Elina mengambil buket bunga itu.
"Ini buket bunga baru, milik siapa? kenapa dibuang. Sayang masih bagus" ucap Elina.
"Elina" ucap Atnan menghampirinya.
__ADS_1