
Renata ingin tahu siapa Laura dan hubungannya dengan Kenan. Pagi itu Renata sengaja pura-pura masih tidur di ranjangnya. Dia membiarkan Kenan berangkat kerja. Setelah Kenan ke luar dari kamar, Renata mulai mengikutinya. Dia mengikuti Kenan sampai di belakang mobilnya. Renata menyuruh supirnya terus mengikuti mobil Kenan yang berada di depannya.
"Terus Pak, ikuti terus ya," pinta Renata.
"Baik Nyonya."
Mobil Kenan melaju di depan mobil Renata yang terus membuntutinya ke segala arah. Renata merasa ada yang aneh melihat jalur yang dituju Kenan.
"Ini kok gak ke arah kantor?" batin Renata. Dia mulai cemas. Suaminya tidak berangkat ke kantor tapi entah kemana.
Sampai di jalan sebuah gang. Mobil Kenan berhenti. Renata meminta sopirnya berhenti tak jauh dari mobil Kenan. Dia turun dari mobil, berjalann mendekat, berdiri di dekat pohon yang berada di tepi jalan tak jauh dari rumah Laura.
Renata melihat Kenan ke luar dari dalam mobil. Terlihat Laura dan seorang anak kecil berdiri di depan teras. Anak itu berlari ke arah Kenan, memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Ayah? anak itu memanggil Kenan ayah?" batin Renata bertanya-tanya.
"Itu Laura, lalu anak kecil itu? apa dia anak Kenan dan ...?" Renata tidak berani menduga. Dia takut kenyataannya akan menyakitkan.
Tak lama Laura dan Bagas masuk ke mobil Kenan. Begitupun dengan Renata yang masuk ke mobilnya. Dia mengikuti mobil Kenan yang menuju ke rumah. Kenan mengantar Laura berangkat kerja. Dia menurunkan Laura di halte bus tak jauh dari rumahnya.
"Jadi selama ini kau mengantar Laura? kau sengaja menurunkannya di sini biar tak ketahuan olehku?" ucap Renata yang berada di dalam mobil.
Kenan kembali mengendarai mobilnya menuju sekolah Bagas. Renata masih mengikuti mobil Kenan. Dia menunggu di depan pagar sekolah. Sampai sebuah bus study tour berangkat. Renata terus mengikuti mobil study tour itu sampai di sebuah tempat wisata aquarium raksasa. Renata terus mengikuti Kenan dan Bagas. Mereka berdua terlihat akrab dan kompak.
"Anak itu selalu memanggil Kenan ayah, mereka juga akrab sekali, semua anak bersama orangtuanya, apa benar antara Kenan dan anak itu ayah dan anak?" batin Renata.
Setelah jam istirahat, Kenan dan Bagas masuk ke sebuah kafe. Renata mengikuti mereka. Dia sengaja mengenakan kaca mata hitam dan masker agar Kenan tak mengenalinya. Dia dudum tak jauh dari Kenan, bahkan berada di meja sampingnya.
__ADS_1
"Ayah Bagas mau makan ayam krispi saus manis," pinta Bagas.
"Pakai sayur ya?" tanya Kenan.
"Bagas kurang suka sayur ayah," ucap Bagas.
"Nanti Bunda marah kalau Bagas gak makan sayur," ujar Kenan.
"Oke, Bagas mau sayur," jawab Bagas.
Renata mendengar semua percakapan itu. Dia tak menyangka Kenan memiliki anak dan Laura merupakan ibu dari anak itu. Renata berpikir Kenan dan Laura memiliki hubungan khusus hingga memiliki Bagas.
Tak butuh waktu lama, Renata memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sudah cukup mendapat jawaban dari rasa penasarannya.
Mobil Renata sampai di rumah. Dia turun dari mobil, masuk ke dalam rumah. Renata berjalan naik ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kau tak cerita padaku Kenan? siapa Laura dan anak itu? kenapa kau bohong dan bermain api di belakangku?"
Renata terus menangis hingga siang hari. Barulah dia ke luar dari kamarnya. Renata duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi dan makan. Saat Laura melewati ruang keluarga, Renata memintanya menemaninya nonton. Laura duduk lesehan di samping Renata. Melihat ke depan televisi.
"Kenapa ya pelakor jaman sekarang pinter-pinter?" tanya Renata.
"Ee ...." Laura bingung mau jawab apa.
"Mereka gak punya malu, sok suci, seolah-olah perbuatannya atas nama cinta dan uang," ujar Renata.
"Iya," jawab Laura.
__ADS_1
"Apa gak ada yang lain ya, kenapa harus suami orang?" tanya Renata.
Laura terdiam.
"Dasar pelakor, berani sembunyi-sembunyi seperti tikus yang mencuri padi," ujar Renata.
"Nyonya mau saya ambilkan minum?" tanya Laura.
"Pelakor memang pandai berakting manis, pantas saja para suami tergoda," ujar Renata.
Renata emosi. Dia tak bisa mengontrol ucapannya. Dia kesal, kecewa dan marah. Ingin sekali meluapkannya semua pada Laura.
"Apa mereka modal tempe buat menggoda? tak punya malu memberikannya pada suami orang, menyakiti istrinya demi kebahagiaan diri sendiri," ujar Renata.
"Nyonya Renata kenapa? apa ada yang salah?" batin Laura bertanya-tanya dengan sikap Renata yang aneh.
"Kalau kau di posisi si pelakor dan aku istri, apa yang akan kau lakukan Laura?" tanya Renata.
Laura terkejut. Matanya langsung menatap mata Renata. Dia tak menyangka Renata akan bertanya seperti itu. Laura bingung ingin menjawab apa.
"Jawab aku Laura!" pinta Renata.
"Aku ...," jawab Laura ragu.
"Kenapa? seandainya kau pelakor? apa yang akan kau lakukan?" tanya Renata.
NB
__ADS_1
Maaf ya kemarin tidak jadi up dikarenan author harus mengantar ibu ke terminal.