DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Musim 3 : Menjenguk Davina


__ADS_3

"Bukan tai ayam tapi tai sapi," ucap Renata.


"Ha..ha...ha...wangi juga," ucap Kenan padahal dia kebauan.


"Masih mau?" tanya Renata.


"Masih sayang," ucap Kenan.


"Tapi mandi dulu," ucap Renata.


"Beres," ucap Kenan.


Kenan mandi ditoilet setelah itu Renata bergantian mandi. Seusai mandi Renata berdandan didepan cermin. Rambutnya panjang terurai, warna kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, wajahnya sedikit bule. Renata masih keturunan blasteran. Dulu ibunya bekerja diluar negeri dan menikah disana, kemudian bercerai dan pulang kembali ke dalam negeri saat sedang mengandung, saat melahirkan Renata, ibunya meninggal. Sejak saat itu Renata tumbuh dipanti asuhan. Kenan tak berkedip melihat Renata yang begitu cantik apalagi mengenakan dress merah.


Dia tak sabaran menghampiri Renata.


"Kau cantik sekali, kelebihanmu selain mencuri dan pelit," ucap Kenan.


"Jangan menggombal, aku tahu pacarmu banyak atau simpananmu disana sini," ucap Renata.


Kenan memeluk Renata dari belakang.


"Percaya tidak kalau aku tidak punya pacar atau simpanan?" tanya Kenan.


"Gak percaya, kau itukan orang kaya, bisa berbuat semaumu," ucap Renata.


"Aku memang pernah mencintai seseorang, tapi dia menikah dengan orang lain. Tapi kalau soal simpanan, jujur aku tidak punya simpanan," ucap Kenan.


Renata melepas tangan Kenan dan berdiri didepannya.


"Kalau sampai kau selingkuh aku akan memotong semua bagian tanpa ada sisa," ucap Renata.


"Menakutkan," ucap Kenan.


Renata memeluk Kenan, segera Kenan membalas pelukan itu.


"Aku mau jadi milikmu, asal kau tidak akan pernah mengecewakanku," ucap Renata.


"Aku janji," ucap Kenan.


Kenan membopong Renata ke ranjang. Mereka mulai merajut cinta. Keduanya dimabuk kemesraan yang baru saja dirasakan. Renata yang sudah bertahun-tahun kesepian kini merasa hidupnya hangat kembali, memiliki seseorang yang ada disisinya. Begitu juga Kenan yang dadakan menikmati indahnya madu pernikahan yang begitu manis. Perlahan tapi pasti Kenan menjadi pemilik kehormatan Renata.


"Kenan sakit," ucap Renata.


"Sabar sayang ini namanya lomba baru dimulai, gas baru dinyalakan," ucap Kenan.


"Kau ini," ucap Renata memegang kedua pipi Kenan.


"Cantik," ucap Kenan.


"Dasar gombal," ucap Renata.


Kenan tersenyum. Mereka merajut cinta hingga berjam-jam lamanya. Untung para ponakan lagi asyik jajan pakai duit ditas milik Kenan jadi gak ganggu suasana keromantisan diantara keduanya. Hanya saja didepan rumah mereka ramai, penuh anak-anak tetangga yang ngantri dibagi uang seratus ribuan oleh ponakan Renata.


"Tenang teman-temanku setanah air, pasti kebagian semua, duit masih banyak, silahkan berbaris dan menunggu gilirannya."


"Aku maunya warna merah, jangan ungu."


"Iya, kalau warna ungu cuma buat beli es krim."


"Memang kalau warna merah buat beli apa?"

__ADS_1


"Buat beli bensin, kasihan bapakku dompetnya ibu yang megang."


"Pemikiran yang bagus."


"Kalau aku mau buat beli pil KB untuk Mamaku biar gak punya adik terus, pusing rumahku jadi sempit."


"Kalau kamu diem bae, mau buat apa?"


"Mau buat sedekah, biar dosaku kemarin nyolong ayam orang diampuni Allah."


"Astagfirullah, ternyata dibalik niat baikmu, sudah DP dosa duluan toh."


"Aku gak ditanya buat apa?"


"Kamu buat apa memangnya?"


"Buat modal."


"Modal jualan ya, biar punya usaha."


"Bukan."


"Modal apa?"


"Modal nikah Mbakku yang udah perawan tua."


"Kasihan."


Dibalik kemesraan Kenan dan Renata dibilik cinta, ada keramaian anak-anak diluar. Tapi semua itu membuat hidup Kenan jadi lebih berwarna. Hidupnya yang dulu membisankan kini jadi penuh keramaian.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Nyonya Elina selamat siang"ucap Suster Eka.


"Siang Suster"ucap Elina.


"Nyonya ingin menjenguk Nona Davina ya?"tanya Suster Eka.


"Ya, gimana kondisinya Suster?"tanya Elina.


"Belum ada perubahan, kemarin Dokter Zainal kemari untuk memberi terapi untuknya tapi belum ada hasilnya. Dia tetap ketakutan,menangis,dan tertawa sendiri"ucap Suster Eka.


"Terimakasih suster, saya masuk dulu untuk melihat kondisi Davina"ucap Elina.


Elina masuk ke ruang kamar yang ditempati Davina. Terlihat Davina hanya duduk dipojok kamar sambil menangis.


"Hik...hik...jangan...jangan..."ucap Davina sambil menangis dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


Elina menghampiri Davina dan memeluknya.


"Davina tenanglah, kau akan baik-baik saja disini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi"ucap Elina sambil mengelus punggung Davina.


"Mereka...jahat...aku...takut...hik..hik..."ucap Davina sambil menangis dipelukan Elina.


"Mereka sudah mati Davina, mereka tidak akan menyakitimu lagi. Ada aku disini menemanimu"ucap Elina.


"Hik...hik...hik..."Davina hanya menangis tersedu-sedu.


"Kau pasti lapar ya, aku akan menyuapimu ya"ucap Elina.


Elina melepas pelukannya, dan mengambil makanan untuk Davina. Elina menyuapinya makan.

__ADS_1


"Davina ayo buka mulutnya, ini makanan kesukaanmu"ucap Elina.


Selama satu bulan lebih Elina merawat Davina. Dia belum bisa memberi tahu Atnan karena kondisi Davina yang belum normal, selain itu Yama melarangnya untuk memberi tahu Atnan. Tapi Elina akan tetap memberi tahu Atnan saat Davina sudah normal lagi, dia tidak mau Atnan nanti terluka melihat kondisi Davina yang seperti ini.


Setelah Davina makan disuapi Elina. Dia dimandikan Elina lalu diganti bajunya dan disisir rambutnya oleh Elina. Elina begitu sabar merawat Davina yang merupakan cinta pertama Atnan.


"Nah sudah beres, sekarang kau cantik dan bersih Davina"ucap Elina.


Davina hanya bengong dan meneteskan air matanya lalu memeluk Elina.


"E...li...na"ucap Davina.


"Kau bilang apa tadi?"tanya Elina senang,akhirnya Davina bisa memanggil namanya.


"E...li...na"ucap Davina.


"Ya, itu namaku Davina. Mulai sekarang panggil aku dengan nama itu"ucap Elina.


Setelah itu Elina membacakan dongeng putri raja pada Davina hingga tertidur, kemudian Elina menyelimutinya.


Elina keluar dari kamar Davina dan menemui Suster Eka yang sedang duduk diruang keluarga.


"Suster Eka, kalau Davina ada perkembangan tolong kabari saya"ucap Elina.


"Baik Nyonya Elina, apakah Anda mau pulang?"tanya Suster Eka.


"Ya, besok saya akan menyempatkan kesini lagi seperti biasa"ucap Elina.


"Baik Nyonya Elina"ucap Suster Eka.


Elina keluar dari rumah itu mengendarai mobilnya kembali ke pusat kota. Dia kembali ke rumah. Sampai dirumah sudah mulai sore, Elina bergegas mandi dan berganti pakaian. Lalu dia segera pergi ke dapur untuk memasak makanan untuk Atnan yang akan pulang sebentar lagi.


Elina memasak makanan kesukaan Atnan. Dia sengaja memasak sendiri tanpa bantuan para pelayan dirumahnya. Elina selalu memasak makanan Arman dengan tangannya sendiri, karena Atnan lebih suka makanan yang dimasak oleh Elina. Saat sedang asyik memasak, Atnan memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


"Mas, kau sudah pulang?"tanya Elina.


"Ya, aku sudah rindu padamu Elina"ucap Atnan.


"Aku juga rindu padamu Atnan"ucap Elina.


"Elina aku lapar"ucap Atnan.


"Ya, ini aku sedang memasak untukmu, sudah hampir selesai tinggal diletakkan dipiring"ucap Elina.


"Aku menunggu dimeja makan ya"ucap Atnan.


"Iya"ucap Elina.


Atnan keluar dari dapur dan duduk di kursi makan, menunggu Elina. Elina menyiapkan semua makanan dimeja. Semua anggota keluarga masuk ke ruang makan untuk makan bersama.


"Wah Kak Elina masak banyak," ucap Jingga.


"Iya, ayo cicipi masakanku," ucap Elina.


"Masakan Elina juara deh," ucap Azura.


"Papa paling suka sayur lodeh buatan Elina," ucap Rafka.


"Iya dong Pa, istriku memang jago masak kaya Mama," ucap Atnan.


Elina tersenyum dengan semua pujian itu. Tapi dilubuk hatinya dia khawatir saat nanti Davina hadir kembali dihidup Atnan, apakah semua akan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2