
Gista dibawa ke gang buntu yang kanan kirinya pagar tinggi. Gista terduduk dikepung kedua lelaki itu. Dia ketakutan dan menangis. Suaranya terus berteriak tapi tak ada yang datang. Salah seorang lelaki merobek pakaiannya.
"Tidak, jangan....hik hik hik" ucap Gista menangis.
"Gue duluan ya" ucap Kohar.
"Jangan lupa gue juga ya" ucap Risman.
"Udah kalau gitu duel aja biar sama-sama" ucap Kohar.
"Yoi" ucap Risman.
Kedua lelaki itu itu mendekati Gista. Tiba-tiba motor gede menghampiri mereka dan menabrak kedua lelaki itu hingga terpental.
Bluuuug.......
"Aw........." kedua preman itu kesakitan dan tergelepak dibawah.
Motor itu berhenti didepan Gista.
"Naik" suara orang memakai helm yang menutup seluruh kepalanya itu.
Gista mengangguk. Orang itu melepas jaketnya dan melempar ke Gista.
"Pakai" ucap orang itu.
Gista segera memakai jaket yang dilempar orang itu. Kemudian dia naik ke motor orang itu, membonceng dibelakangnya. Motor itu melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu. Gista berpegangan erat karena motornya melaju kencang. Gista tidak tahu siapa orang yang duduk didepannya. Dia hanya diam saja tak berani bertanya. Hingga motor itu berhenti di depan rumah besar milik Gista.
"Turun" orang itu memerintah Gista.
"Baik" ucap Gista.
Gista turun dari motor. Dia berdiri didepan pintu gerbang rumahnya.
"Teri......" ucap Gista mau mengucapkan terimakasih tapi orang itu mengendarai motornya meninggalkan tempat itu.
Gista hanya bisa melihat motor itu semakin menjauh dan hilang. Dia penasaran dengan orang yang menolongnya itu.
"Siapa dia ya?" ucap Gista penuh tanya.
Baru Gista mau masuk ke dalam pintu gerbangnya, mobil Nathan berhenti di dekatnya. Nathan turun dari dalam mobilnya kemudian menghampiri Gista.
"Sayang" ucap Nathan.
"Mas Natahan" ucap Gista.
"Maaf tadi aku lembur dadakan, ada sedikit masalah dikantorku" ucap Nathan.
"Iya Mas, gak papa" ucap Gista.
"Boleh aku mampir sayang, aku haus" ucap Nathan.
Gista mengangguk. Dia mempersilahkan Nathan masuk ke dalam rumahnya. Pembantu dirumah itu sudah tidur. Nathan duduk diruang keluarga menunggu Gista mengambilkannya minum. Tak lama Gista datang membawa minum untuk Nathan.
"Nih air Mas" ucap Gista memberikan air minum itu pada Nathan.
Nathan menerima air minum itu lalu meminumnya sampai habis. Dia meletakkan gelasnya dimeja. Nathan menghampiri Gista dan memeluknya, dia mencium Gista.
__ADS_1
"Mas jangan, kita belum mahrom" ucap Gista mendorong dada Nathan.
"Memangnya kenapa? malam ini dingin, lebih baik kita berduaan" ucap Nathan.
"Mas, kau kenapa?" tanya Gista.
Nathan meraih tubuh Gista dan melemparnya ke sofa. Dia berada diatas tubuh Gista. Jaket yang dikenakan Gista dirobek Nathan.
"Mas jangan, kita sebentar lagi akan menikahkan Mas" ucap Gista.
"Justru karena kita akan segera menikah, aku ingin mencobanya dulu" ucap Nathan.
"Mas" ucap Gista marah.
Plaaaak........
Gista menampar Nathan dengan kencang.
"Kau jual mahal" ucap Nathan.
Nathan mencengkram kedua tangan Gista dengan tangan kirinya dan tangan kanannya merobek-robek pakaian Gista.
"Jangan Mas, jangan...." ucap Gista.
Karena Nathan tidak mendengarkan, Gista menendang Nathan.
Dug........
"Aw........." Nathan kesakitan.
"Mas kenapa kau harus seperti ini padaku Mas?"tanya Gista.
"Apa salahku?" tanya Gista.
Nathan menangis lalu jatuh pingsan. Melihat itu Gista menghampirinya. Dia memangku Nathan dipangkuannya.
"Mas....Mas Nathan....Maaaas......." ucap Gista.
**************
Rafka dan seluruh anggota keluarganya kompak mengenakan baju seragam berwarna abu. Mereka bersiap diruang tamu dengan beberapa seserahan yang akan diberikan pada keluarga Manda. Radhitya terlihat cemas dan grogi. Melihat itu Rafka menghampirinya.
"Mau lamaran kok malah ketakutan gini" ucap Rafka menggoda.
"Gak kak, cuma gerah aja hawanya" ucap Radhitya.
"Playboy kok gak punya nyali, sok-soan memburu banyak wanita giliran mau lamaran ciut ilang masuk kandang kaya siput" ucap Luna.
"Eh Lun bisa gak mulut lakban dulu hari ini, aku mau lamaran jangan meracuni suasana happy ku" ucap Radhitya.
"Paling juga pingsan tar belum juga masang cincin, atau mabok perjalanan, ya paling parah pipis dicelana" ucap Luna.
"Kamu ya, bisa gak ngomong kaya madu gitu. Pahit, sepet, asem omonganmu tahu" ucap Radhitya.
Luna tertawa. Dia senang melihat kakaknya yang satu ini marah. Gak seru kalau gak berdebat dengannya.
"Aktor biasa mengatakan cinta, lamaran terus nikah. Eh...giliran sendirinya mau lamaran beneran, pucet, keringet dingin, bulu kuduk berdiri kaya ngelihat setan" ucap Luna.
__ADS_1
"Biarin, ini natural tahu bukan akting" ucap Radhitya.
"Justru karena beneran tunjukkan kharismamu bukannya kaya gini. Udah kaya mau disunat aja" ucap Luna.
"Eh itu mulut makin lost kontrol ya, rem apa? udah blong?" ucap Radhitya.
Rafka langsung melerai kedua adiknya yang sedang berdebat panjang kaya sidang paripurna ditengah kali takut hanyut pesertanya.
"Udah...udah...bukannya kita mau berangkat. Udah siang nih" ucap Rafka.
"Oke" ucap Luna dan Radhitya.
"Papa Biru ganteng gak?" tanya Biru yang menghampiri Rafka.
"Jingga cantik gak Pa?" tanya Jingga menghampiri Rafka.
Rafka langsung merangkul kedua anak kembarnya.
"Anak papa tentunya ganteng dan cantik kaya Papa dan Mama" ucap Rafka.
"Hore" ucap Biru dan Jingga.
"Mas" ucap Azura menghampiri Rafka.
Rafka langsung berdiri, berjalan menghampiri Azura.
"Bidadariku cantik sekali" bisik Rafka.
"Mas aku malu" ucap Azura sambil tersipu malu.
"Jadi ingin melamarmu lagi sayang" ucap Rafka.
Azura tersenyum. Rafka mengeluarkan sebuah cincin dari saku baju seragamnya. Dia berlutut didepan Azura dan mengenakan cincin pada jari manisnya.
"Lah kok Kak Rafka yang lamaran" ucap Luna.
"Ampun deh kak, lo dua kali lamaran. Gue aja sekali masih dalam proses" ucap Radhitya.
"Makanya kaya Kak Rafka dong, baik, ganteng, soleh, penyayang. Gak kaya kak Radit, urakan, playboy, sembrono, apes mulu lagi, dan terakhir jomblo lima tahun lagi" ucap Luna.
"Lunaaaaa" ucap Radhitya kesal.
Luna langsung kabur membawa seserahan ke arah mobil. Radhitya berlari mengejarnya. Mereka malah kejar-kejaran memutari mobil.
************
Sampai dirumah Manda, Arian sekeluarga turun dari mobil. Mereka masing-masing membawa seserahan. Acara lamaran itu sengaja diadakan sederhana agar wartawan tidak meliput. Radhitya artis cukup terkenal, jika acara itu terdengar wartawan bisa brabe. Jadi lamarannya hanya dihadiri keluarga inti saja. Radhitya dan Arian berada didepan berjalan duluan masuk ke dalam rumah Manda. Didalam Manda dan Emak Eni sudah menunggu mereka. Radhitya terkesima melihat Manda begitu cantik mengenakan kebaya berwarna pink. Dia berdandan maksimal tidak seperti hari biasanya yang serabutan.
"Cantiknya bidadariku" ucap Radhitya.
"Iya sih, tapi kaki Papi jangan kamu injek juga" ucap Arian.
"Eh...kirain karpet merah Pi" ucap Radhitya.
"Bukan karpet merah tapi ganjalan pintu" ucap Arian.
"Ha ha ha" semuanya tertawa dengan ocehan bapak dan anak itu.
__ADS_1