DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Depresi


__ADS_3

Radhitya dan keluarganya duduk bersama diruang tamu bersama Manda dan Emak Eni.


Mereka memulai acara lamaran itu. Arian selaku ayah Radhitya mengatakan maksud kedatangannya pada Emak Eni.


"Saya datang kemari bersama keluarga untuk meminang putri ibu untuk anak saya Radhitya, bagaimana? apa diterima atau tidak? " tanya Arian.


"Saya selaku ibunya tidak bisa memutuskan, semua ini dikembalikan pada Manda, gimana nak?" tanya Emak Eni.


Luna mengusili Radhitya yang sedang cemas menunggu jawaban dari Manda.


"Jangan-jangan Kak Manda gak mau nih, gara-gara Kak Radit terkenal playboy" bisik Luna ke telinga Radhitya.


"Lun bukannya support malah jatuhin kakak" bisik Radhitya pada Luna.


"Kasihan deh Kak Radit, mau tisu gak buat nangis" bisik Luna menggoda Radhitya.


"Gak perlu, gue gak akan nangis, tapi pengen pipis" bisik Radhitya pada Luna.


Semua orang menunggu jawaban Manda. Radhitya cemas menunggu jawaban dari Manda. Dia takut ditolak Manda. Maklum Radhitya sebelumnya dikenal playboy sejati.


"Iya, aku mau menerima pinangan ini" ucap Manda.


"Alhamdulillah" ucap Semua orang diruangan itu.


Radhitya mulai mengenakan cincin pada Manda.


Rafka, Arian dan Luna memfoto mereka berdua, mengabadikan moment bahagia itu. Kemudian mereka semua berfoto bersama difoto oleh fotografer yang disewa keluarga Arian.


Cekrek....cekrek....cekrek.....


Mereka semua berfoto dengan berbagai pose. Kemudian makan bersama diruang tamu. Manda langsung makan jengkol yang dimasak Emak Eni.


Begitupun dengan Arian yang juga suka makan jengkol. Freya dan yang lainnya tertawa melihat calon mertua dan menantu sama-sama suka jengkol. Untung Mba TK B gak dibawa, bisa repot tar, semua menu makanan terbuat dari jengkol beserta kue seserahan dengan bahan dasar jengkol, lengkap deh segala perjengkolan.


Setelah makan bersama mereka ngobrol santai diruang tamu. Sedangkan Radhitya dan Manda duduk diteras samping.


"Manda sayang, makasih ya sudah menerima lamaranku" ucap Radhitya.


"Iya Radit" ucap Manda.


"Bau jengkol, sepertinya aku harus terbiasa dengan aroma terapi yang satu ini" batin Radhitya.


"Aduh perutku sakit Radit" ucap Manda.


Pruuut.....pruuuut....pruuuut.....


Manda membuang gas alami yang diproduksi perutnya setiap hari.


"Dan bau legend yang satu ini juga" batin Radhitya.


"Kamu mau ke toilet sayang?" tanya Radhitya.


"Iya, tapi aku ngan...." ucap Manda.


Krooook.....krooook....krooook......

__ADS_1


Manda langsung tertidur pulas dikursi karena kekenyangan.


"Suara kodok ini akan jadi nada dering setiap hariku nantinya" batin Radhitya.


"Tapi walaupun begitu dia tetap cantik dan unik dimataku" batin Radhitya.


"I Love You Manda" ucap Radhitya membisikkan ucapan cinta itu ditelinga Manda.


Radhitya senang melihat Manda yang sudah tertidur pulas dikursi. Dia mencintai Manda apa adanya, walaupun dia bau jengkol, suka kentut dan ngorok sekalipun.


************


Gista membawa Nathan ke rumah sakit. Dia menunggu diluar ruang rawat inap selama Nathan ditangani Dokter. Setelah Dokter selesai menangani Nathan, dia bicara dengan Gista.


"Tuan Nathan sepertinya terlalu banyak meminum obat penenang. Apa dia pernah depresi?" tanya Dokter Hari.


"Depresi?" ucap Gista terkejut.


"Iya, apa Anda tidak tahu?" tanya Dokter Hari.


"Tidak, selama ini dia tak cerita apapun pada saya soal depresi atau obat penenang" ucap Gista.


Gista tidak tahu kenapa Nathan depresi dan meminum obat penenang.


"Ginjalnya mengalami masalah yang cukup berat. Itu disebabkan karena mengkonsumsi obat penenang yang berlebihan secara terus menerus. Mulai besok dia harus rutin cuci darah. Selain itu dia juga memiliki penyakit jantung. Saya khawatir ini akan memperburuk kondisinya. Sebaiknya untuk saat ini kurangi stressnya" ucap Dokter Hari.


"Iya Dok" ucap Gista.


Gista masuk ke ruang rawat inap setelah bicara dengan Dokter. Dia menemani Nathan yang sedang berbaring diranjang. Lelaki itu terlihat tenang saat tidur, padahal dia memiliki banyak masalah yang dipikirkannya. Gista duduk dikursi yang ada disamping ranjang sambil melihat Nathan yang masih tertidur.


Tiba-tiba Nathan mengigau saat dia sedang tertidur.


"Hira....Hira....tunggu.....aku rindu padamu....tunggu ..." ucap Nathan.


Gista terkejut mendengarkan Nathan mengigau. Lelaki itu menyebut nama istrinya yang sudah meninggal. Kini dia tahu kenapa Nathan depresi.


"Jadi dia terpukul karena kematian istrinya, aku belum bisa menggantikan posisi istrinya dihati Nathan" batin Gista.


Gista tertidur dikursi dengan menyandarkan kepalanya diranjang. Tak lama Nathan terbangun dan melihat Gista tidur. Dia mengelus wajah Gista.


"Maafkan aku Gista" ucap Nathan.


Nathan turun dari ranjang. Dia mengambil obat penenangnya yang ada dikantung jas miliknya. Dia hendak meminum beberapa obat penenang sekaligus tapi ditahan Gista.


"Jangan Mas, ku mohon jangan" ucap Gista sambil memegang tangan Nathan.


"Aku harus minum obat ini, aku tidak bisa menghilangkan bayangan Hira" ucap Nathan.


Gista terus memegang tangan Nathan. Dia tak akan membiarkan Nathan meminum obat penenang itu lagi.


"Mas cara ini salah, Hira pasti sedih melihatmu seperti ini, ku mohon jangan" ucap Gista.


"Aku ingin tenang, aku butuh obat ini" ucap Nathan.


Gista mengambil obat itu lalu membuangnya begitu saja.

__ADS_1


"Itu obatku kenapa kau membuangnya?" tanya Nathan.


"Itu karena obat itu bisa merusak tubuhmu Mas, kau tidak bisa mengkonsumsi obat penenang berlebihan. Ingat kesehatanmu, kasihan Alifa" ucap Gista.


Nathan terduduk dilantai dan menangis. Gista menghampirinya. Dia tahu rasa sedih yang dirasakan Nathan.


"Aku tak berguna, Alifa pasti kecewa hik hik hik" ucap Nathan.


Gista duduk disamping Nathan. Dia coba untuk berbicara pada Nathan.


"Mas, siapa bilang kau tak berguna, kau berarti untukku dan Alifa jadi ku mohon jangan lakukan ini lagi. Aku mencintaimu Mas" ucap Gista.


"Maafkan aku Gista" ucap Nathan.


Gista mengangguk. Dia membantu Nathan beristirahat diranjang, lalu dia menyelimutinya.


Gista mengajaknya bicara hal-hal yang menyenangkan agar Nathan merasa lebih baik.


Itu yang dibutuhkan Nathan saat ini.


************


Rafka mengajak Azura pergi ke makam istrinya Diana. Mereka duduk disamping makam Diana.


Kemudian Rafka meletakkan seikat bunga mawar merah untuk Diana.


"Diana ini Azura istriku, dia wanita yang baik sepertimu. Aku sangat mencintainya, hidupku kini bahagia. Semoga kau juga bahagia disana" ucap Rafka.


"Amin" ucap Azura.


Rafka dan Azura berdoa untuk Diana. Lalu mereka meninggalkan tanah pemakaman itu. Rafka mengajak Azura pergi ke suatu tempat. Sebuah toko mainan anak yang besar dan ramai. Rafka dan Azura masuk ke toko mainan anak itu. Azura tidak tahu kenapa suaminya mengajaknya ke toko itu.


"Mas apa kita akan membeli mainan untuk Biru dan Jingga?" tanya Azura.


"Tidak" ucap Rafka.


"Lalu mengapa kita kesini Mas?" tanya Azura.


"Azura toko mainan ini milikmu sekarang" ucap Rafka.


"Apa? toko ini milikku?" ucap Azura terkejut.


"Iya sayang, kau bisa mengelolanya sambil mengurus Biru dan Jingga. Aku tahu pasti kau akan bosan bila hanya dirumah saja. Jadi kau punya kegiatan mengurus toko mainan ini. Kau bisa bekerja sesukamu, karena ini toko milikmu sendiri" ucap Rafka.


Azura langsung memeluk Rafka. Dia senang mendapat hadiah dari suaminya ini. Tanpa diminta Rafka selalu perhatian padanya.


"Makasih Mas, Biru dan Jingga pasti senang kalau ku ajak kesini" ucap Azura.


"Iya sayang" ucap Rafka.


Rafka dan Azura berkeliling di toko mainan itu tak sengaja dia bertemu seseorang. Mereka saling bertatapan.


"Mas Rafka, Azura" ucap Gista.


Gista ke toko mainan itu untuk membeli mainan untuk Alifa.

__ADS_1


__ADS_2