
"Iya, kau tahu dari mana?" tanya Gista.
Pasha berdiri lalu meninggalkan Gista begitu saja. Gista merasa aneh dengan lelaki itu. Datang dan pergi sesuka hatinya. Tak lama Gista mendapatkan telpon dari rumah sakit. Dia langsung pergi ke rumah sakit. Keadaan Nathan semakin memburuk. Kaki dan tangan Nathan semakin bengkak, dia juga sesak nafas. Gista tak kuat melihat keadaan Nathan, sampai dia pingsan.
Saat Gista terbangun, dia sudah ada diruangan rawat inap. Ada Egi yang menemaninya. Gista melihat ke arah Egi yang menemaninya.
"Mas Egi" ucap Gista.
"Tadi kau pingsan, jadi aku membawamu kesini" ucap Egi.
"Mas Nathan hik hik hik" ucap Gista sambil menangis.
"Iya, aku sudah tahu. Kau jangan bersedih, tidak baik untuk ibu hamil" ucap Egi.
"Iya Mas" ucap Gista.
Egi memberi segelas air putih untuk Gista.
"Minumlah, kau pasti haus dari tadi menangis" ucap Egi.
Gista menerima gelas itu, dia segera meminum air yang diberikan Egi padanya sampai habis.
"Aku akan ikut tes pemeriksaan, siapa tahu ginjalku cocok dengan Nathan" ucap Egi.
"Terimakasih sebelumnya Mas" ucap Gista.
Egi mengangguk. Dia keluar dari ruangan rawat inap itu. Egi ikut menjalani tes pemeriksaan tapi ternyata hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Golongan darah Egi tak sama dengan Nathan, dia tidak bisa mendonorkan ginjalnya untuk Nathan.
"Aku tidak bisa mendonorkan ginjalku pada Nathan. Tadi Dokter menyarankan anggota keluarga lain. Tinggal ibuku yang satu golongan darah dengan Nathan, aku coba pulang untuk bicara dengan ibu" batin Egi.
Egi memutuskan pulang ke rumahnya. Dia menengendarai mobilnya menuju rumah besar keluarga Darmawan. Sampai dirumah keluarga Darmawan, Egi berjalan masuk ke dalam rumah itu. Dua menemui ibunya yang sedang berada dikamarnya.
Tuk...tuk....tuk...
Egi mengetuk pintu kamar Ibu Sasa beberapa kali.
"Bu aku ingin bicara" ucap Egi dari luar.
Ibu Sasa membuka pintu kamarnya. Dia menatap Egi dengan penuh kekesalan.
"Untuk apa kau kembali, bukannya kau tak butuh lagi ibumu" ucap Ibu Sasa.
"Bu, Nathan sakit parah" ucap Egi.
Ibu Sasa hanya tersenyum seolah dia tak pedi dengan sakit yang diderita Nathan.
"Aku tidak peduli" ucap Ibu Sasa.
"Bu Nathan membutuhkan donor ginjal, agar dia bisa sehat lagi. Kedua ginjalnya tidak berfungsi dengan baik" ucap Egi.
__ADS_1
"Terserah, biarin dia merasakan rasanya kesakitan dan mati" ucap Ibu Sasa.
"Bu, ku mohon. Tolonglah Nathan. Ginjalku tidak cocok, tinggal ibu yang mungkin bisa mendonorkan ginjalmu untuk Nathan" ucap Egi.
"Aku sudah tua, sayang sekali kalau harus repot-repot mengurusi Nathan yang tidak mau mengikuti aturanku" ucap Ibu Sasa.
Egi terdiam, dia kecewa ibunya tak mau peduli pada Nathan yang merupakan anak kandungnya sendiri.
"Bu kau seorang ibu, tentunya sangat menyayangi anakmukan, ku mohon Bu tolonglah Nathan. Anggaplah itu karena kasih sayangmu pada anakmu" ucap Egi.
"Aku tidak peduli, mau dia mati ataupun menghilang sekalipun aku tidak peduli" ucap Ibu Sasa.
Egi sampai berlutut didepan ibunya. Dia berharap ibunya akan luluh.
"Ku mohon Bu, jika tak segera, kondisi Nathan akan semakin memburuk" ucap Egi.
"Percuma kau sampai berlutut, bahkan sampai mencium kakikupun aku tak akan peduli. Sekali tak mengikuti aturanku, kalian tak akan jadi anakku lagi" ucap Ibu Sasa.
"Bu aku yakin didalam lubuk hatimu, kau sangat menyayangi Nathan, maafkan lah dia dan ku mohon tolonglah dia" ucap Egi.
Ibu Sasa menutup kembali pintu kamarnya. Egi berdiri dan mengetuk-ngetuk kembali pintu kamar itu berkali-kali. Tapi tak ada jawaban. Egi sampai terduduk lemas didepan pintu kamar Ibu Sasa.
Tiba-tiba ayahnya menghampiri Egi.
"Kau sedang apa disitu Egi?" tanya Pak Anwar.
"Ayah" ucap Egi.
"Kenapa kau pulang ke rumah?" tanya Pak Anwar.
"Ayah, Nathan sakit parah. Dia butuh donor ginjal. Dan mungkin ibu bisa mendonorkan ginjalnya untuk Nathan karena aku tidak bisa" ucap Egi.
"Mendonorkan ginjal? biarkan saja dia mati" ucap Pak Anwar.
"Apa?...aku pikir kalian orangtua Nathan tapi aku sadar kalian benar-benar tak peduli" ucap Egi.
"Anakku tidak mungkin melanggar aturanku, jika sudah melanggar, dia bukan anakku lagi" ucap Pak Anwar.
"Ayah, dimana rasa kasih sayangmu sebagai ayah. Apa Nathan bukan anak kalian? kalian membesarkannya dengan kasih sayang, tapi inikah akhirnya?" ucap Egi.
"Pergilag, aku tak peduli lagi" ucap Pak Anwar.
"Nathan benar meninggalkan rumah ini, aku juga tidak akan menginjakkan kaki ku dirumah ini lagi" ucap Egi.
"Silahkan, dan kembalikan perusahaan padaku" ucap Pak Anwar.
"Baik, aku juga tidak ingin memimpin perusahaan yang hanya menguntungkan kalian" ucap Egi.
Egi keluar dari rumah keluarga Darmawan. Dia sangat kecewa kedua orang tuanya tak ada yang peduli.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Rafka masuk ke kamarnya dengan membawa buket bunga untuk istri tercintanya. Azura sedang asyik makan rujak sambil menonton televisi. Rafka menaruh buket bunga dibelakang punggungnya. Dia duduk disamping istrinya yang sedang lahap memakan rujak.
"Rujaknya enak sayang?" tanya Rafka.
"Iya Mas seger" ucap Azura.
"Jangan-jangan kamu hamil lagi sayang" ucap Rafka.
"Masa sih Mas" ucap Azura.
Rafka mencium pipi Azura. Dia begitu menyayangi istrinya itu.
"Mas tumben masih sore udah pulang?" tanya Azura.
"Pengennya setiap hari pulang sore, biar bisa bersama istri tercinta dan berkumpul dengan anak-anak" ucap Rafka.
"Mas aku juga ingin seperti itu" ucap Azura.
"Aku punya sesuatu untukmu" ucap Rafka sambil menyodorkan buket bunga itu pada Azura.
"Terimakasih Mas" ucap Azura menerima buket bungat itu.
"I Love You" ucap Rafka.
"I Love You Too" ucap Azura.
Azura mencium buket bunga dari suaminya. Dia terlihat sumringah mendapatkan buket bunga itu.
"Sayang, gimana kalau kita berdilaturrahmi ke rumah Gista, sudah lama kita tak bertemu dengannya. Aku dengar suaminya sakit" ucap Rafka.
"Boleh, kasihan juga Gista sedang hamil suaminya sakit. Mungkin kedatangan kita bisa memberinya semangat" ucap Azura.
"Iya sayang" ucap Rafka.
Rafka berbaring dipangkuan istrinya. Rasanya begitu nyaman. Rasa lelahnya menghilang berganti senyuman dan kebahagiaan. Rafka bersyukur pada Allah SWT telah diberikan istri yang sholehah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Gista duduk diruangan tunggu diluar ruang rawat inap suaminya. Dia menangis sendirian. Gista tidak tahu lagi gimana caranya menolong Nathan. Dia hanya bisa berdoa dan berharap. Pasha datang menghampirinya dan duduk disamping Gista.
"Kau menangis lagi?" tanya Pasha.
"Hik hik hik" Gista menangis.
"Aku bisa merasakan rasa sedih yang kau rasakan" ucap Pasha.
Gista hanya menangis, dia tak bisa membohongi perasaannya yang sedang mengkhawatirkan Nathan yang berbaring diruang rawat inap dengan sesak didadanya.
__ADS_1
"Aku bisa menyelamatkan suamimu, ginjalku cocok dengan ginjal suamimu" ucap Pasha.
"Benarkah?" tanya Gista.