
"Sayang jangan menyerah, mungkin ini ujian untuk pernikahan kita" ucap Radhitya.
"Iya Radit, maafkan aku" ucap Manda.
"Oke, aku akan tetap kesana" ucap Radhitya.
"Gimana caranya?" tanya Manda.
"Gampang, kau tunggu saja ya kehadiranku" ucap Radhitya.
"Iya" ucap Manda.
Radhitya menutup telponnya. Dia tak habis pikir gosip ini akan menyebar luas. Bahkan Manda jadi tertekan. Dia bisa memahami posisi Manda. Menjadi bahan pembicaraan publik itu tak mudah. Banyak artis yang akhirnya down dan menyakiti dirinya sendiri. Ada yang terjatuh didunia malam, mengkonsumsi narkoba sampai depresi berat. Posisi Manda sekarang membutuhkan support agar kepercayaan dirinya kembali.
Radhitya keluar dari kamarnya dia menuruni tangga, Freya yang berada dilantai bawah menghampiri Radhitya yang turun ke lantai bawah.
"Radit, kamu sudah baca gosip yang menyebar di media sosial dan televisi?" tanya Freya.
"Udah Mi" ucap Radhitya.
"Bagaimana keadaan Manda, dia pasti sangat tertekan dengan gosip yang menyebar ini" ucap Freya
"Dia tertekan Mi, bahkan hampir saja meminta pernikahan ini dibatalkan" ucap Radhitya.
"Astagfirullah, gosip ini benar-benar merugikan. Mereka yang menghujat tidak tahu apa ya, orang yang dihujat itu tertekan, sudah ngomong seenaknya padahal tidak sesuai dengan kenyataannya" ucap Freya.
"Begitulah Mi, beberapa kontrak syuting filmku dibatalkan, iklan dibatalkan, bahkan yang sudah tayangpun ditarik, karirku sepertinya akan hancur Ma. Para penggemarku tidak mau aku menikahi Manda, popularitasku jadi turun" ucap Radhitya.
Freya memegang tangan Radhitya untuk menguatkannya.
"Sabar ya nak, mungkin ini ujian untuk pernikahanmu. Dulu Papi dan Mami juga begitu. Kita malah terpisah dan hampir menikah dengan oranglain. Tapi jodoh mempertemukan kita lagi" ucap Freya.
"Iya Mi, aku dan Manda pasti bisa melewati semua ini" ucap Radhitya.
Radhitya meninggalkan rumah besar Arian. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah Cecep. Sampai dirumah Cecep, dia turun dari mobilnya.
Rumah Cecep berada dilingkungan menengah ke bawah. Lingkungan padat penduduk. Radhitya menggunakan topi dan masker saat turun dari mobilnya. Dia menuju ke rumah Cecep yang ternyata cukup memprihatinkan. Rumahnya kecil, adiknya sembilan orang. Radhitya sampai bingung ingin duduk dimana adiknya sudah sembilan, kakek dan nenek dari kedua orangtuanya ikut tinggal dirumah itu, belum lagi paman dan bibinya juga masih menumpang dirumah orangtua Cecep.
"Cep gak salah nih gue duduk dipangkuan lo" ucap Radhitya.
"Dari pada kamu duduk dipangkuan nenekku yang dari tadi ngedipin kamu" ucap Cecep.
Radhitya melihat kedua nenek Cecep yang mengedipkan mata ke arahnya sambil kiss bye seakan Radhitya kesenengan dapat kiss bye maut itu.
"Itu nenekmu masih waraskan Cep?" tanya Radhitya berbisik pada Cecep.
"Sedikit oling kalau liat cowok ganteng, malah temen adikku hampir diperkosa kedua nenekku yang gragas kaya tikus" ucap Cecek berbisik.
"Cep berarti gak aman dong gue disini" bisik Radhitya.
"Buruan kita cabut sebelum...." bisik Cecep.
Bener kaya Cecep semua adiknya berkumpul didepan Radhitya, masing-masing memperlihatkan wajah melas mereka sambil membaca puisi yang menyedihkan.
__ADS_1
"Cep baper banget puisinya" ucap Radhitya.
"Ini hanya tipuan semata" ucap Cecep.
"Om bagi sawerannya" ucap Adik pertama Cecep.
"Bagi duit....bagi duit....bagi duit....." ucap Semua adik Cecep.
"Ternyata baper yang tadi itu berbayar, tahu gitu gue gak buka gembok" ucap Radhitya.
"Aku dah bilangkan tadi" ucap Cecep.
Radhitya membagi semua adik Cecep dengan uang seratus ribuan. Begitupun kakek, nenek, ayah, ibu, paman, dan bibi Cecep. Setelah itu Cecep ikut Radhitya ke dalam mobil. Mobil itu melaju meninggalkan tempat itu.
"Kamu mau mengajakku kemana Dit?" tanya Cecep.
"Bantu gue mengalihkan perhatian wartawan. Aku mau membawa Manda dan Ibunya pindah dari rumah itu" ucap Radhitya.
"Oh gitu, maksudnya aku ini umpannya" ucap Cecep.
"Betul, pinteran kamu" ucap Radhitya.
"Asal jangan disuruh jadi pocong lagi, gak mau ngenes terus" ucap Cecep.
"Ha ha ha" Radhitya tertawa.
"Tenang Cep, bonusnya gue beliin rumah yang gedean buat lo sama keluarga lo tinggal" ucap Radhitya.
Radhitya mengangguk dengan pertanyaan Cecep yang menegaskan tawarannya.
"Kalau gitu jadi pocong atau orang gila juga gak papa deh" ucap Cecep.
"Yaudah lo jadi pocong pakai rok mini gimana?" ucap Radhitya bercanda.
"Sekalian aja jadi pocong jualan cendol, bingung deh dorong gerobaknya" ucap Cecep.
"Ha ha ha" Radhitya tertawa.
Sampai dijalan gang rumah Manda. Cecep berdandan seperti Radhitya memakai baju milik Radhitya, memakai wig, kaca mata dan masker. Sekilas mirip Radhitya setelah didempul pemutih ekstra dan bedak bersenti-senti.
"Dit kok gue berasa kaya boneka manekin, mau senyum aja kaku banget, wajah ku rasanya pakai borak" ucap Cecep.
"Habis kulitmu hitam maksimal, kalau gak dikasih pemutih ekstra dan dempulan bedak bersenti-senti mana wartawan percaya itu gue" ucap Radhitya.
"Bener juga" ucap Cecep.
Cecep turun dari mobil berlagak seperti Radhitya berjalan melewati wartawan yang ada djalan depan rumah Manda. Para wartawan tertipu mereka langsung mengerumuni Cecep. Seketika Cecep berpura-pura berjalan menjauhi tempat itu. Wartawan terus mengejar Cecep hingga meninggalkan depan rumah Manda.
"Akhirnya wartawan pergi juga" ucap Radhitya dari dalam mobil.
Radhitya turun dari mobil, dia berjalan menuju rumah Manda. Dia mengetuk rumah Manda.
Tuk....tuk....tuk.....
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" ucap Radhitya.
Mendengar suara Radhitya, Manda langsung membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsallam" ucap Manda.
"Sayang, ayo kita segera pergi dari sini, ajak ibumu sekalian" ucap Radhitya.
"Pergi kemana?" tanya Manda.
"Nanti aku jelasin" ucap Radhitya.
Manda mengangguk. Dia mengajak Emak Eni pergi bersamanya. Manda dan Emak Eni hanya membawa koper yang berisi baju. Mereka semua masuk ke dalam mobil Radhitya. Mobil itu melaju meninggalkan tempat itu.
Sementara itu wartawan terus mengejar Radhitya palsu. Karena merasa sudah jauh, Cecep berhenti. Wartawan langsung mengerumuninya kaya semut.
"Radhitya apa hubunganmu dengan Manda hanya sebatas pacar atau menurut gosip Anda selingkuhannya?"
"Radhitya menurut kabar, banyak kontrak syuting film, iklan, dan bintang tamu yang dibatalkan ya?"
"Banyak fans yang tidak menyukai hubungan Anda dengan Manda, hingga karir keartisan Anda terancam redup"
Wartawan terus mencecar pertanyaan demi pertanyaan. Cecep segera membuka topi, kaca mata dan maskernya.
"Maaf barade pesen kaos sablonna, mumpung promo sok dak murah" ucap Cecep.
"Lah imitasi toh"
"Ini mah bukan mirip tapi remahannya doang"
"Capek-capek ngejar sampai nginjek tai sapi bolak balik, eh gak taunya alien nyasar"
"Rambutku yang lurus sampai keriting gara-gara kedempet-dempet, eh gak taunya tukang sablon"
Wartawan kecewa berat. Mereka akhirnya bubar jalan meninggalkan Cecep yang tadinya udah siap promoin kaos sablonannya.
"Mas, Mba, lagi promo nih berhadiah ciki ma permen gopean" ucap Cecep berteriak.
Cecep sukses menipu wartawan. Tinggal menunggu bonus dari Radhitya. Dia bersyukur gak sampai diciumi wartawan yang cantik-cantik. Padahal dah ngerep dari tadi.
Radhitya membawa Manda dan Emak Eni ke sebuah rumah cukup besar. Rumah itu rumah yang dibeli Radhitya dari hasilnya bekerja jadi artis. Radhitya, Manda dan Emak Eni berdiri didepan rumah itu.
"Radit, ini rumah siapa?" tanya Manda.
"Rumah untukmu dan ibumu tinggal sampai acara pernikahan kita dilangsungkan" ucap Radhitya.
"Oh..., tapi kenapa kita harus tinggal disini?" tanya Manda.
"Supaya wartawan tidak mengejar-ngejarmu dan ibumu, disini aman, wartawan tidak tahu tempat ini. Nanti setelah menikah baru kita membuat konferensi pers" ucap Radhitya.
"Oke" ucap Manda.
Radhitya, Manda, dan Emak Eni masuk ke dalam rumah itu. Sampai hari pernikahan itu Manda dan Emak Eni akan tinggal dirumah itu.
__ADS_1