
"Aku tidak ingin merebut suami orang, lebih baik aku menjanda seumur hidupku dari pada merebut suami orang," jawab Laura.
"Benarkah?" tanya Renata.
Laura mengangguk.
"Di mana-mana pelakor memang tak mau mengakuinya, mereka pintar bersikat lidah," ujar Renata.
Laura hanya terdiam. Dia tak mengerti arah pembicaraan Renata. Apa maksudnya menyinggung atau hanya sekedar komentar karena acara di televisi yang membuatnya kesal.
"Laura apa kau punya suami?" tanya Renata.
"Suamiku sudah meninggal," jawab Laura.
"Oh sudah meninggal, tidakkah kau tertarik mencari lelaki kaya untuk kau tumpangi hidup?" tanya Renata.
"Tidak, selama ini aku berusaha bekerja keras untuk keluargaku dan aku nyaman bekerja dari pada minta tumpangan hidup dari orang lain," jawab Laura.
"Apa kau punya anak?" tanya Renata.
"Iya," jawab Laura.
"Berapa anakmu?" tanya Renata.
"Satu, namanya Bagas," ucap Laura.
Renata tersenyum sinis. Dia sengaja mengulik siapa Laura.
"Anakmu pasti merindukan sosok ayah yang baik, dan biasanya lelaki yang sudah beristri lebih berpengalaman untuk menyenangkan hati anak kecil," ujar Renata.
Laura terdiam. Renata terus mencecarnya bagaikan nara pidana.
"Kalau kau sudah punya anak, kenapa tak mencari penghidupan yang layak? menjadi perawat bukan tujuan utamamukan?" tanya Renata.
"Saya kerja apa saja Nyonya asal halal," jawab Laura.
"Baik sekali dirimu, semoga semua itu benar, karena hidup tanpa suami itu tidak enak," ujar Renata.
"Aku sudah terbiasa hidup sendirian tanpa suami Nyonya," ujar Laura.
"Banyak wanita yang hidup tanpa suami tapi mensuamikan suami orang tanpa status yang jelas, rela menjalani hubungan gelap demi kata bahagia," kata Renata. Dia terus menghujani Laura dengan kata-kata sindiran halus. Laura juga mulai paham. Renata sedang menyindirnya. Entah kenapa?
"Nyonya saya ke atas dulu," pamit Laura.
Renata hanya mengangguk. Segera Laura meninggalkan tempat itu. Dia merasa akan lebih baik pergi dari pada tetap tinggal.
Laura berjalan menaiki tangga. Dia terus memikirkan ucapan Renata tadi.
"Apa karena Nyonya Renata sedang hamil, jadi sensitif?" ucap Laura. Dia terus melangkah masuk ke dalam kamar Agra.
Malam itu, Kenan baru pulang usai menemani Bagas jalan-jalan. Dia masuk ke dalam kamar, karena Renata sedang tidur, Kenan langsung masuk toilet untuk mandi lalu berganti pakaian dan berbaring diranjang bersama Renata.
"I Love You," bisik Kenan ditelinga Renata sebelum tidur.
Renata terbangun. Dia berbalik menatap Kenan di depannya.
__ADS_1
"Kau sudah pulang?" tanya Renata.
"Iya sayang," jawab Kenan.
"Apa bisnismu penting sampai semalam ini kau pulang?" tanya Renata.
"Iya," jawab Kenan.
"Akhir-akhir ini bisnismu banyak ya, sampai aku yang hamil ini harus menunggumu pulang larut malam," ujar Renata.
"Sayang maafkan aku, gimana kalau besok kita jalan-jalan ke pantai?" tanya Kenan.
"Laura diajak juga ya?" ujar Renata.
"Laura?" Kenan terkejut.
"Iya, diakan serbaguna, bisa jadi apa saja," ujar Renata.
Kenan terdiam saat Renata membahas Laura. Dia tak ingin salah ngomong apalagi keceplosan.
"Maksudku, dia bisa ikut kan Elina dan Atnan juga ikutkan?" ujar Renata.
Kenan mengangguk.
"Apa harimu tadi menyenangkan?" tanya Renata.
"Iya," jawab Kenan.
"Tadi Laura bilang suaminya sudah meninggal, kasihan ya," ujar Renata.
"Dia punya anak bernama Bagas, wajahnya mirip denganmu," ujar Renata.
"Benarkah?" ucap Kenan.
"Iya, aku justru mengira dia itu anakmu," ujar Renata.
Kenan terkejut saat Renata mengatakan Bagas anaknya. Perkataan Renata berhasil membuat Kenan mati kutu.
"Tapi ternyata Bagas yatim, kasihan, apa mungkin ayahnya mirip denganmu?" ujar Renata.
"Sayang sebenarnya ...," ucap Kenan.
Renata langsung menutup mulut Kenan. Dia tak ingin mendengar pernyataan yang akan menyakitinya.
"Aku mengantuk, ayo kita tidur," ajak Renata. Dia melepas tangannya dari mulut Kenan, lalu berbaring membelakanginya.
"Sayang," panggil Kenan.
Renata tak menyaut. Dia pura-pura menejamkan matanya. Kenan menyelimuti Renata kemudian berbaring memeluknya.
***
Pagi itu semua keluarga Alexsandro piknik di pantai. Atnan membawa Elina dan Agra. Begitupun Kenan dan Renata. Jingga dan Laura juga ikut bersama. Di tepi pantai mereka menikmati udara pantai yang sejuk dan hamparan ombak yang bolak balik menepi. Suara burung camar membuat suasana semakin menyenangkan. Indahnya warna biru air laut yang jernih membuat mata tak jenuh memandangnya.
Kenan dan Renata bermain air di tepi pantai. Mereka terlihat bahagia. Kenan terus menjaga Renata.
__ADS_1
"Sayang kau yakin bermain ombak? perutmu sudah besar," ucap Kenan.
"Iya, menyenangkan," jawab Renata.
"Nanti kau kedinginan dan lelah, kita istirahat di tepi pantai ya," ujar Kenan.
"Aku mau di sini," kata Renata.
"Ya sudah, aku akan menjagamu," ujar Kenan.
Di sisi lain Atnan dan Elina juga sedang bermain ombak di tepi pantai. Atnan membiarkan kaki kecil Agra terkena air laut.
"Mas Agra meringis," ujar Elina.
"Baru pertama kali Agra ke pantai, dia belum terbiasa, tapi lihat sebentar lagi dia akan senang bermain air," ujar Atnan.
"Coba duduk Mas, biar Agra basah," saran Elina.
"Iya sayang," jawab Atnan. Dia duduk memangku Agra. Tubuh kecil Agra mulai basah. Awalnya Agra terkejut tetapi tak lama tersenyum dan mengoceh saat tangannya bermain air.
"Tuh kan dia suka," ucap Atnan.
"Iya Mas, lucunya," kata Elina.
Kemarilah sayang," pinta Atnan.
Elina mengangguk. Dia duduk di samping Atnan. Membiarkan tubuhnya basah terkena ombak. Mereka bahagia bisa menghabiskan waktu bersama.
Sore harinya Atnan sekeluarga naik kapal pesiar. Mereka sengaja menyewa beberapa kamar di kapal pesiar untuk menginap dan makan malam. Laura berdiri di tepi kapal sambil melihat hamparan laut. Dia teringat anaknya.
"Bagas pasti senang kalau diajak ke sini," batin Laura.
Tiba-tiba Kenan muncul. Dia berdiri di samping Laura.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Kenan.
"Bagas, dia pasti senang diajak naik kapal," jawab Laura.
"Kalau begitu lain kali kita akan ajak Bagas naik kapal," ujar Kenan.
Laura tersenyum.
Mereka berdua terus mengobrol tentang Bagas, ternyata Renata melihat semua itu. Dia menghampiri keduanya.
"Kalian sedang apa?" tanya Renata.
Kenan dan Laura berbalik, mereka melihat Renata ada di depannya.
"Saya ke dalam dulu Tuan, Nyonya," ucap Laura.
"Kenapa harus pergi, bukankah akan menyenangkan mengobrol bertiga?" ujar Renata.
Kenan dan Laura jadi canggung. Mereka jadi tak enak pada Renata.
"Sayang kita istirahat di kamar ya, kau pasti lelah," ujar Kenan.
__ADS_1
"Yang lelah bukan tubuhku tapi hatiku," ucap Renata.