DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Pergi Mencari


__ADS_3

"Hallo siapa ini?" tanya Rafka.


"Papa aku anak Papa" ucap Biru.


"Anakku?" ucap Rafka.


"Iya Pa, Biru dan Jingga anak Papa" ucap Biru.


"Biru, Jingga, siapa nama ibu kalian?" tanya Rafka.


"Azura" ucap Biru.


"Anakku" ucap Rafka.


"Papa Biru, Jingga, kangen Papa" ucap Biru.


"Papa akan menemui kalian besok, sekarang tidurlah sayang, Biru, Jingga" ucap Rafka.


"Iya Papa" ucap Biru.


Biru langsung menutup telponnya setelah bicara dengan Rafka. Dia tersenyum lebar.


"Kakak gimana?" tanya Jingga.


"Besok kita ketemu Papa" ucap Biru.


"Asyik" ucap Jingga.


"Sekarang ayo kita tidur" ucap Biru.


"Oke" ucap Jingga.


Biru dan Jingga akhirnya tidur dengan pulas diranjang mereka. Mereka senang besok bisa bertemu ayahnya. Impiannya selama ini bertemu ayahnya akan segera terwujud.


Pagi harinya hari libur, Biru dan Jingga senang sekali. Hari ini mereka akan bertemu ayahnya. Biru dan Jingga sampai menyuruh neneknya masak enak. Dia juga menghias rumah untuk menyambut ayahnya. Kebetulan Azura hari itu lembur jadi tidak ada dirumah. Biru dan Jingga sudah selesai menyiapkan semuanya tinggal menunggu kedatangan ayahnya.


Pukul 1 siang, Biru dan Jinga terus menunggu. Tapi tak kunjung datang. Mereka masih tetap optimis walaupun lelah. Akhirnya mereka tidur disofa hingga sore hari. Pukul 4 sore, Biru dan Jingga bangun lalu sholat ashar, mereka berdoa agar ayahnya datang.


"Kak Papa belum datang, apa dia lupa?" tanya Jingga seusai sholat.


"Mungkin Papa sibuk" ucap Biru.


"Apa kita temui Papa saja" ucap Jingga.


"Benar juga" ucap Biru.


Biru dan Jingga membereskan semua keperluan mereka ke dalam ransel mereka. Celengan milik mereka juga dipecah. Uangnya diambil uangnya untuk ongkos. Biru dan Jingga menulis surat diletakkan diatas lemari kecil dekat ranjang. Mereka berdua keluar rumah saat neneknya sedang tidur.


"Kita pergi kemana Kak?" tanya Jingga yang masih belum tahu kemana mereka melangkah.


"Ke alamat di kartu nama Papa" ucap Biru menjelaskan.


"Iya" ucap Jingga setuju dengan ucapan Biru.

__ADS_1


Mereka berdua naik bus. Duduk dikursi tengah. Seorang kenet meminta ongkos pada mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Didik, kenet bus yang merasa aneh anak kecil duduk dibus tanpa orang tuanya.


"Mau kesini" ucap Biru menunjukkan kartu nama Rafka pada kenet bus.


"Alamat ini jauh, ada diluar kota. Kalian harus naik bus besar untuk pergi kesana" ucap Didik.


"Dimana ada bus besarnya?" tanya Biru.


"Diterminal" ucap Didik.


"Kami ingin ke terminal untuk naik bus besar" ucap Biru.


"Memang kenapa kalian ingin pergi ke alamat ini?" tanya Didik.


"Kami ingin bertemu ayah kami. Dari bayi kami belum pernah bertemu ayah. Kami rindu ingin bertemu dengannya" ucap Biru.


Kenet bus seketika teringat masa kecilnya saat dia juga seusia kedua anak itu. Waktu itu dia juga ingin bertemu ayahnya yang entah ada dimana. Dia pergi dari rumah mencari ayahnya tapi tak kunjung bertemu hingga dia malah kehilangan ibunya juga karena ibunya kecelakaan saat mencarinya.


"Apa kalian akan pergi berdua saja?" tanya Didik.


"Iya" ucap Biru dan Jingga.


"Kalau gitu paman antar kalian sampai bertemu ayah kalian" ucap Didik.


"Benarkah?" tanya Biru.


"Iya, tidak baik kalian pergi sendiri. Tempatnya jauh" ucap Didik.


Didik mengantar kedua anak kecil itu ke terminal. Dia naik bus besar bersama kedua anak kecil itu menuju luar kota.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Rafka berada diruang rawat inap bersama Freya dan Luna. Arian berbaring diranjang belum sadarkan diri. Arian keracunan makanan hingga dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Rafka yang mendengar kabar itu segera pulang. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Papanya.


"Mi, jangan menangis terus, Papi akan baik-baik saja" ucap Rafka coba menenangkan Freya.


"Mami takut terjadi sesuatu pada Papi hik hik hik...selama ini Papilah yang membuat hidup Mami jadi bahagia hik hik hik...." ucap Freya menangis tersedu-sedu.


"Mi, Papi hanya keracunan makanan, Insya Allah akan baik-baik saja" ucap Luna.


"Tapi Papimu belum sadar juga hik hik hik...." ucap Freya.


"Sabar ya Mi, Papi pasti akan segera sadar" ucap Rafka.


Rafka menemani Freya hingga hari esoknya. Pagi itu dia harus pergi ke perusahaan untuk meeting dadakan dengan klien. Rafka pamit pada Freya untuk pulang dulu.


"Mi, aku pulang dulu ya, ada meeting pagi ini dengan klien. Nanti sepulang meeting kesini lagi" ucap Rafka.


"Iya nak" ucap Freya.


"Nanti kalau Papi udah sadar kabarin ya Mi" ucap Rafka.

__ADS_1


"Oke" ucap Freya.


"Lun, kakak pulang dulu" ucap Rafka.


"Oke siap Bos" ucap Luna.


Rafka berjalan keluar dari rumah sakit. Dia pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu berangkat ke perusahaannya. Rafka masih memikirkan telpon dari anak kecil semalam. Hari ini seharusnya dia menemuinya. Tapi karena telpon dadakan dari Freya yang mengatakan Arian keracunan, Rafka terpaksa pulang. Dan sekarang ada meeting yang wajib dihadirinya sesuai kontrak kerjasama yang sudah disepakati.


"Nanti setelah semua selesai aku akan menemui anakku" ucap Rafka.


Mobil Rafka melaju ke perusahaannya. Dia turun dari mobil menuju ke dalam ruangan kerjanya untuk memeriksa semua berkas yang dibutuhkan dibantu sekretarisnya Rara. Lalu dia masuk ke ruang meeting bersama sekretarisnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Azura dan Ibu Dewi mencari keberadaan Biru dan Jingga. Mereka mencari sampai ke sekolah, lingkungan sekitar, dan jalan raya. Azura bertanya pada siapa saja yang lewat. Tapi tak satupun melihat anaknya. Azura menangis, dari kemarin anaknya belum ketemu.


"Hik...hik...hik..., dimana kalian nak?" ucap Azura yang terduduk ditepi jalan.


Ibu Dewi menghampiri Azura dan membantunya bangun.


"Azura ibu tahu kau sedih, tapi kita harus tetap tenang. Kalau tidak siapa yang akan mencari mereka" ucap Ibu Dewi.


"Bu kira-kira kemana mereka pergi hik hik hik" ucap Azura menangis.


"Semua ini salah Ibu, kelalaian ibu jadi kedua cucu ibu pergi dari rumah" ucap Ibu Dewi.


"Bu, ini bukan salah ibu. Tapi salahku yang tidak bisa melindungi mereka" ucap Azura.


"Sudahlah nak, kita tidak boleh saling menyalahkan. Lebih baik kita cari Biru dan Jingga" ucap Ibu Dewi.


Karena sudah berjam-jam belum juga menemukan Biru dan Jingga, Azura kembali ke rumah. Dia kembali mencari anaknya dirumahnya. Hingga dia masuk ke kamar anaknya lagi. Azura menemukan sepucuk surat dari Biru dan Jingga.


Untuk Mama


Mama, Biru dan Jingga pergi mencari Papa. Kami rindu Papa. Nanti kalau sudah bertemu Papa, Biru dan Jingga pasti pulang. Doain Biru dan Jingga supaya bisa bertemu Papa. Buru dan Jingga sayang Mama.


Azura langsung menangis membaca surat dari anaknya. Dia tahu kedua anaknya sangat merindukan Papanya. Azura segera menghapus air matanya. Dia mengambil tasnya lalu keluar dari kamar kedua anak kembarnya. Ibu Dewi yang menghampirinya yang sedang berjalan menuju pintu keluar rumah.


"Mau kemana nak?" tanya Ibu Dewi.


"Aku tahu kemana mereka pergi Bu" ucap Azura.


"Maksudmu?" tanya Ibu Dewi.


"Mereka akan menemui Papanya" ucap Azura.


"Kalau begitu susul mereka, Ibu akan disini kalau saja mereka kembali sebelum kau menemukannya" ucap Ibu Dewi.


"Iya Bu" ucap Azura.


"Assalamu'alaikum" ucap Azura.


"Wa'alaikumsallam" ucap Ibu Dewi.

__ADS_1


Azura keluar dari rumahnya. Dia naik taksi menuju bandara. Dia pergi untuk menemui Rafka. Dia tahu kedua anaknya pasti juga pergi kesana.


__ADS_2