DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Memburuk


__ADS_3

Gista dan Nathan pulang ke rumah. Mereka langsung masuk ke kamar. Baru mau membantu Nathan mengganti bajunya, Gista melihat tangan dan kaki Nathan bengkak. Dua memeriksa tangan dan kaki Nathan.


"Mas tangan dan kakimu bengkak" ucap Gista memberitahu Nathan. Dia terlihat mengkhawatirkan suaminya.


"Dari kemarin sudah mulai bengkak" ucap Nathan.


"Kalau gitu kita harus ke rumah sakit" ucap Gista.


"Tapi kau pasti lelah sayang, biarlah. Besok saja kita ke rumah sakit. Sekarang beristirahatlah" ucap Nathan.


"Tapi Mas, aku..." ucap Gista.


"Aku akan baik-baik saja" ucap Nathan menegaskan agar Gista tidak cemas.


Gista menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia coba untuk tidak khawatir. Dia tahu ginjal suaminya bermasalah. Sudah beberapa bulan ini cuci darah bolak balik ke rumah sakit. Selain tangan dan kaki Nathan yang bengkak,nafasnya juga sering sesak.


"Mas kau harus sembuh, kau harus menemaniku lahiran" ucap Gista.


"Iya sayang, aku akan bersemangat untuk sembuh" ucap Nathan.


Gista membaringkan kepalanya dipangkuan Nathan. Dia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Baru saja hidupnya bahagia. Haruskah dia kehilangan Nathan apalagi dia sedang mengandung buah hatinya bersama Nathan.


Esok harinya saat Gista bangun, Nathan sedang sesak nafas. Gista langsung memanggil sekuriti untuk membantunya membawa Nathan ke dalam mobil. Gista mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Nathan akhirnya ditangani Dokter. Gista menunggu diluar ruangan UGD. Dia terus berdoa agar Nathan baik-baik saja. Tak lama Nathan dibawa naik ke ruangan cuci darah. Gista menunggu Nathan cuci darah. Lalu dia keluar untuk bicara dengan Dokter yang menangani Nathan.


"Dok bagaimana keadaan suami saya?" tanya Gista.


"Ginjal suami ibu sudah tidak baik, cuci darah hanya untuk menggantikan fungsi ginjal bukan untuk menyembuhkannya" ucap Dokter.


"Lalu bagaimana caranya supaya suami saya sembuh?" tanya Gista.


"Donor ginjal" ucap Dokter.


"Donor ginjal?" ucap Gista terkejut.


"Ginjal suami ibu sudah tidak berfungsi dengan baik jadi kita harus menggantinya dengan ginjal yang lebih baik" ucap Dokter.


"Jadi suami saya memerlukan pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya?" tanya Gista.

__ADS_1


"Iya, seperti itu"ucap Dokter.


Setelah bicara dengan Dokter, Gista duduk diruang tunggu. Dia memikirkan kondisi Nathan.


"Kalau aku tidak sedang hamil, tentunya akulah yang akan mendonorkan ginjalku" ucap Gista.


"Tapi Dokter tadi bilang, tidak semua orang bisa mendonorkan ginjalnya untuk Nathan, ada beberapa hal yang harus dipenuhi" ucap Gista.


Gista terdiam diruangan itu. Dia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan donor ginjal yang sesuai untuk Nathan. Kondisi Nathan juga semakin memprihatinkan. Cuci darah bukan untuk menyembuhkan hanya pengganti fungsi ginjal. Gista harus mendapatkan donor ginjal segera agar Nathan bisa diselamatkan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Radhitya membawa Manda ke sebuah villa. Dia sengaja memilih villa bukan hotel. Biar suasanyanya damai dan tenang. Udara divilla juga lebih sejuk dan pemandangannya juga indah. Malam itu Radhitya duduk diranjang menunggu Manda selesai Mandi. Radhitya gugup, meskipun playboy tapi dia belum pernah menghabiskan malam dengan wanita manapun.


Manda keluar dari toilet. Dia nengenakan handuk. Radhitya terkejut melihat Manda cantik dan tubuhnya begitu indah. Dia sampai melongo tak berkedip.


"Radit kenapa?" tanya Manda.


"Apa udah boleh aku melihat" ucap Radhitya.


"Boleh dong, kitakan sudah mahrom" ucap Manda.


Radhitya langsung menerkam Manda. Dia tak tahan lagi. Jurus keplayboyannya harus dipraktekkan. Tanpa aba-aba, hajar tanpa sisa. Biarin toh sudah halal. Cicak, nyamuk dan kecoak jangan iri. Ini malam pertama sepasang sejoli wajar kalau berisik dan dur dar der. Sedikit gempa dan getaran diranjang sudah biasa mewarnai dunia cinta tanpa batas. Kain berterbangan tak beraturan udah biasa ditulis didalam novel. Maklum meramaikan suasana seakan beneran terjadi malam indah itu.


Baru beberapa ronde keliling kampung, Manda udah ngorok. Pasukan kodok dikerahkan padahal Radithya masih mau ronda malam.


"Yah belum sepuluh kali kenapa dia tepar ya" ucap Radhitya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dua bulan kemudian


Kondisi Nathan semakin memburuk. Dia terpaksa dirawat dirumah sakit. Gista duduk dikursi atap mini marketnya sambil memikirkan Nathan. Dia melihat ke arah perkotaan yang terlihat dari atap gedung mini market itu. Air matanya tak terasa menetes dipipinya. Gista hanya bisa menyimpan kesedihannya sendirian. Dia hanya punya ibunya yang sudah tua, tak mungkin dia menceritakan hal ini pada ibunya.


"Ya Allah sembuhkanlah suamiku, sehatkan dia kembali seperti semula. Berilah aku kesempatan untuk hidup bersamanya. Agar kami bisa membesarkan anak-anak kami bersama-sama" ucap Gista memanjatkan doa.


Gista menghapus air mata yang jatuh dipipinya.

__ADS_1


"Aku belum mendapatkan pendonor ginjal untuk Nathan, ada beberapa orang tapi tidak lolos tes pemeriksaan" ucap Gista.


Seseorang menghampiri Gista yang sedang duduk diatap gedung dan duduk disampingnya.


"Kenapa kau sendirian disini?" tanya Pasha.


"Aku hanya sedang menenangkan diri" ucap Gista.


"Menenangkan diri dari apa?" tanya Pasha.


Gista terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan masalah keluarganya pada orang lain. Lagi pula dia baru mengenal Pasha, rasanya tak pantas menceritakan masalah keluarganya pada Pasha.


"Hik hik hik" Gista menangis.


Gista tak mampu membendung kesedihannya. Dia tak bisa membayangkan akan kehilangan Nathan disaat hamil. Gimana dengan nasib anaknya nanti. Bukan soal kebutuhan pokok, tapi anaknya butuh kasih sayang ayahnya. Gista tak mampu hidup sendiri tanpa suaminya. Dia ingin hidup bersama Nathan dan membesarkan kedua anaknya.


"Menangislah, dengan begitu hatimu jauh lebih lega" ucap Pasha.


"Hik hik hik" Gista terus menangis.


"Dulu saat aku kecil, seseorang bilang padaku. Ketika kau sedih menangislah. Jangan malu untuk menangis jika hatimu tak mampu membendung kesedihan lagi. Lagi pula dengan menangis bukan berarti kita lemah. Tapi menangis membuat hatimu lega" ucap Pasha.


"Hik hik hik" Gista terus menangis.


Wajah Nathan terlintas dipikiran Gista. Dia ingin suaminya sembuh, sehat kembali dan bisa berkumpul kembali menghabiskan hari-hari bersamanya.


"Aku pernah kehilangan seseorang dalam hidupku karena aku memilih pergi. Tapi saat aku kembali dia sudah jauh teramat jauh dari jangkauanku. Aku hanya bisa menangis dan menyesal, dengan menangis aku sadar, air mata memang tak bisa membuatnya kembali tapi bisa membuat hatiku yang penat ini lebih ringan" ucap Pasha.


Gista mendengarkan ucapan Pasha. Dia memang merasa lebih lega setelah menangis.


"Serahkan semuanya pada Allah SWT, karena hanya Dia yang Maha memiliki semuanya. Aku yakin kau terus berusaha dan berdoa untuk suamimukan" ucap Pasha.


"Iya, aku selalu berusaha dan berdoa untuk suamiku" ucap Gista.


"Suamimu membutuhkan donor ginjalkan?" tanya Pasha.


Gista terkejut, dia langsung menengok ke arah Pasha dan menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2