DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generatin 3: Bertemu Juga


__ADS_3

Elina tidak menyangka lelaki yang duduk disofa adalah suaminya sendiri. Dia berjalan secepatnya menghampiri suaminya. Atnan berdiri dan membuka kedua tangannya. Elina langsung memeluknya.


"Mas aku kangen," ucap Elina.


"Aku juga kangen sayang," ucap Atnan.


Atnan melepas pelukannya, mencium Elina. Rasa rindunya mulai terobati. Dia sadar betul Elina sangat berharga dihidupnya. Atnan membopong Elina ke ranjang. Dia membaringkan Elina.


"Nona layani aku, nanti ku bayar sebanyak mungkin," canda Atnan pada Elina.


"Iya Tuan, aku akan melayanimu," jawab Elina.


Atnan tersenyum pada Elina. Bidadari cantiknya kini ada didepan matanya. Dia bisa sepuasnya memandangnya seperti hari sebelumnya.


Mereka berdua merajut cinta dikamar hotel itu. Untunglah klien yang harus dilayani itu Atnan, dengan senang hati Elina melayaninya, justru dia sangat menginginkan kebersamaan bersama Atnan.


Kedua pasangan itu tak memporsir diri dikarenakan kehamilan Elina. Atnan berbaring memeluk Elina.


"Aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi sayang," ucap Atnan.


"Aku juga Mas, apalagi aku sedang mengandung. Rasanya ingin selalu dekat," ucap Elina.


Cup


Ciuman dipipi Elina sebagai ungkapan rasa sayang Atnan pada Elina.


"Mas gimana caranya kau ada disini?" tanya Elina.


"Aku dapat laporan dari orang bayaranku kalau Pak Edi dan Eros menjualmu ke bilik merah, itu sebabnya aku mau jadi klien pertamamu apapun caranya," ucap Atnan.


Elina mendengarkan ucapan Atnan.


"Aku benar-benar marah ada kedua orang yang menculikmu, kalau aku tekat. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri," ucap Atnan.


"Mas, aku tadi benar-benar takut, tapi ternyata Allah mendengar doaku. Aku bertemu denganmu lagi diwaktu yang tepat," ujar Elina.


Atnan mengelus perut Elina. Dia mengkhawatirkan bayi yang dikandung istrinya.


"Dede bayi baik-baik sajakan sayang?" tanya Atnan.


"Kemarin sempat terjatuh dan sakit, tapi untungnya tidak apa-apa," kata Elina.


"Kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu," ucap Atnan.


"Iya Mas," jawab Elina.


"Diluar ada anak buah Mami Reni Mas, gimana?" tanya Elina.


Atnan memeluk erat Elina. Dia berusaha memberi rasa aman untuk istrinya.


"Mereka sudah diciduk polisi sayang, tidak usah dipikirkan," ucap Atnan.


"Makasih Mas," ucap Elina.


"Iya sayang," ucap Atnan.


Elina sangat senang. Hari dimana dia ketakutan justru bertemu dengan suaminya. Dia tidak bisa membayangkan kalau itu bukan Atnan.


***********


Kenan terbangun, dia menatap sekelilingnya. Kamar dengan ukuran yang kecil. Dia tidur bersama tumpukan bocah-bocah diatasnya. Ada kaki dan tangan ponakan Renata didadanya, kepalanya, perutnya, pahanya bahkan dihampir seluruh tubuhnya.


"Ya ampun, pantes aja mimpi ketiban pohon durian. Ternyata aku begini."

__ADS_1


"Bau terasi lagi kakinya." Kenan berusaha menyingkirkan kaki salah satu ponakan Renata.


"Berasa jadi emak kucing nyusuin kesepuluh anaknya," ucap Kenan.


Kenan keluar dari kerumunan ponakan Renata yang tidur nimrung padanya. Dia berjalan keluar kamar menuju toilet. Pintu toilet terbuka, tak sengaja matanya tercemar melihat Renata tanpa sehelai benang. Auto bengong total. Selama mengembara dalam kehidupan fana ini tak pernah Kenan melihat keindahan yang sedap dipandang mata. Dia pernah memiliki pacar tapi berakhir tragis ditinggal nikah paksa sama ortu sang gadis. Kenan patah hati berkali-kali. Sampai memutuskan jomblo untuk beberapa tahun kedepan. Tapi yang didepan mata ini begitu menggoda iman. Renata tak sengaja berbalik dan melihat Kenan udah ngiler dari tadi.


"Aaaaa...," teriak Renata.


"Kau dari kapan disitu?" tanya Renata.


"Dari tadi, makanya mataku udah tercemar sendari tadi," ujar Kenan.


Renata langsung mengambil handuk dan menutup tubuhnya.


"Kau pasti tadi sengajakan mengintipku," ucap Renata.


"Untuk apa mengintip, kau sendiri yang memperlihatkan," ucap Kenan.


"Cepet tutup matamu," perintah Renata.


"Udah ngeliat ngapain ditutup, toh bukannya aku boleh melihatnya," ucap Kenan.


Renata menghampiri Kenan dan menunjuk padanya.


"Kita itu nikah karena terpaksa jangan mikir yang aneh-aneh," ucap Renata.


"Siapa juga yang mikir aneh, kau sendiri yang membuatku mikir aneh," ucap Kenan.


Kenan melihat Renata dari atas sampai bawah.


"Hei kau ngapain? pasti otakmu mesumkan?" tanya Renata.


"Tuh tahu, gara-gara tadi otakku jadi mesum," ucap Kenan.


"Kau mau?" tanya Renata.


"Memangnya boleh?" tanya balik Kenan.


"Ikut aku, kita tancap langsung," ucap Renata.


"Boleh, gak sabar nih," ucap Kenan.


Ini kali pertama Kenan menginginkan wanita. Meskipun kenyataan dia tahu si pencuri dan pelit ini berbahaya. Kenan mengikuti Renata masuk ke kamar. Renata mendorong Kenan ke ranjang.


Bruuug...


"Kau benar-benar mau memberiku?" tanya Kenan.


"Bukankah kita suami istri?" tanya Renata.


"Iya sih, tapi ini tidak terlalu dini? kita belum saling mengenal. Kau takkan menyesal?" tanya Kenan.


"Untuk apa menyesal, kau kaya dan tampan," ucap Renata.


Beberapa menit kemudian.


"Renata kau menipuku," teriak Kenan yang diikat tangan dan kakinya.


"Makanya jangan mesum, lagian siapa juga yang mau denganmu," ucap Renata.


"Renata kau ini tega sekali, aku suamimu," ucap Kenan.


"Suami? kita masih penjajakan ya, secepatnya aku akan minta cerai," ucap Renata.

__ADS_1


Kenan pura-pura pingsan. Melihat itu Renata tak tega biar bagaimanapun Kenan sudah menghasilkan banyak uang untuknya. Tanpa berpikir panjang dia menghampiri Kenan.


"Hei bangun...bangun...," panggil Renata.


Renata melepas tali ikatannya. Dia khawatir pada Kenan yang terlihat lemas. Beberapa kali coba membangunkannya tapi belum sadar juga.


Kenan terbangun dan menjatuhkan tubuh Renata diranjang.


Bruuuug....


Kenan mencengram kedua tangan Renata dengan kedua tangannya.


"Aku akan menjinakkanmu," ucap Kenan.


"Lepas!" Renata berusaha lepas dari tangan Kenan.


"Tidak akan, kau harus jinak, biar tak mengigit," ucap Kenan.


"Aku kudisan, panuan, ambien, bisulan, mata ikan dan penyakit kulit lainnya," ucap Renata.


"Gak mempan, kau itu licik dan pelit mana aku percaya," ucap Kenan.


Pruuuut....


Renata buang kentut andalannya biar Kenan menjauh dari tubuhnya.


"Wangi juga kentutmu," ucap Kenan.


"Kau gila, mana ada kentut yang wangi," ucap Renata.


Kenan tak membalas ucapan Renata. Dia fokus mendekati wajah Renata dan memberi ciuman pertamanya. Mereka hanyut dalam suasananya romantis dadakan. Tanpa sadar mulai merajut cinta. Keduanya dimabuk kemesraan yang tiba-tiba datang. Baru mau ke tahap lebih dalam.


"Tante...tante...lapar," panggil salah satu ponakan Renata dari luar kamar.


Mereka langsung menghentikan kemesraan itu padahal baru permulaan. Kenan juga penasaran banget.


"Iya, tante segera masak nih," ucap Renata.


Renata beranjak dari ranjang tapi Kenan menariknya lengannya.


"Nanti dilanjut ya," ucap Kenan.


"Jangan ngarep, aku gak sudi tuh sama kamu," ucap Renata.


"Tadi kamu keenak..." Mulut Kenan langsung ditutup tangan Renata.


"Cabul, diamlah sebentar! Ponakanku masih kecil-kecil jangan membuat mereka berpikir aneh" ucap Renata.


"Oke, asal kau mau ku jinakkan, aku tidak akan bicara yang aneh-aneh," ucap Kenan.


Renata mengacungkan bogem pada Kenan. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar itu.


Kenan hanya tersenyum dan kembali tidur.


Seperti biasa Renata harus masak untuk ponakannya. Anak-anak yang hidup bersamanya bukan ponakan aslinya. Mereka semua anak jalanan yang dirawat Renata. Hanya saja kebutuhan sehari-hari tak mencukupi dari hasil kerjanya. Itu sebabnya dia mencuri dari Kenan. Tapi dia sadar itu tidak benar.


Ketika Renata sedang memasak, ponakannya memanggilnya.


"Tante ada orang diluar, katanya mencari tante,"


"Siapa?" tanya Renata.


"Orangnya menakutkan,"

__ADS_1


__ADS_2