
Tuti kembali ke alun-alun itu dan tak menemukan Elina. Lalu dia menanyakan pada semua orang yang ditemuinya tapi juga tak menemukannya. Tuti berusaha mencari disekitar alun-alun tapi tak menemukan Elina juga, akhirnya Tuti berpikir untuk pulang dan menelpon Atnan.
Tuti pulang kerumah dan memberitahu Rafka dan Azura tentang hilangnya Elina saat di alun-alun. Lalu Rafka menelpon Atnan.
"Hallo," ucap Rafka.
"Hallo Pa," ucap Atnan.
"Elina hilang nak"ucap Rafka.
"Apa?.....Elina hilang? Bagaimana ceritanya sampai Elina hilang Pa?" tanya Atnan.
"Tadi dia jalan-jalan di alun-alun dengan Tuti, kemudian Tuti membeli air mineral untuknya, saat kembali Elina sudah tidak ada"ucap Rafka.
"Baik Pa, aku akan kembali kesana, sekarang tolong laporkan ke kantor polisi dulu Pa"ucap Atnan.
"Oke, hati-hati dijalan nak"ucap Rafka.
"Iya Pa," ucap Atnan.
Mendengar kabar hilangnya Elina Atnan langsung bergegas untuk kembali. Dia juga meminta tolong pada Yama untuk mencari Elina. Atnan khawatir terjadi sesuatu pada Elina.
********
Elina ditahan dirumah dipinggiran kota, tempat tinggal Pak Edi dan Eros. Dia duduk dikurung ditempat Davina saat dikurung dulu. Elina berdiri diruangan itu. Pak Edi dan Eros mulai bicara pada Elina.
"Nona dimana gadis gila itu berada?" tanya Pak Edi.
"Aku tidak akan memberitahukan pada kalian"ucap Elina.
"Begitu ya, kalau begitu kau lebih memilih mati ya"ucap Eros.
"Kau mau diberi pelajaran ya"ucap Pak Edi.
Pak Edi mendorong tubuh Elina sampai terjatuh dilantai.
"Aw......."ucap Elina kesakitan.
"Malam ini kuberi waktu untukmu berpikir jadi beri tahu kami atau kau mau mati"ucap Eros.
Pak Edi dan Eros meninggalkan Elina dikamar itu. Elina duduk dikamar itu dengan menahan sakit yang dirasakan diperutnya. Hari sudah malam,sakit perut Elina semakin bertambah hebat. Elina sampai menjerit kesakitan.
"Aw....sakit.....Atnan"ucap Elina.
Setelah tengah malam Elina terus menerus merasakan sakit perut yang semakin hebat.
"Apa aku akan keguguran,Atnan tolong aku hik...hik..."ucap Elina sambil menangis.
Elina tidur dengan posisi duduk sambil memegang perutnya. Pak Edi dan Eros masuk ke dalam ruangan itu.Mereka melihat Elina yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Pak wanita ini cantik juga, apa kita jual saja dibilik merah, pasti dapat uang banyak,terus kita pergi keluar kota"ucap Eros.
"Betul, daripada kita mencari Davina yang sudah tidak waras itu lebih baik kita jual wanita cantik pasti harganya mahal"ucap Pak Edi.
Pak Edi dan Eros membangunkan Elina. Mereka menarik tangan Elina untuk membawanya keluar.
Elina berusaha melepas tangan mereka dan berteriak.
"Tolong...tolong...lepaskan aku!" ucap Elina.
"Kau harus membayar ganti rugi kami," ucap Pak Edi dan Eros.
"Kalian jahat," ucap Elina.
Pak Edi dan Eros membawa Elina ke dalam mobil yang disewa mereka. Mobil itu melaju meninggalkan tempat itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Atnan dan Yama masuk ke rumah dipinggiran kota itu. Rumah yang ditinggali Pak Edi dan Eros. Atnan langsung lari ke dalam mencari Elina. Atnan dan Yama mengecek setiap ruangan sampai masuk ke sebuah kamar, Elina tidak ada dikamar itu hanya saja ada kalung miliknya yang tertinggal.
"Ini kalung milik Elina," ucap Atnan.
Yama datang menghampiri Atnan yang sedang memegang kalung milik Elina.
"Atnan aku sudah mencari keseluruh ruangan, Elina tak ada," ucap Yama.
Yama menepuk bahu Atnan yang terlihat bersedih.
"Atnan sabar ya, aku tahu kau pasti sangat sedih, kota pasti akan menemukan Elina," ucap Yama.
"Aku merasa sangat bersalah pada Elina, begini rasanya mengkhawatirkan orang yang ku cintai, Elina," ucap Atnan.
"Atnan, kau harus menemukan Elina, dia hidupmu yang baru," ucap Yama.
"Pasti, aku harus menemukan Elina," ucap Atnan.
Hancur sudah hati Atnan saat mengetahui Elina hilang dan belum ditemukan. Bahkan dia belum sempat mengatakan kalau dia mencintainya.
"Elina maafkan aku tidak berada disisimu"ucap Atnan.
"Atnan kita harus lapor polisi agar mereka mencari pelaku itu dan menemukan keberadaan Elina"ucap Yama.
"Iya, kau benar Yama"ucap Atnan.
Akhirnya mereka keluar dari rumah itu. Dan melaporkan penculikan itu ke polisi. Setelah larut malam mencari Elina tak kunjung ditemukan, Atnan kembali ke rumah besarnya. Dia terlihat murung, jalannya pelan, wajahnya menunduk. Seperti tak ada tenaga dan semangat. Atnan terus memikirkan Elina. Rafka dan Azura menghampirinya.
"Atnan gimana? Apa ada titik terang atau petunjuk?" Tanya Rafka.
"Penculiknya sudah membawa pergi Elina Pa," ucap Atnan.
__ADS_1
"Ya Allah, Elina sedang hamil lagi," ucap Azura sambil memegang dadanya.
"Semua ini salahku, seharusnya aku menjaga Elina," ucap Atnan.
Rafka merangkul Atnan dan menyemangatinya.
"Nak, EIina pasti secepatnya kita temukan. Lebih baik kita berusaha dan berdoa dari pada menyesali semuanya," ucap Rafka.
"Iya Pa, aku akan menyuruh orang bayaran untuk mencari Elina," ucap Atnan.
"Iya, itu lebih baik," ucap Rafka.
Setelah bicara dengan orangtuangya Atnan menelpon orang bayaran untuk mencari Elina. Dia akan melakukan apapun agar bisa menemukan Elina. Atnan melihat foto Elina dikanarnya.
"Elina maafkan sikapku selama ini padamu, aku baru menyadari betapa berharganya dirimu untukku, aku merindukanmu Elina. Berilah kesempatan untukku menebus semua kesalahanku. Aku ingin bersamamu lagi Elina," ucap Atnan.
Atnan pergi ke toilet untuk wudhu, dia sholat malam dan berdoa.
"Ya Allah ampunilah hamba yang telah menyia-nyiakan istri yang baik dan sholehah, izinkanlah hamba bertemu dengannya lagi. Hamba ingin menebus semua kesalahan yang sudah hamba perbuat padanya, pertemukan kami kembali, amin."
Atnan ingin segera bertemu Elina, mengatakan cinta padanya dan menghabiskan banyak waktu bersamanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Gista dan Randi pergi ke butik. Gista berbincang dengan pelayan butik sedangkan Randi duduk disofa sambil menunggu ibunya. Dia bosan lalu berjalan melihat baju laki-laki dibutik itu. Tak sengaja bertemu Jingga.
"Oh kau ada disini, ngapain?" Tanya Jingga.
"Bukan urusanmu, hakku mau kemanapun," ucap Randi.
"Aku melarangmu masuk daerah kekuasaanku ya," ucap Jingga.
"Hei, ini butik tempat umum siapapun boleh kesini," ucap Randi.
"Kecuali kamu, keluar!" ucap Jingga.
Randi hanya diam. Dia mengacuhkan Jingga yang sedang marah-marah padanya.
"Capek juga ya bawel dari tadi gak didenger," ucap Jingga.
"Tuh tau bawel, ngerusak suasana nyaman dibutik ini aja," ucap Randi.
"Ini butikku ya, mau aku bawel, ngoceh ataupun tutup butik, itu hakku," ucap Jingga.
"Baru punya butik aja udah belagu," ucap Randi.
"Nyebelin," ucap Jingga.
Jingga berjalan menjauh tapi kakinya terpeleset gaun didepannya hingga terjatuh ke belakang tapi tubuhnya ditangkap Randi. Jingga terkejut saat melihat Randi menangkapnya.
__ADS_1